Ketika Pengalaman Menjadi Energi untuk Membangun Negeri
Oleh Ngurah Sigit*
Setiap perjalanan pengabdian memiliki ruang dan bentuknya sendiri. Ada masa ketika seseorang berada di garis depan untuk mengambil keputusan, ada saat ketika ia menjalankan tugas koordinasi, dan ada pula waktunya pengalaman yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun digunakan untuk memberikan pandangan yang lebih luas. Di situlah makna pengabdian menemukan bentuk yang berbeda.
Pelantikan 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026), bukan sekadar pergantian susunan sebuah lembaga negara. Peristiwa itu juga dapat dibaca sebagai momentum untuk mempertemukan beragam pengalaman, pengetahuan, dan perspektif dalam satu ruang pertimbangan bagi kepentingan bangsa.
Di antara para tokoh yang dilantik terdapat Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan, sosok yang telah melalui perjalanan panjang dalam pengabdian kepada negara, mulai dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Badan Intelijen Negara (BIN), hingga pemerintahan.
Kepercayaan baru tersebut menempatkan pengalaman panjang Budi Gunawan dalam konteks yang berbeda. Jika sebelumnya ia banyak bekerja dalam ruang operasional dan koordinasi pemerintahan, kini ia berada dalam lembaga yang memiliki mandat memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.
Pengalaman yang Tidak Berhenti pada Jabatan
Budi Gunawan merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1983. Sepanjang kariernya di kepolisian, ia menjalani berbagai penugasan hingga mencapai posisi Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri).
Ia pernah dipercaya menjalankan sejumlah tugas strategis, antara lain sebagai Kapolda Jambi, Kapolda Bali, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri, Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, serta sejumlah posisi lainnya.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ketika ia dipercaya memimpin Badan Intelijen Negara. Setelah itu, dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ia mendapat amanah sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam). Kini, perjalanan tersebut memasuki fase lain melalui Wantimpres.
Dari rangkaian penugasan itu ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: pengalaman sejatinya tidak pernah berhenti hanya karena jabatan berganti.
Pengetahuan yang diperoleh selama bertahun-tahun, pemahaman terhadap persoalan bangsa, pengalaman mengambil keputusan, kemampuan membaca perubahan, serta jejaring pengabdian yang terbentuk sepanjang perjalanan dapat menjadi modal untuk memberikan kontribusi dalam bentuk yang berbeda. Inilah salah satu nilai penting dari sebuah perjalanan panjang dalam pengabdian.
Dari Ruang Komando ke Ruang Pertimbangan
Wantimpres memiliki karakter tugas yang berbeda dengan kementerian. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan, lembaga ini bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan.
Dengan demikian, ruang kerja Wantimpres bukan semata-mata tentang seberapa banyak keputusan yang dapat dibuat, melainkan tentang seberapa bernas sebuah pandangan dapat disampaikan.
Nasihat yang baik lahir dari kemampuan melihat persoalan dari berbagai sisi. Karena itu, keberagaman latar belakang 26 anggota Wantimpres menjadi sesuatu yang penting. Mereka datang dari dunia pemerintahan, akademik, agama, usaha, hukum, militer, kepolisian, politik, dan berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Ketua Wantimpres Pratikno menyebut keberagaman pengalaman dan pengetahuan para anggota sebagai modal untuk memberikan saran, masukan, dan pertimbangan kepada Presiden. Wakil Ketua Wantimpres Hatta Rajasa juga menekankan pentingnya menghimpun berbagai perspektif untuk menghasilkan masukan yang berkualitas.
Di sinilah kita dapat melihat bahwa membangun Indonesia bukan pekerjaan satu kelompok, satu profesi, atau satu generasi. Indonesia yang besar membutuhkan banyak pengalaman yang dipertemukan dalam semangat yang sama: memberikan yang terbaik bagi bangsa.
Pengabdian Adalah Perjalanan Panjang
Ada kecenderungan dalam kehidupan publik untuk mengukur seseorang dari jabatan yang sedang didudukinya. Padahal, pengabdian kepada negara jauh lebih panjang daripada masa sebuah jabatan.
Seseorang dapat berganti posisi, berpindah institusi, memasuki masa purnatugas, bahkan meninggalkan struktur pemerintahan. Namun pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama mengabdi tetap dapat memberikan manfaat.
