Bandara Soetta akan Operasikan Layanan Bis Listrik Buatan Anak Bangsa

Jakarta |
PT Angkasa Pura II (Persero) bersama PT Mobil Anak Bangsa (MAB) melakukan kerjasama layanan moda transportasi publik yang modern, efisien, dan ramah lingkungan.

Keduanya telah menandatangani perjanjian kerjasama atau Memorandum Of Understanding (MoU) meliputi akan dilakukannya uji coba pengoperasian bus listrik (low deck) di area sisi udara (airside) dan di sisi darat (landside) Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Pelaksana harian (Ph) Executive General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta Agus Haryadi yang mewakili PT Angkasa Pura II (Persero), dengan President Director PT MAB Mayjen TNI (Purn) Leonard, di Jakarta, Sabtu (3/3).

Dalam siaran persnya, Minggu (4/3), President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin menjelaskan, kerjasama ini menjadikan AP II sebagai BUMN yang pertama akan menggunakan kendaraan karya anak bangsa yang inovatif.

“Dimana hal ini selaras dengan semangat dan komitmen korporasi untuk selalu mendukung karya anak bangsa,” ujarnya.

Menurut Awaluddin, kerjasama ini merupakan upaya mendukung kemajuan dunia otomotif Indonesia dan merupakan bentuk sinergi positif yang tidak hanya dapat mengembangkan bisnis masing-masing perusahaan, melainkan juga dapat memberikan kontribusi positif pada negara

Bus listrik karya PT MAB memiliki kapasitas 60 orang per unitnya dan mampu melaju hingga 300 km per jam, dengan interval pengisian daya listrik hanya dalam waktu 3 jam.

Dengan penggunaan bahan bakar berupa tenaga listrik murni (non-fossil fuel), artinya moda transportasi ini merupakan yang ramah lingkungan.

“Pengoperasian bus listrik tersebut di Soekarno-Hatta merupakan strategi dan langkah tepat dalam mereduksi emisi karbon khususnya yang berasal dari BBM dan penerapan konsep green airport serta sustainable environment seperti bandara-bandara kelas dunia lainnya”, jelas Awaluddin.

Awaluddin juga berharap dengan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan tersebut, Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat meraih Airport Carbon Accreditation dari ACI pada level selanjutnya menjadi Reduction.

Isu lingkungan sendiri merupakan salah satu perhatian korporasi, dimana Bandara Internasional Soekarno-Hatta di tahun 2014 telah mendapatkan Airport Carbon Accreditation pada level awal yaitu Mapping oleh Airport Council International (ACI).

Level Mapping merupakan pemetaan jejak karbon (carbon footprint) untuk mengetahui seberapa banyak emisi karbon yang ada di suatu bandara.

Akreditasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat ditingkatkan ke level berikutnya yaitu adalah Reduction kemudian ke level Optimization dan level yang tertinggi yaitu Neutrality.

Berdasarkan data korporasi tahun 2014, diketahui jumlah volume emisi karbon yang ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yaitu sebanyak 137.145 ton yang berasal  dari konsumsi listrik, BBM, gas, dan aktivitas yang tidak dapat dikendalikan oleh bandara.

Berita: Mh | Foto: Istimewa/Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.