Politik

Buku Water Intelligence, Air Dibaca sebagai Guru Intelijen Terhebat

Denpasar – Air ternyata tidak hanya berbicara tentang kehidupan. Di balik sifatnya yang mengalir, menyesuaikan bentuk, menembus ruang, menahan tekanan hingga kembali menjadi sumber kehidupan, tersimpan pelajaran tentang strategi, kepemimpinan, adaptasi, keseimbangan, informasi, dan cara membaca perubahan.

Gagasan itulah yang diangkat Nanang Lecir melalui bukunya, Water Intelligence: Air Guru Intelijen Terhebat. Buku ini menawarkan cara pandang bahwa kecerdasan tidak selalu hadir melalui kekuatan yang keras dan terlihat. Sebaliknya, kekuatan juga dapat bekerja secara tenang, adaptif, membaca situasi, memahami arus, kemudian memengaruhi keadaan.

Perspektif tersebut mendapat perhatian dari Gubernur Bali Wayan Koster, yang memberikan kata pengantar atas terbitnya Water Intelligence pada Mei 2026.

Koster menilai air memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga bagian dari sistem spiritual, budaya, sosial, serta tata kehidupan yang diwariskan antargenerasi.

Dalam filosofi Sad Kerthi, air berkaitan dengan kesucian, keseimbangan, dan keberlanjutan kehidupan. Peradaban Bali juga tumbuh melalui tata kelola air yang harmonis, antara lain tercermin dalam sistem Subak dan konsep Nyegara-Gunung.

Karena itu, Koster melihat pemikiran dalam buku tersebut memiliki relevansi dengan visi pembangunan Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.

Pesan yang ditawarkan cukup kuat. Pembangunan tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Kelestarian alam, kualitas kehidupan masyarakat, ketahanan budaya, adat, tradisi, seni, spiritualitas, dan kesadaran ekologis harus berjalan bersamaan.

Air, dalam perspektif buku tersebut, menjadi simbol kecerdasan peradaban. Ia mengajarkan ketekunan, kesabaran, kemampuan beradaptasi, serta keberlanjutan. Nilai tersebut semakin relevan ketika dunia menghadapi perubahan iklim, krisis lingkungan, dan tekanan terhadap sumber daya alam.

Pengelolaan air yang bijaksana dan berkeadilan pun dipandang sebagai bagian penting untuk membangun Bali yang hijau, bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Dari Intelijen hingga Teknologi

Menariknya, gagasan Water Intelligence tidak hanya dibaca dari perspektif budaya atau lingkungan. Sejumlah tokoh dari bidang pemerintahan, akademik, pertahanan, keamanan, intelijen, hingga teknologi informasi memberikan apresiasi terhadap pendekatan yang ditawarkan buku tersebut.

Rektor Universitas Udayana (Unud) Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., melihat Water Intelligence menawarkan paradigma kecerdasan strategis dengan meniru logika pergerakan air. Menurutnya, buku tersebut mengajarkan seni menyusun tanpa benturan, beradaptasi tanpa kehilangan esensi, serta membangun kekuatan melalui pemahaman struktur dan penguasaan informasi.

Sementara Komjen Pol. (Purn.) Drs. I Ketut Suardana, M.Si., Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Bali 2021-2022, menilai alam telah lama mengajarkan prinsip intelijen melalui kecerdasan air yang adaptif. Kearifan Bali seperti Subak dan Nyegara-Gunung dinilai dapat diterjemahkan menjadi strategi modern tanpa kehilangan ruh budaya.

Mayjen TNI (Purn.) Tri Nugraha Hartanta, S.Sos., Staf Ahli Bidang Pertahanan dan Keamanan Badan Intelijen Negara (BIN) 2025-2026, menyoroti sisi ketahanan. Di tengah dunia yang penuh turbulensi, menurutnya, ketahanan tidak selalu dibangun melalui kekuatan keras, tetapi juga melalui kejernihan membaca situasi dan kemampuan menjaga keseimbangan.

