Wakatobi Belajar Tata Kelola Pariwisata dan Produk Lokal dari Bali
Denpasar – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menjadikan Bali sebagai salah satu rujukan dalam mengembangkan pariwisata sekaligus mengangkat potensi produk lokal untuk memperkuat perekonomian masyarakat.
Ketertarikan tersebut disampaikan Bupati Wakatobi Haliana saat bertemu Gubernur Bali Wayan Koster di Rumah Jabatan Jaya Sabha, Denpasar, Rabu (26/8) siang.
Dalam pertemuan tersebut, Koster memaparkan sejumlah kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dalam mengembangkan produk lokal, salah satunya tata kelola arak Bali. Menurut Koster, produk lokal tidak semestinya dilarang, melainkan perlu ditata dan dikelola secara baik sesuai ketentuan yang berlaku.
“Jangan dilarang, tapi kita atur,” tegas Koster.
Koster menjelaskan, produksi arak Bali saat ini terus berkembang dan mampu bersaing dengan produk minuman beralkohol kelas dunia. Pemprov Bali memastikan produksi arak dapat dilakukan secara legal dan aman sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.
Namun, legalitas tersebut bukan berarti arak Bali dapat diperjualbelikan secara bebas. Tata kelola tetap diberlakukan, mulai dari perizinan, pengemasan dan pelabelan, hingga distribusi melalui koperasi maupun distributor resmi.
“Kita tidak memberikan izin untuk korporasi besar. Kita fasilitasi UMKM lokal Bali untuk mengambil bagian,” ujar Koster.
Kebijakan tersebut sejalan dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Regulasi tersebut menjadi dasar dalam memberikan perlindungan sekaligus mendorong pengembangan produk lokal seperti arak, brem, dan tuak.
Menurut Koster, dampak kebijakan tersebut antara lain terlihat dari penjualan arak Bali di gerai kedatangan maupun keberangkatan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Arak Bali disebut menjadi salah satu produk dengan tingkat penjualan yang tinggi dibandingkan produk lainnya.
Selain arak, Koster menyoroti potensi garam lokal Bali yang dinilainya memiliki kualitas sangat baik dan layak terus dikembangkan sebagai produk unggulan daerah.
Dalam pertemuan itu, Koster juga mendorong Wakatobi memperkuat paket pariwisatanya. Menurutnya, sebuah paket wisata harus memiliki objek yang jelas dan menarik serta didukung ketersediaan hotel, restoran, dan destinasi yang berkualitas.
“Kita bisa berlakukan paket pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan ke Wakatobi. Harus ada objek yang ditawarkan, hotel, restoran, dan destinasi yang indah,” jelas Koster.
Sementara itu, Bupati Wakatobi Haliana mengatakan daerahnya saat ini telah memiliki penerbangan langsung ke Bali sebanyak dua kali dalam sepekan. Konektivitas tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkuat hubungan pariwisata antara Bali dan Wakatobi.
“Program yang bagus di Bali bisa kita implementasikan juga di Wakatobi,” kata Haliana.
Haliana mengakui Bali merupakan salah satu daerah pariwisata yang telah mendapat pengakuan dunia. Karena itu, Wakatobi ingin mempelajari pengalaman Bali, baik dalam pengelolaan pariwisata maupun pemanfaatan produk lokal untuk mendukung ekonomi masyarakat.
“Saya mohon izin ke Pak Gubernur, kita nanti akan studi banding terkait pemanfaatan produk lokal,” ujarnya.
Pertemuan tersebut membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Bali dan Wakatobi, khususnya dalam pengembangan pariwisata dan produk lokal berbasis masyarakat.
Pengalaman Bali dalam menata produk tradisional hingga mampu masuk ke pasar yang lebih luas menjadi salah satu referensi bagi Wakatobi untuk mengembangkan potensi daerahnya. Pola tersebut selanjutnya dapat disesuaikan dengan karakter, sumber daya, serta keunggulan lokal Wakatobi. (Red/Gate 13/Foto: Ist./Pemprov Bali)

