Didukung Kedubes Kanada, Komunitas Rumah Cinwa-Salihara Gelar Festival Wayang Potehi

Jakarta |
Komunitas Rumah Cinta Wayang (Cinwa) berkolaborasi dengan Komunitas Salihara serta didukung oleh Kedutaan Besar Kanada di Indonesia menggelar acara Festival Wayang Potehi, di Galeri Komunitas Salihara Arts Center, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (1/2).

Pendiri Rumah Cinwa Dwi Woro Mastuti kepada awak media mengemukakan, bahwa bangsa Indonesia harus bangga karena para leluhur telah mewariskan wayang yang diakui oleh dunia.

“Potehi adalah bagian dari bentuk wayang yang menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi bangsa untuk melestarikannya,” ujar Dwi yang juga menjadi moderator diskusi.

Menurutnya, pementasan Wayang Potehi yang berjudul “Sun Go Kong Melawan Putri Kipas” diawal pembukaan festival memberikan pesan moral kepada penonton yang hadir hari itu.

“Pesannya adalah dalam setiap perjuangan dan perbuatan mengedepankan nilai kejujuran, kemanfaatan. Tidak mudah menyerah untuk berbuat baik, peduli pada lingkungan, dan terus menjaga semangat keimanan,” tutur Dwi Woro, yang juga aktif sebagai Dewan Pembina di organisasi Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI).

Diungkapkan oleh Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia itu, saat pertunjukan berlangsung penonton sangat menikmati tanpa merasa digurui oleh sang Dalang.

“Mereka terbawa suasana adegan Wayang Potehi yang dilakonkan oleh Sang Dalang. Ada terlihat ketegangan, tertawa, dan goyang badan sebagian penonton mendengar iringan musik yang dimainkan,” jelas Pendiri Rumah Cinwa itu.

Dwi juga menjelaskan, usai pementasan wayang acara dilanjutkan dengan diskusi bertema “Dibalik Layar Potehi” dengan menampilkan narasumber yang berkompeten dan menjiwai Wayang Potehi, yaitu Sukar Mudjiono, serta narasumber lainnya dari utusan Kedutaan Besar Kanada yang juga merupakan peneliti Wayang Potehi, Josh Stenberg.

Sukar Mudjiono, sambung Dwi, mulai mempelajari wayang Potehi semenjak di bangku SD, yang diawali dengan belajar musiknya, baru kemudian menguasai cerita dan akhirnya menjadi Dalang Wayang Potehi tersebut.

Dijelaskan juga oleh Dwi, Komunitas Cinwa dalam rangka melestarikan Wayang Potehi kerap rutin mengadakan kegiatan belajar bersama, mulai dari tingkat anak dan dewasa.

“Untuk anak-anak diadakan lomba lukis wayang. Silahkan bagi penonton yang ingin berperan aktif bersama bisa datang langsung disanggar Komunitas Cinwa di Taman Kaldera Setu Jatijajar Depok setiap Minggu ke 4,” ungkap Dwi Woro saat menutup sesi pertama diskusi.

Sementara dikesempatan yang sama, Sukar Mujiono menyampaikan bahwa Dalang Potehi sendiri saat ini jumlahnya belum banyak yang siap tampil di Indonesia ini. “Kurang lebih hanya ada 10 orang,” tukasnya singkat.

Wayang Potehi merupakan seni wayang boneka yang dibawa oleh imigran Fujian dari Selatan Tiongkok pada abad 16.

Wayang yang terbuat dari bahan kain berbentuk kantong dan dimainkan dengan menggunakan lima jari tersebut awalnya hanya menampilkan kisah cerita yang berasal dari Tiongkok.

Namun seiring perjalanan waktu, pertunjukkan seni wayang tersebut turut membawakan kisah khazanah budaya nusantara dan mulai marak digelar sejak era reformasi pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Acara dilanjutkan dengan sesi kedua diskusi Potehi bertema “Budaya Tionghoa Peranakan: Transformasi Setelah Reformasi” dengan narasumber Didi Kwartanada dan Udaya Halim.

Terakhir, acara festival ditutup dengan pementasan Wayang Potehi berjudul “Damarwulan Satria Majapahit” oleh Dalang Rahmadi Fajar Himawan dan Wahyu Panuji.

Berita: Red | Foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: