Opini

30 Menit Bersama Ajrun Karim, Membaca Masa Depan Energi Bali

Oleh Ngurah Sigit*

Senin, 28 September 2026, menjadi sebuah pertemuan singkat tetapi cukup untuk membuka percakapan mengenai persoalan besar yang sedang dihadapi Bali: energi, pertumbuhan ekonomi, lingkungan, dan kebutuhan menjaga keberlanjutan pulau.

Selama kurang lebih 30 menit, kami berdiskusi dengan General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali, Ajrun Karim, di kantor PLN UID Bali. Percakapan tersebut membawa satu kesadaran penting bahwa masa depan energi Bali tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan pariwisata, perkembangan ekonomi, kebutuhan masyarakat, serta tuntutan menjaga lingkungan.

Persoalannya bukan sekadar bagaimana menyediakan listrik yang cukup, tetapi bagaimana memastikan energi tersebut tersedia secara andal, semakin bersih, dan mampu menopang pembangunan dalam jangka panjang.

Kebutuhan Energi Terus Meningkat

Data terbaru PLN menunjukkan kebutuhan listrik Bali memang sedang mengalami peningkatan. Pada Semester I 2026, konsumsi listrik Bali tumbuh 8,02 persen. Beban puncak sistem kelistrikan Bali juga telah mendekati 1.300 megawatt (MW). Hingga Agustus 2026, penjualan listrik PLN UID Bali mencapai sekitar 5.487 gigawatt hour (GWh), tumbuh 8,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa listrik semakin erat dengan aktivitas masyarakat Bali. Hotel, restoran, pusat perdagangan, industri kreatif, fasilitas publik, rumah tangga, hingga berbagai kegiatan ekonomi membutuhkan pasokan listrik yang stabil.

Karena itu, pembicaraan tentang kemandirian energi tidak bisa hanya ditempatkan sebagai agenda lingkungan. Ia juga berkaitan langsung dengan daya dukung ekonomi Bali.

Ajrun sendiri sebelumnya menyampaikan bahwa PLN UID Bali terus memperkuat sistem kelistrikan sekaligus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan untuk menjawab pertumbuhan kebutuhan listrik yang didorong aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Dalam konteks itulah gagasan Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih memperoleh relevansinya.

Dari Matahari hingga Sampah

Bali kini memasuki fase penting dalam pengembangan energi surya. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dan PLN telah menyepakati percepatan pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan.

Secara keseluruhan, Bali ditargetkan mengembangkan lima klaster PLTS dengan kapasitas total 1.000 MWp yang didukung Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 3.300 MWh. Klaster Gilimanuk menjadi salah satu proyek awal dengan kapasitas PLTS 300 MWp dan BESS 1.000 MWh.

Program tersebut merupakan bagian dari Program PLTS nasional 100 GWp yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Bali pada 25 Agustus 2026. Pemprov Bali menempatkan program tersebut sebagai salah satu fondasi menuju Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih paling lambat pada 2030.

Namun, transisi energi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan pembangkit baru. Sistem kelistrikan juga harus mampu mengintegrasikan energi yang dihasilkan, menyediakan penyimpanan, memperkuat jaringan, serta memastikan pasokan tetap andal ketika produksi energi terbarukan mengalami perubahan.

Di sinilah BESS memiliki peran penting. Teknologi penyimpanan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara produksi energi surya dan kebutuhan listrik.

Transformasi energi Bali juga bersinggungan dengan persoalan sampah.

Sejak 1 April 2026, TPA Regional Sarbagita Suwung tidak lagi menerima sampah organik. Kebijakan tersebut mendorong pengelolaan sampah dilakukan sejak dari sumber, sementara TPA diarahkan menerima sampah anorganik dan residu.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan Bali membutuhkan perubahan pola pengelolaan, bukan sekadar memperbesar kapasitas tempat pembuangan.

Pada 8 Juli 2026, pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya juga memasuki tahap groundbreaking. Fasilitas tersebut dirancang mengolah sedikitnya 1.200 ton sampah per hari dari Denpasar dan Badung serta ditargetkan beroperasi pada akhir 2027.

Dengan demikian, matahari dan sampah kini sama-sama masuk dalam percakapan mengenai masa depan energi Bali. Tetapi keduanya tetap membutuhkan teknologi, tata kelola, investasi, regulasi, dan pengawasan yang kuat.

