Tambah Miring, Pengunjung Menara Syahbandar Dibatasi

Jakarta |
Menara Syahbandar setinggi 18 meter di Museum Bahari yang terletak Jl Pasar Ikan nomor 1, Penjaringan, Jakarta Utara, diamati warga sekitar bertambah miring ke selatan.

Namun walapun begitu, keamanan masih terjamin dan tetap aman untuk dikunjungi, sebab baru saja selesai direhabilitasi. Sehingga bagi pengunjung yang ingin naik ke menara yang dibangun tahun 1839 itu dibatasi hanya 20 orang saja.

Hal itu disampaikan oleh Kepala UP Museum Kebaharian Drs Husnison Nizar. “Dari penelitian teknis yang telah dilakukan, itu masih aman,” katanya saat dihubungi wartawan di Jakarta, Sabtu (11/5).

Suharto seorang karyawan Museum Bahari yang bertugas di Menara Syahbandar juga mengatakan menara tersebut aman dikunjungi  wisatawan yang ingin naik ke atas. “Namun dibatasi untuk dewasa maksimum 20 orang. Kalau anak anak SD maksimum 30 orang,” ujar Suharto, Sabtu (11/5)

Menurut pria yang sudah mengabdi di Museum Bahari sejak tahun 2000, kemiringan Menara Syahbandar ini telah beberapa kali diteliti. “Pernah 3 kali diteliti waktu itu ahli dari ITB.  Kemiringannya katanya sekarang  4 derajat, tapi masih aman,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, bahwa pada tahun 1980 an kemiringannya tercatat pada posisi 2 derajat. Sedangkan beberapa tahun lalu pernah fondasinya digali untuk penelitian. “Ternyata fondasinya itu terdiri dari kayu-kayu yang tahan air. Saya dengar tahun 1980 an juga pernah disuntik semen,” katanya.

Hal itu dibenarkan Maruri, karyawan Museum Bahari seangkatan Suharto. “Pada zaman kepalanya Pak Gatut saja sudah 2 kali diteliti. 

Bahkan dulu sempat kendaraan berat seperti kontainer dilarang lewat Jl Pakin yang dekat dengan Menara Syahbandar ini,” kata Maruri, seraya menjelaskan Gatut almarhum pernah memimpin Museum Bahari sebelum tahun 2012.

Dari catatan tahun 2015 pihak Museum Bahari juga memohon lagi kepada Kementerian Perhubungan untuk melarang kendaraan berat lewat Jl Pakin, Penjaringan Jakarta Utara. Ini dimaksudkan agar kemiringan menara itu tak bertambah.

Pemandu wisata Catur Trenggono (53) yang sering mengantar wisatawan mancanegara ke Museum Bahari mengakui Menara  Syahbandar terlihat bertambah miring.

“Sejak dulu saya sering kemari. Sebelum resmi  dijadikan museum pada tanggal 7 Juli 1977, dulunya  tempat ini jadi kantor Komsekko Jakarta Utara,” kata Catur yang tempat tinggalnya tak jauh dari lokasi museum.

Kepala Satuan Pelayanan Museum Bahari Ahmad Surya menjelaskan memang Menara Syahbandar sejak bulan Oktober 2018 ditutup karena ada kerusakan dan pengroposan di tangga dan lantai 3.

“Tetapi tahun ini dilakukan rehabilitasi oleh Sarpras Disparbud DKI dan sudah selesai. Tepat kedatangan rombongan wisatawan Australia tanggal 30 April lalu, menara dibuka kembali. Namun dengan pembatasan hanya 20 orang satu kali naik,” kata Surya.

Saat itu Surya mengawasi teater binaan Museum Kebaharian sedang latihan di halaman dalam Museum Bahari. Sekitar 20 anak muda dan orang dewasa berlatih beberapa adegan dalam kerangka cerita ‘Batavia Surganya Rempah-rempah’.

Cerita ini erat dengan sejarah museum yang merupakan gudang rempah rempah VOC yang dibangun bertahap dari tahun 1652 sampai dengan 1774. Angka tahun terakhir ini terpahat di pintu gedung C museum.

Bagi pengunjung yang naik ke menara Syahbandar akan merasakan pesona pemandangan bangunan kuno di sekitar menara ini, di antaranya Museum Bahari, masjid kuno abad 17 Luar Batang dan bangunan cagar budaya Pasar Ikan. Bahkan terlihat kapal dan perahu tradisional yang sandar di dermaga pelabuhan Sunda Kelapa.

Memandang arah sebaliknya yaitu ke selatan, terlihat gedung tua Galangan VOC yang kini berubah fungsi sebagai restoran. Namun saat kendaraan berat lewat di Jl Pakin, terasa menara bergoyang seperti gempa.

Pengunjung tak takut karena di areal museum ada papan informasi yang menjelaskan mengapa Menara Syahbandar itu juga disebut ‘Menara Goyang’.

Mengenai pengunjung Museum Bahari termasuk Menara Syahbandar, Ahmad Surya menjelaskan, seperti museum-museum lainnya waktu awal puasa jumlahnya menurun. “Tapi hari ini sudah kelihatan meningkat lagi,” katanya.

Tercatat Sabtu (11/5), pengunjungnya ada sebanyak 104 orang. Itu pun sudah termasuk 24 orang wisatawan mancanegara dari Australia dan Jerman.

Hal itu dikuatkan dengan data pengunjung yang didasarkan pada penjualan karcis masuk yang direkap pleh petugas bernama Rusnawati.

Menurut catatannya 5 hari sebelum bulan Puasa Ramadhan pengunjung museum ini rata rata per hari 106 orang, termasuk 16 orang wisatawan mancanegara.

Akan tetapi selama 5 hari pertama dalam bulan puasa ramadhan tahun ini pengunjungnya rata-rata per hari 32 orang, termasuk 8 orang wisman. Terlihat kemarin beberapa orang wisman dari Australia melihat koleksi biota laut dan miniatur kapal tradisional nusantara di Blok C lantai 2.

Sementara alat kompas kuno dan senjata pelontar tanda bahaya yang selamat dari kebakaran awal tahun 2018 silam juga dapat dilihat di ruang pamer ini. “Itu sudah dikonservasi,” kata Hendra petugas yang memandu di situ.

Berita: Pri | Foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: