Wisata

Tanjung Benoa Jadi Laboratorium Lapangan Kesiapsiagaan Tsunami bagi Peserta ToF UNESCO-IOC

Badung – Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali, menjadi lokasi pembelajaran lapangan dalam kegiatan Training of Facilitators (ToF) UNESCO-IOC yang berlangsung pada 12-18 Juli 2026.

Kegiatan ini diikuti lebih dari 40 peserta dari sejumlah negara di kawasan Samudra Hindia Barat Laut untuk memperkuat kapasitas fasilitator dalam membangun kesiapsiagaan tsunami berbasis masyarakat.

Kunjungan ke Tanjung Benoa menjadi bagian penting dari pelatihan karena wilayah tersebut telah memperoleh pengakuan sebagai salah satu Komunitas Siap Tsunami di Indonesia.

Para peserta mempelajari secara langsung penerapan indikator kesiapsiagaan tsunami sekaligus melihat berbagai upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana yang melibatkan pemerintah, sekolah, organisasi masyarakat, serta warga.

Salah satu praktik yang mendapat perhatian peserta adalah pelaksanaan latihan evakuasi bencana secara berkala di lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah Dasar di Tanjung Benoa, Ni Wayan Werti dan Luh Sri Sudarmini, menjelaskan bahwa latihan rutin tersebut terbukti meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi potensi gempa bumi maupun tsunami.

“Dengan latihan yang dilakukan secara rutin, anak-anak menjadi lebih memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa maupun tsunami. Mereka juga menjadi lebih percaya diri dan tidak terlalu takut karena sudah mengetahui langkah evakuasi yang harus dilakukan,” jelasnya.

Menurut mereka, keberhasilan program kesiapsiagaan bencana di sekolah tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah daerah, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), sekolah, serta masyarakat.

“Kesiapsiagaan ini tidak bisa dilakukan oleh sekolah sendiri. Dibutuhkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, Forum Pengurangan Risiko Bencana, dan pihak-pihak terkait agar anak-anak maupun warga benar-benar siap ketika terjadi bencana,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan Alam Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Engin Koncagul, menegaskan bahwa kesiapsiagaan tsunami harus dibangun jauh sebelum bencana terjadi.

Menurutnya, penguatan kapasitas para fasilitator yang bekerja langsung bersama masyarakat pesisir menjadi kunci dalam mengubah kesiapsiagaan menjadi tindakan nyata.

“Kesiapsiagaan harus dimulai jauh sebelum tsunami terjadi. Dengan membekali fasilitator dengan pengetahuan dan keterampilan untuk bekerja langsung dengan masyarakat pesisir, kami mendukung negara-negara di Samudra Hindia Barat Laut untuk mengubah kesiapsiagaan menjadi tindakan praktis yang pada akhirnya dapat menyelamatkan nyawa,” ujar Engin.

Pengalaman Tanjung Benoa memberikan pembelajaran berharga bagi para peserta ToF UNESCO-IOC.

Selain memahami konsep dan indikator kesiapsiagaan tsunami, mereka juga menyaksikan secara langsung bagaimana upaya mitigasi bencana dapat dijalankan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan warga. (Red/Gate/Foto: Ist./Kominfotik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.