Adhi Makayasa 2026: Calvin Tidar dan Yehezkiel Siap Emban Amanah Rakyat sebagai Perwira TNI
Jakarta – Upacara Prasetya Perwira (Praspa) TNI dan Polri Tahun 2026 di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/7/2026), menjadi momentum bersejarah bagi para perwira muda yang resmi memulai pengabdian kepada bangsa dan negara.
Di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, mereka mengucapkan sumpah perwira sebagai ikrar kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Di antara 1.177 perwira remaja yang dilantik, dua nama menjadi sorotan sebagai penerima penghargaan Adhi Makayasa, yakni Letnan Dua (Letda) Infanteri Calvin Tidar Sakti, lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil), dan Letda Penerbang (Pnb.) Yehezkiel Bonaventura Yudaniarman, lulusan terbaik Akademi Angkatan Udara (AAU).
Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi tertinggi kepada taruna yang menunjukkan prestasi akademik, kepemimpinan, karakter, serta integritas terbaik selama menempuh pendidikan.
Presiden Prabowo secara langsung menyematkan tanda pangkat kepada para penerima Adhi Makayasa sebagai simbol penghormatan atas dedikasi dan keberhasilan mereka menyelesaikan pendidikan di akademi masing-masing.
Bagi Calvin Tidar Sakti, pelantikan langsung oleh Presiden di Istana Merdeka merupakan salah satu pencapaian tertinggi dalam perjalanan hidupnya. Namun, lebih dari sekadar kebanggaan atas pangkat yang kini tersemat di pundaknya, ia mengaku menangkap pesan mendalam dari amanat Presiden.
“Bapak Presiden juga menyatakan bahwa pangkat yang tertempel di pundak kami ini bukan hanya sebuah tanda kehormatan ataupun sebuah pangkat, tapi ini juga merupakan suatu tanggung jawab dan juga amanah dari rakyat kepada kami Tentara Nasional Indonesia, Angkatan Darat khususnya,” ujar Calvin.
Pesan tersebut, menurut Calvin, menjadi pengingat bahwa kelulusan bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari pengabdian kepada bangsa dan negara. Ia berharap momen tersebut menjadi motivasi untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan mempersiapkan diri menjadi seorang pemimpin yang mampu memberikan teladan.
“Ini merupakan suatu motivasi dan langkah pertama saya untuk nanti ke depannya bisa menjadi pemimpin yang hebat,” katanya.
Calvin juga mengungkapkan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari doa dan dukungan kedua orang tuanya. Selama menjalani pendidikan di Akademi Militer yang penuh tantangan, keluarga selalu menjadi sumber semangat terbesar.
“Orang tua saya hanya memberikan motivasi dan juga doa. Itu merupakan salah satu tekad dan dukungan yang paling kuat dari kedua orang tua saya,” ungkapnya.
Selain keluarga, kebersamaan dengan rekan-rekan satu angkatan menjadi pengalaman yang paling membekas selama menjalani pendidikan. Berbagai latihan berat, kelelahan fisik, dan tantangan yang dihadapi terasa lebih ringan karena dilalui bersama dalam semangat persaudaraan.
Air Mata Haru Mengiringi Lahirnya Generasi Pengabdi Bangsa
Semangat yang sama juga dirasakan Letda Pnb. Yehezkiel Bonaventura Yudaniarman. Setelah melewati pendidikan selama tiga tahun di Akademi Angkatan Udara, ia mengaku tidak pernah membayangkan dapat menerima penghargaan Adhi Makayasa sekaligus dilantik langsung oleh Presiden Republik Indonesia di Istana Merdeka.
“Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami, pengalaman sekali seumur hidup kami bisa dilantik langsung oleh RI 1 di Istana Negara,” ujarnya.
Pelantikan tersebut juga menjadi pengalaman pertama Yehezkiel menginjakkan kaki di Istana Kepresidenan. Baginya, kesempatan bertatap muka dan menerima pelantikan langsung dari Presiden merupakan kehormatan yang akan selalu dikenang sepanjang hidup.
Kebahagiaan itu juga dirasakan kedua orang tuanya yang turut menyaksikan putra mereka berdiri tegap sebagai perwira TNI Angkatan Udara. Sang ibu mengaku nyaris tak mampu menahan air mata melihat perjuangan panjang putranya akhirnya membuahkan hasil.
“Kesannya luar biasa, jadi pengin nangis. Ini pengalaman pertama untuk keluarga kami. Ini baru pertama kali yang jadi TNI. Perjuangan dia terlalu besar. Jadi kami bangga, saking bangganya sampai nggak bisa ngomong apa,” tuturnya.
Di balik sosok perwira muda yang disiplin, sang ibu masih mengingat Yehezkiel kecil sebagai anak yang aktif, penuh rasa ingin tahu, dan hampir selalu mempertanyakan setiap hal yang dilihatnya.
“Dulu dia kecilnya bandel banget, nggak bisa diam, selalu aktif, selalu bertanya, ‘Kok bisa begitu? Kenapa?’ Itu pasti selalu ditanyakan ke setiap orang,” kenangnya sambil tersenyum.
Bagi Calvin dan Yehezkiel, penghargaan Adhi Makayasa bukan sekadar pengakuan atas prestasi selama pendidikan. Di balik penghargaan tersebut terdapat doa orang tua, kebersamaan dengan rekan seperjuangan, kedisiplinan, ketangguhan, serta pengorbanan yang mengiringi perjalanan mereka hingga resmi menyandang pangkat perwira.
Kini keduanya memulai babak baru sebagai prajurit TNI yang mengemban amanah rakyat. Sejalan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto, pangkat pertama seorang perwira bukan hanya kehormatan, tetapi juga kepercayaan yang harus dijaga melalui integritas, profesionalisme, loyalitas kepada negara, serta pengabdian yang tulus demi bangsa dan rakyat Indonesia. (Red/Gate 13/Foto: Ist./BPMI Setpres)