Pandangan tentang kekuatan yang bekerja dalam senyap disampaikan I Putu Gede Astawa, S.H., M.H., Direktur III Jaksa Intelijen Kejaksaan Agung (Kejagung) RI. Ia menilai kekuatan terbesar sering kali bekerja tanpa banyak terlihat melalui kemampuan membaca pola, memahami arus, dan memengaruhi keadaan.

Dari perspektif intelijen daerah, Brigjen TNI Marinir Tony Kurniawan, Kepala Badan Intelijen Daerah (KaBINda) Bali 2024-2025, melihat strategi terbaik bergerak seperti air: tenang, adaptif, sekaligus mampu membaca perubahan sebelum terlihat di permukaan.

Mayjen TNI (Purn.) Dr. Ir. Susilo Adi Purwantoro, S.E., M.Eng.Sc., IPU., CIPA., ASEAN Eng., ACPEx., Dosen Tetap Universitas Pertahanan (Unhan) RI, menilai adaptasi, fleksibilitas, dan kejernihan membaca situasi menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global. Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi pengembangan strategi pertahanan negara.

Sedangkan Prof. Dr. I Ketut Gede Darma Putra, S.Kom., M.T., Guru Besar Teknologi Informasi (TI) Universitas Udayana, membawa pembahasan ke ranah teknologi. Air dilihat sebagai bagian dari sistem yang sangat kompleks. Bahkan perkembangan kecerdasan buatan atau AI tetap membutuhkan air untuk mendukung keberlangsungan sistemnya.

Ida Cokorda Mengwi ke-13 menilai buku tersebut berhasil menerjemahkan warisan pemahaman masyarakat Bali tentang air ke dalam bahasa zaman modern tanpa kehilangan kedalamannya.

Membaca Arus, Bukan Memaksakan Arah

Bagi Nanang Lecir, buku tersebut berangkat dari perenungan sederhana: air tidak pernah berbicara, tetapi seluruh kehidupan belajar darinya.

Air mengalir tanpa memaksa, mencari jalan ketika ruang menyempit, tetap bergerak meskipun perjalanannya tidak selalu terlihat, menyesuaikan diri dengan keadaan, menahan tekanan, menjernihkan diri, dan pada akhirnya kembali menjadi sumber.

Karakter tersebut kemudian digunakan penulis untuk membaca kehidupan, strategi, sistem, informasi, kesadaran, serta cara manusia dan organisasi menghadapi perubahan.

Nanang menegaskan, buku itu tidak dimaksudkan sebagai kebenaran mutlak. Pembaca justru diajak melihat sesuatu dari sudut yang mungkin selama ini luput diperhatikan.

Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah bahwa memahami arus sering kali lebih berguna daripada memaksakan arah. Memahami susunan sebuah sistem juga dapat menjadi lebih menentukan dibanding sekadar memperlihatkan kekuatan.

Nanang menyebut Petirtan Taman Kahyangan sebagai salah satu ruang penting yang memberi inspirasi dalam proses lahirnya gagasan buku. Di tengah aliran air dan suasana tenang, berbagai renungan tentang kehidupan, kejernihan, dan cara kerja kecerdasan perlahan menemukan bentuknya.

Dengan demikian, Water Intelligence tidak sekadar menempatkan air sebagai objek yang harus dikelola. Buku tersebut mencoba menempatkan air sebagai “guru” yang mengajarkan ketenangan, ketahanan, fleksibilitas, strategi, keseimbangan, dan kemampuan membaca perubahan zaman.

Buku ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi pemimpin, akademisi, praktisi, generasi muda, dan masyarakat luas untuk membangun cara pandang yang lebih selaras dengan alam serta memperkuat kesadaran terhadap keberlanjutan kehidupan dan peradaban.

Buku Water Intelligence: Air Guru Intelijen Terhebat ditulis sekaligus disusun oleh Nanang Lecir, dicetak dan diterbitkan Loleh PT Media Penerbit Indonesia (MPI), dengan ISBN 978-634-316-028-1. Buku berukuran 15,5 x 23 cm tersebut memiliki ketebalan xx + 139 halaman dan tercatat sebagai Cetakan I, Juli 2026, dan dalam waktu dekat akan diterbitkan cetakan II di akhir tahun 2026. (Red/Gate 13/Foto: Ist.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.