Dalam konteks itulah penugasan Budi Gunawan di Wantimpres dapat dilihat sebagai bagian dari kesinambungan pengabdian. Bukan lagi mengenai posisi di garis komando, tetapi mengenai kemampuan memberikan perspektif. Bukan lagi semata-mata tentang menjalankan kebijakan, tetapi ikut membantu memperkaya pertimbangan sebelum sebuah keputusan negara diambil. Dan bukan tentang siapa yang paling menonjol, melainkan bagaimana pengalaman masing-masing dapat disumbangkan untuk kepentingan yang lebih besar.
Konstitusi sendiri menempatkan keberadaan dewan pertimbangan sebagai bagian dari mekanisme pemerintahan. UU Nomor 64 Tahun 2024 menegaskan bahwa pemberian nasihat dan pertimbangan dimaksudkan agar Presiden dalam mengambil keputusan memiliki pertimbangan yang matang dan cermat. Artinya, kualitas pertimbangan menjadi bagian penting dalam proses penyelenggaraan negara.
Saatnya Mengubah Pengalaman Menjadi Gagasan
Indonesia sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan teknologi, dinamika geopolitik, perkembangan ekonomi, ketahanan pangan dan energi, keamanan nasional, transformasi digital, kualitas sumber daya manusia, hingga tuntutan peningkatan kesejahteraan masyarakat membutuhkan cara berpikir yang tidak sempit.
Kita membutuhkan pengalaman, tetapi pengalaman itu harus terus diperbarui oleh pengetahuan. Kita membutuhkan keberanian mengambil keputusan, tetapi keberanian itu harus berjalan bersama kecermatan. Kita membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi kekuatan kepemimpinan juga membutuhkan kemampuan mendengar dan mempertimbangkan berbagai pandangan. Karena itu, keberadaan Wantimpres dapat menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai perspektif tersebut.
Bagi masyarakat, momentum pelantikan ini juga dapat menjadi pengingat bahwa membangun negeri bukan hanya tugas mereka yang berada di dalam pemerintahan.
Setiap orang memiliki ruang pengabdian. Guru membangun melalui pendidikan. Dokter melalui pelayanan kesehatan. Pengusaha melalui penciptaan lapangan kerja. Petani dan nelayan melalui ketahanan pangan. Aparat negara melalui pelayanan dan perlindungan masyarakat. Akademisi melalui ilmu pengetahuan. Jurnalis melalui informasi yang benar dan bertanggung jawab.
Semua memiliki peran. Yang membedakan bukan besar kecilnya panggung, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan.
Menatap Indonesia dengan Optimisme
Pelantikan Wantimpres baru pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang duduk di dalam sebuah lembaga negara. Lebih jauh, momentum tersebut dapat menjadi ajakan untuk membangun budaya kebangsaan yang menghargai pengalaman, membuka ruang bagi perbedaan perspektif, dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Perjalanan Budi Gunawan dari kepolisian, intelijen, pemerintahan hingga kini menjadi anggota Wantimpres memperlihatkan bahwa pengabdian dapat hadir dalam berbagai bentuk.
Setiap fase memiliki tantangannya sendiri. Setiap jabatan membawa tanggung jawab yang berbeda. Dan setiap pengalaman seharusnya meninggalkan pengetahuan yang dapat diwariskan untuk kepentingan yang lebih luas.
Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki banyak orang berpengalaman, tetapi bangsa yang mampu mengubah pengalaman menjadi kebijaksanaan, kebijaksanaan menjadi gagasan, dan gagasan menjadi kerja nyata.
Indonesia membutuhkan energi semacam itu. Energi yang tidak sibuk mempertentangkan perbedaan, tetapi mencari titik temu. Energi yang tidak berhenti pada kritik, tetapi berani menawarkan jalan keluar. Energi yang tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi menggunakan pengalaman masa lalu untuk menyiapkan masa depan.
Di tengah perjalanan Indonesia menuju masa depan yang semakin kompleks, setiap pengalaman yang baik adalah aset bangsa. Setiap gagasan yang konstruktif adalah bekal kemajuan. Dan setiap orang yang masih bersedia memberikan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk negeri ini sesungguhnya masih memiliki ruang untuk mengabdi.
Sebab membangun Indonesia bukan pekerjaan sehari. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, persatuan, dan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik selalu dapat diperjuangkan bersama.
Pengabdian boleh berganti bentuk, tetapi semangat untuk memberi manfaat bagi bangsa tidak boleh berhenti.
*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan, dan Pemerhati Media.
Discover more from sandimerahputih.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

