Pendapatan Negara Tumbuh 19,1 Persen, APBN 2026 Tetap Sehat dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Jakarta – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 menunjukkan tren positif yang berlanjut.
Pemerintah mencatat pertumbuhan pendapatan negara yang kuat, belanja negara yang semakin optimal, serta kondisi fiskal yang tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global.
Berdasarkan laporan perkembangan APBN per 31 Mei 2026 yang disampaikan Kementerian Keuangan, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6 persen dari target APBN 2026. Angka tersebut tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan negara terutama didorong oleh kinerja penerimaan pajak yang mencapai Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai terealisasi sebesar Rp123,8 triliun atau tumbuh 0,7 persen, sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp226,4 triliun atau meningkat 19,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi belanja, realisasi Belanja Negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari pagu APBN. Jumlah tersebut meningkat 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Belanja Pemerintah Pusat (BPP) tercatat sebesar Rp1.059,3 triliun yang didukung peningkatan belanja Kementerian/Lembaga (K/L) maupun belanja non-K/L. Adapun Transfer ke Daerah (TKD) telah terealisasi sebesar Rp306,1 triliun atau 44,2 persen dari target APBN.
Sementara itu, realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp379,4 triliun atau 55,1 persen dari target yang telah ditetapkan pemerintah.
Meski menjalankan kebijakan fiskal yang ekspansif, kondisi APBN tetap berada dalam koridor yang sehat. Hingga akhir Mei 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai dengan perencanaan pemerintah.
Selain itu, keseimbangan primer masih mencatatkan surplus sebesar Rp58,6 triliun. Kondisi tersebut mencerminkan pengelolaan fiskal yang tetap disiplin dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan ekonomi global.
Pertumbuhan Ekonomi Tetap Kuat
Di tengah ketidakpastian global yang dipengaruhi berbagai faktor geopolitik, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada triwulan I tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan, melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara ASEAN maupun kelompok G20.
Kinerja positif tersebut didukung oleh berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan perbaikan. Salah satunya terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang pada Mei 2026 berada di level 50,0 dan kembali masuk ke zona ekspansi.
Dari sektor eksternal, Indonesia juga mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026. Sepanjang Januari-April 2026, nilai ekspor mencapai USD92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja perdagangan tersebut menunjukkan daya saing produk nasional yang tetap terjaga sekaligus mencerminkan aktivitas ekonomi dan investasi yang terus bergerak positif.
Kepercayaan Investor Tetap Tinggi
Kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia juga masih kuat. Hingga 3 Juni 2026, arus modal asing masuk (net inflow) pada triwulan II tercatat mencapai Rp60,9 triliun, terutama melalui investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, aliran modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai Rp32,8 triliun, menunjukkan optimisme investor terhadap fundamental ekonomi nasional.
Di sisi lain, stabilitas harga tetap terkendali dengan tingkat inflasi pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan Bank Indonesia.
Pemerintah menegaskan akan terus menjaga kesehatan APBN, memperkuat stabilitas sektor keuangan, serta mempertahankan kepercayaan pasar melalui pengelolaan fiskal yang prudent dan kredibel.
Dengan kinerja pendapatan yang tumbuh kuat, belanja yang semakin produktif, serta berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan tren positif, APBN 2026 diharapkan terus menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi, mempercepat pertumbuhan, serta mendukung pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan. (Gate 13/Foto: Ist./KLI)

