Ekonomi

Pemkab Badung Siapkan Penanganan Terpadu Kekeringan yang Mengancam 80 Hektare Sawah

Badung – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) memperkuat langkah penanganan kekeringan yang berdampak pada lahan pertanian di Kecamatan Petang hingga wilayah Gerana, Kecamatan Abiansemal.

Ancaman kekeringan akibat kemarau ekstrem dan penurunan debit air sungai saat ini mencakup sekitar 80 hektare lahan sawah aktif.

Penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida untuk memperbaiki infrastruktur irigasi yang rusak, pemetaan lahan terdampak, pemantauan kondisi tanaman, serta penyiapan anggaran melalui APBD Perubahan 2026. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga pasokan air dan mempertahankan produktivitas pertanian.

Kepala Diperpa Badung Anak Agung Ngurah Raka Sukadana menjelaskan, kerusakan terowongan irigasi di bagian hulu menjadi salah satu penyebab terganggunya pasokan air ke lahan pertanian di bagian bawah. Perbaikan darurat telah berjalan secara manual karena medan yang terjal menyulitkan akses alat berat.

“Perbaikan terowongan rusak sedang berjalan secara manual karena medannya terjal dan sulit dimasuki alat berat. Kami juga sudah menganggarkan pendataan irigasi dan kondisi petani di anggaran perubahan agar perbaikan fisik bisa dipercepat,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).

Selain kerusakan terowongan, kehilangan air juga dipengaruhi kondisi sejumlah saluran irigasi tradisional yang masih berupa tanah. Salah satu contohnya terdapat di Subak Buangga, dengan saluran sepanjang tiga kilometer yang belum dibeton sehingga air berpotensi meresap sebelum mencapai lahan sawah.

“Di Subak Buangga misalnya, saluran irigasi sepanjang tiga kilometer masih berupa tanah sehingga air banyak meresap sebelum sampai ke lahan sawah warga,” ungkap Agung Raka.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Badung memprioritaskan pembetonan saluran irigasi, khususnya pada jaringan yang masih berupa tanah. Pemerintah daerah juga menyiapkan pendataan kondisi jaringan irigasi dan profil petani melalui alokasi APBD Perubahan 2026.

Perbaikan tersebut diharapkan meningkatkan efisiensi distribusi air, mengurangi kehilangan air selama pengaliran, serta membantu memastikan kebutuhan air bagi lahan pertanian terpenuhi dengan lebih baik.

Penanganan Darurat dan Pengaturan Pola Tanam

Sambil menunggu perbaikan infrastruktur, Diperpa bersama instansi terkait terus mengupayakan penanganan darurat bagi wilayah pertanian yang mengalami kekurangan air. Sebelumnya, enam subak di Kecamatan Petang telah memperoleh bantuan air irigasi darurat dengan menggunakan tiga truk tangki dan pompa.

Pemantauan kondisi tanaman dan ketersediaan air juga terus dilakukan. Koordinasi melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), subak, pengelola irigasi, serta instansi terkait lainnya untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi lapangan.

“Kami juga terus melakukan monitoring kondisi tanaman dan ketersediaan air, serta berkoordinasi dengan BPBD, PUPR, subak, pengelola irigasi, dan instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan,” terang Agung Raka.

Diperpa turut mengimbau petani agar menerapkan penggiliran air secara ketat, menghemat penggunaan air, serta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air. Salah satu pilihan yang disarankan ialah beralih sementara ke tanaman palawija yang lebih sesuai dengan kondisi musim kering.

Agung Raka menyebut sebagian petani tetap menanam padi dengan harapan hujan akan turun. Menurutnya, penyesuaian pola tanam dan pengelolaan irigasi yang baik diperlukan untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem terhadap kegiatan pertanian.

“Petani kita sebenarnya sudah paham cuaca, tapi kemarin banyak yang nekat menanam padi karena mengharapkan hujan. Padahal kalau diatur dengan pola tanam palawija dan irigasi bagus, cuaca ekstrem tidak akan terlalu berdampak,” tegasnya.

Melalui koordinasi dengan BWS Bali-Penida, dukungan anggaran daerah, perbaikan jaringan irigasi, penyaluran air darurat, serta penyesuaian pola tanam, Pemkab Badung berupaya memperkuat ketahanan sektor pertanian menghadapi kondisi iklim ekstrem.

Langkah terpadu tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan, menjaga ketersediaan air irigasi, dan mempertahankan produktivitas lahan pertanian di wilayah terdampak. (Red/Gate 13/Foto: Ist.)


Discover more from sandimerahputih.com

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from sandimerahputih.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading