Pendidikan

Koster Ajak Generasi Z Hidupkan Semangat Marhaenisme di Era Digital

Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk menghidupkan kembali semangat Marhaenisme sebagai landasan berpikir kritis, berkeadilan, dan berpihak kepada rakyat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri bedah buku karya Rocky Gerung berjudul Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z yang digelar di Auditorium Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, Selasa (21/7).

Kegiatan yang dihadiri ratusan mahasiswa itu menghadirkan Rocky Gerung sebagai akademisi sekaligus penulis buku serta Dr. Airlangga Pribadi Kusman sebagai akademisi dan penulis buku sebagai narasumber.

Diskusi berlangsung dinamis dengan mengangkat relevansi nilai-nilai Marhaenisme dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi Generasi Z di era digital.

Dalam sambutannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa bedah buku tersebut bukan sekadar agenda akademik, melainkan ruang intelektual untuk mencari makna atas relevansi nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

“Ini adalah forum pencarian makna. Sebuah upaya kolektif untuk menemukan benang merah antara masa lalu yang kaya dengan pengalaman perjuangan dan masa depan yang penuh dengan berbagai kemungkinan baru,” ujar Koster.

Menurutnya, Marhaenisme lahir dari kegelisahan Bung Karno terhadap ketimpangan sosial dan berkembang sebagai ideologi yang berpihak kepada rakyat.

Melalui buku karya Rocky Gerung tersebut, nilai-nilai Marhaenisme diajak untuk dimaknai kembali agar tetap relevan bagi Generasi Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.

Gubernur Koster juga menolak anggapan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang apatis dan individualistis.

Menurutnya, berbagai tantangan global, mulai dari pandemi, krisis ekonomi, perubahan iklim hingga derasnya arus informasi justru mendorong banyak anak muda semakin peduli terhadap isu keadilan sosial, kesetaraan, dan masa depan bangsa.

“Kehadiran mahasiswa dalam forum bedah buku seperti ini merupakan bukti bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk berpikir, membaca, berdiskusi, dan mencari jawaban atas berbagai persoalan kebangsaan,” katanya.

Ia menegaskan, forum akademik harus menjadi ruang yang sehat untuk bertukar gagasan, menguji argumentasi, dan membangun tradisi intelektual yang menghargai perbedaan pandangan sebagai bagian dari proses demokrasi.

Lebih lanjut, Koster menjelaskan bahwa arah pembangunan Bali tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan karakter, budaya, moralitas, dan harmoni kehidupan masyarakat.

Prinsip tersebut menjadi bagian dari visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.

Menurutnya, nilai-nilai yang berkembang dalam forum bedah buku tersebut memiliki keterkaitan erat dengan implementasi Sad Kerthi. Budaya membaca dan berpikir kritis merupakan bagian dari Atma Kerthi sebagai upaya menyucikan pikiran dan jiwa.

Kepedulian terhadap sesama mencerminkan implementasi Jana Kerthi, sedangkan komitmen menjaga keseimbangan kehidupan dan lingkungan merupakan perwujudan Jagat Kerthi.

Gubernur Koster menegaskan Bali membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama yang mampu merancang, membangun, dan menjaga masa depan Pulau Dewata.

Namun demikian, keterlibatan generasi muda harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas Bali.

“Kearifan lokal Bali bukan berarti menolak modernitas. Justru Bali harus mampu menyerap hal-hal baik dari luar tanpa kehilangan jati dirinya. Nilai-nilai seperti Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan Menyama Braya harus tetap menjadi fondasi dalam membangun masa depan Bali,” tegasnya.

Suasana akademik dalam kegiatan tersebut juga diperkaya dengan penampilan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, yang membacakan puisi berjudul “Agustus” karya Yudhistira Massardi. Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari para peserta dan menambah nuansa kebudayaan dalam rangkaian acara.

Pada kesempatan itu, Gubernur Koster juga menyampaikan tiga pesan kepada mahasiswa.

Pertama, menjadikan membaca sebagai budaya yang tidak dapat ditinggalkan di tengah derasnya arus informasi digital.

Kedua, membangun tradisi diskusi yang sehat dengan menghormati perbedaan pendapat.

Ketiga, mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata sehingga nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada masyarakat menjadi pedoman dalam berkarya maupun memimpin di masa depan.

Di akhir sambutannya, Gubernur Koster menyampaikan apresiasi kepada Rocky Gerung atas kontribusinya melalui buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z yang dinilai mampu menghidupkan kembali diskursus kebangsaan di kalangan generasi muda.

Apresiasi juga diberikan kepada Universitas Mahasaraswati Denpasar yang terus menghadirkan ruang akademik sebagai wadah lahirnya pemikiran kritis, dialog yang sehat, serta pembentukan karakter mahasiswa.

Gubernur berharap kegiatan bedah buku tersebut menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan budaya literasi, memperkuat tradisi intelektual, serta berkontribusi nyata dalam mewujudkan Bali yang maju, berdaya saing, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya serta kearifan lokal. (Gate 13/Foto: Ist./Diskominfotik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.