Sosok

Felucia Sengky Ratna: Menjaga Gerbang Bali, Menjaga Wibawa Indonesia di Mata Dunia

Denpasar – Bali selama ini dikenal sebagai etalase Indonesia di mata dunia. Jutaan wisatawan mancanegara datang setiap tahun membawa harapan, peluang investasi, sekaligus tantangan baru bagi pemerintah dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan citra bangsa.

Di balik peran strategis tersebut, terdapat institusi keimigrasian yang menjadi garda terdepan menjaga pintu masuk Indonesia, salah satunya Kantor Wilayah Direktorat Jenderal (Kanwil Ditjen) Imigrasi Bali di bawah kepemimpinan Felucia Sengky Ratna.

Kesempatan berdiskusi selama kurang lebih tiga puluh menit bersama Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Ditjen Imigrasi Bali itu memberikan gambaran mengenai bagaimana pelayanan publik modern dijalankan tidak hanya dengan pendekatan administratif, tetapi juga melalui kepemimpinan yang humanis, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026, Felucia menegaskan bahwa Bali memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi salah satu pintu gerbang utama Indonesia yang pertama kali disinggahi masyarakat internasional.

Menurutnya, setiap wisatawan maupun warga negara asing yang memasuki Bali membawa peluang besar bagi pembangunan nasional. Namun di saat yang sama, negara juga memiliki kewajiban memastikan seluruh aktivitas tersebut berlangsung sesuai hukum dan tetap menghormati nilai-nilai budaya lokal.

“Bali bukan hanya destinasi wisata dunia, tetapi juga wajah Indonesia. Karena itu pelayanan keimigrasian harus mampu menghadirkan kepastian hukum, rasa aman, sekaligus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” demikian semangat yang tergambar dalam diskusi tersebut.

Di bawah kepemimpinannya, Kanwil Ditjen Imigrasi Bali terus memperkuat sistem pelayanan berbasis digital, mempercepat proses administrasi keimigrasian, serta meningkatkan pengawasan terhadap keberadaan orang asing melalui koordinasi lintas instansi.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui penguatan Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) yang melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, desa adat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Sinergi tersebut terbukti memberikan hasil positif.

Sepanjang semester pertama tahun 2026, jajaran Imigrasi Bali mengambil tindakan administratif terhadap 342 warga negara asing yang terbukti melakukan pelanggaran keimigrasian, mulai dari penyalahgunaan izin tinggal hingga berbagai pelanggaran administratif lainnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelayanan yang ramah tetap harus berjalan seiring dengan penegakan hukum yang tegas.

Selain pengawasan, Felucia juga mendorong lahirnya pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat melalui program Immigration Goes to Village.

Program tersebut tidak sekadar menghadirkan pelayanan administrasi ke desa-desa, melainkan membangun kesadaran hukum masyarakat sejak tingkat paling bawah.

Baginya, desa merupakan fondasi utama kehidupan bangsa. Dari desa lahir nilai gotong royong, toleransi, budaya, serta nasionalisme yang menjadi kekuatan Indonesia.

Komitmen dan inovasi yang dijalankannya turut memperoleh pengakuan di tingkat nasional.

Belum lama ini, Felucia Sengky Ratna menerima Anugerah Figur Akselerator Kemajuan 2026 kategori Penyangga Utama Pariwisata Bali Berkualitas dalam ajang detikBali-Nusra Awards 2026.

Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya memperkuat pengawasan keimigrasian sekaligus mendukung terciptanya iklim pariwisata Bali yang aman, nyaman, dan berkualitas.

Namun penghargaan tersebut tampaknya bukan menjadi tujuan utama.

Selama pertemuan berlangsung, yang lebih menonjol justru komitmennya membangun pelayanan publik yang profesional namun tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Diskusi yang berlangsung sederhana itu memberikan pesan bahwa menjaga pintu gerbang negara bukan hanya tugas petugas imigrasi semata.

Menjaga gerbang Indonesia berarti menjaga kedaulatan negara, melindungi masyarakat, merawat budaya bangsa, sekaligus memastikan Indonesia tetap dihormati oleh dunia internasional.

Tiga puluh menit memang terasa singkat.

Namun dari pertemuan tersebut tersirat keyakinan bahwa pelayanan keimigrasian yang profesional, adaptif, dan berintegritas merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga marwah Indonesia sebagai bangsa besar di tengah dinamika global yang terus berkembang. (Red/Gate 13/Foto: Ist./Dok.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.