Energi Bersih Harus Realistis

Ada satu hal yang menurut saya penting dari percakapan singkat bersama Ajrun Karim: pembicaraan tentang energi bersih harus ditempatkan secara realistis.

Bali tidak bisa begitu saja mengganti seluruh kebutuhan energi fosil dalam waktu singkat. Sistem kelistrikan adalah sebuah ekosistem yang membutuhkan perencanaan bertahun-tahun, investasi besar, kesiapan jaringan, teknologi penyimpanan, sumber pembiayaan, serta koordinasi banyak pihak.

Karena itu, target Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih perlu dibaca sebagai proses bertahap.

PLTS 1.000 MWp dan BESS 3.300 MWh merupakan langkah besar, tetapi bukan satu-satunya pekerjaan. Penguatan jaringan transmisi dan distribusi, peningkatan keandalan sistem, pengembangan teknologi penyimpanan energi, efisiensi penggunaan listrik, serta pengelolaan permintaan juga menjadi bagian penting.

Bali bahkan menghadapi tantangan lain: pertumbuhan kebutuhan listrik berjalan bersamaan dengan tuntutan agar pembangunan pariwisata tetap memperhatikan daya dukung lingkungan. Di titik ini, energi bukan lagi sekadar urusan PLN.

Pemerintah daerah memiliki peran melalui kebijakan dan tata ruang. Pemerintah pusat melalui regulasi, pembiayaan, dan kebijakan energi. PLN melalui sistem kelistrikan dan pembangunan infrastruktur. Dunia usaha melalui investasi. Sementara masyarakat memiliki peran melalui perilaku penggunaan energi dan pengelolaan lingkungan. Semua unsur tersebut harus bergerak dalam arah yang sama.

Dari Bali untuk Masa Depan

Bali memiliki posisi yang unik. Pulau ini membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk menopang kehidupan masyarakat sekaligus industri pariwisata yang menjadi salah satu penggerak ekonominya. Pada saat yang sama, Bali memiliki kepentingan besar untuk menjaga lingkungan yang menjadi bagian dari daya tariknya.

Karena itu, transisi energi Bali memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar mengganti sumber listrik. Ketika kebutuhan listrik tumbuh 8,48 persen hingga Agustus 2026, tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut diikuti pasokan yang cukup dan sistem yang semakin andal.

Ketika PLTS 1.000 MWp dan BESS 3.300 MWh mulai dipersiapkan, tantangannya adalah memastikan proyek tersebut terintegrasi dengan sistem kelistrikan secara efektif.

Ketika sampah organik tidak lagi diterima di TPA Suwung, tantangannya adalah memastikan masyarakat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan pengelola sampah benar-benar mampu menjalankan pengolahan dari sumber.

Dan ketika PSEL mulai dibangun, tantangannya adalah memastikan teknologi tersebut menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang terpadu, bukan sekadar proyek pembangkit energi. Inilah pekerjaan besar Bali dalam beberapa tahun ke depan.

Percakapan selama 30 menit mungkin singkat. Tetapi dari sana terlihat bahwa kemandirian energi bukan sebuah slogan yang selesai dengan satu proyek.

Ia merupakan perjalanan panjang. Perjalanan untuk menyediakan listrik yang cukup. Perjalanan untuk memperkuat jaringan. Perjalanan untuk mengembangkan energi terbarukan. Perjalanan untuk mengelola sampah dengan lebih baik. Dan yang tidak kalah penting, perjalanan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan lingkungan.

Bali membutuhkan energi untuk tumbuh. Namun Bali juga membutuhkan alam yang sehat agar pertumbuhan itu memiliki masa depan.

Karena itu, cita-cita Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih pada akhirnya bukan hanya tentang berapa megawatt listrik yang berhasil dibangun. Lebih jauh, ia tentang bagaimana sebuah pulau merancang masa depannya dengan mempertimbangkan kebutuhan manusia, perkembangan ekonomi, teknologi, dan daya dukung alam secara bersamaan.

Dari Bali, percakapan tentang energi bersih seharusnya tidak berhenti pada pembangunan pembangkit. Ia harus berlanjut menjadi gerakan bersama untuk membangun sistem energi yang andal, efisien, berkelanjutan, dan mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari Bali untuk Indonesia: energi yang cukup, sistem yang andal, dan lingkungan yang tetap terjaga.

*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan, dan Pemerhati Media.


Discover more from sandimerahputih.com

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from sandimerahputih.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading