Guruh Soekarnoputra: Merawat Kebudayaan Indonesia Lewat Seni
Oleh Ngurah Sigit*
Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh penting dalam perjalanan seni dan kebudayaan. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, yang dikenal luas sebagai Guruh Soekarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun.
Kepergian putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati tersebut meninggalkan catatan panjang tentang perjalanan seorang seniman yang selama puluhan tahun mengembangkan musik, tari, koreografi, busana, dan seni pertunjukan dengan menjadikan kebudayaan Indonesia sebagai salah satu sumber utama kreativitasnya.
Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Sejak usia muda, ia telah menekuni seni tari dan musik. Namanya kemudian dikenal melalui berbagai karya dan kelompok seni yang didirikannya, antara lain Guruh Gipsy, Swara Mahardhika, dan GSP Production. Ia juga dikenal sebagai pencipta lagu, komposer, koreografer, serta penggagas berbagai pertunjukan seni.
Salah satu kekuatan perjalanan kreatif Guruh terletak pada keberaniannya mempertemukan unsur tradisi Indonesia dengan perkembangan musik dan seni pertunjukan modern. Melalui Guruh Gipsy, misalnya, unsur musik Nusantara dipadukan dengan musik kontemporer. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi dapat terus berkembang tanpa harus kehilangan identitasnya.
Dalam konteks kebudayaan Indonesia, karya Guruh menjadi penting karena tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk-bentuk seni tradisional. Ia juga berusaha menghadirkan kembali nilai dan estetika Nusantara dalam bahasa seni yang dapat diterima oleh masyarakat pada zamannya.
Hal itu terlihat dalam berbagai karya musik dan pertunjukan yang melibatkan unsur tari, musik, tata panggung, busana, dan visual secara bersamaan. Dengan pendekatan tersebut, Guruh tidak hanya menciptakan karya seni, tetapi juga membangun ruang bagi kebudayaan Indonesia untuk terus hadir dalam perkembangan zaman.
Seni, Kebudayaan, dan Pengabdian
Perjalanan Guruh tidak hanya berlangsung di panggung seni. Ia juga pernah terlibat dalam dunia politik dan menjadi anggota DPR RI. ANTARA mencatat Guruh pernah menjadi anggota DPR RI pada periode 1992-1997 dan kemudian kembali terpilih untuk sejumlah periode berikutnya hingga 2019-024.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perhatian Guruh terhadap kebudayaan juga dibawa ke ruang kebijakan publik. Dalam perjalanan politiknya, persoalan pendidikan, kebudayaan, serta perlindungan terhadap pekerja seni menjadi bagian dari perhatian yang ia perjuangkan.
Namun, jejak Guruh yang paling kuat tetap berada di bidang seni.
Karya-karyanya menunjukkan keyakinan bahwa kebudayaan tidak cukup hanya dipelihara sebagai warisan masa lalu. Kebudayaan harus diberi ruang untuk berkembang, ditafsirkan kembali, dan dipertemukan dengan perkembangan zaman.
Pandangan semacam itu menjadi semakin relevan ketika kebudayaan Indonesia menghadapi perubahan yang sangat cepat. Globalisasi, teknologi digital, industri hiburan, dan perubahan pola konsumsi masyarakat membuat generasi baru memiliki cara yang berbeda dalam mengenal seni dan budaya.
Dalam situasi tersebut, tantangan kebudayaan bukan hanya bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana membuat tradisi tetap memiliki makna bagi generasi berikutnya.
Guruh telah memberikan salah satu contoh melalui perjalanan kreatifnya.
Ia tidak memilih untuk menjauh dari perubahan. Sebaliknya, ia berusaha membawa unsur budaya Indonesia masuk ke dalam bentuk-bentuk ekspresi yang lebih modern. Musik, tari, busana, dan pertunjukan menjadi medium untuk memperkenalkan kembali identitas Indonesia dalam bentuk yang lebih luas.
Karena itu, mengenang Guruh tidak cukup hanya dengan mengingat nama besar keluarganya atau daftar karya yang pernah dihasilkan.
Yang lebih penting adalah melihat gagasan yang berada di balik perjalanan tersebut: bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan akar kebudayaan.
Warisan untuk Generasi Berikutnya
Guruh juga meninggalkan warisan yang lebih luas melalui karya dan ruang kreatif yang pernah dibangunnya.
Salah satu karya yang terus dikenang adalah lagu “Kala Sang Surya Tenggelam” yang dipopulerkan Chrisye. Ia juga pernah mendirikan Gank Pegangsaan bersama sejumlah musisi, termasuk Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye.
Bagi dunia seni Indonesia, perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana seorang seniman dapat membangun karya melalui kolaborasi lintas disiplin. Musik tidak berdiri sendiri, tetapi dapat berhubungan dengan tari, koreografi, busana, tata panggung, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya.
Karya-karya semacam itu menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan kebudayaan Indonesia pada masanya.
Kepergian Guruh juga mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, mengenang Guruh sebagai seorang seniman yang juga berkarya dalam seni lukis. SBY mengungkapkan pernah berkolaborasi dengan Guruh dalam sebuah pameran sekitar dua tahun lalu.
Sementara itu, sejumlah tokoh seni, politik, dan pemerintahan datang melayat ke rumah duka. Keluarga kemudian memakamkan Guruh di TPU Karet Bivak, Jakarta, di sebelah pusara ibundanya, Fatmawati.
Kepergian Guruh menjadi momentum untuk kembali melihat posisi kebudayaan dalam perjalanan pembangunan Indonesia.
Pembangunan tidak hanya membutuhkan infrastruktur, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi. Sebuah bangsa juga membutuhkan identitas, ingatan sejarah, kreativitas, dan ruang bagi masyarakatnya untuk mengekspresikan kebudayaan.
Di sinilah warisan Guruh tetap relevan.
Ia memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap Indonesia dapat diwujudkan melalui kerja kebudayaan. Bukan hanya melalui pidato atau simbol, tetapi melalui proses kreatif yang menghasilkan karya dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenali kembali kekayaan budayanya.
Generasi berikutnya tentu menghadapi tantangan yang berbeda. Teknologi digital telah mengubah cara karya seni diciptakan, diproduksi, dipasarkan, dan dikonsumsi. Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama: bagaimana Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas budayanya?
Guruh telah memberikan sebagian jawabannya melalui perjalanan panjang di dunia seni.
Ia menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas tidak harus ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling berlawanan. Keduanya dapat dipertemukan melalui kreativitas.
Karena itu, penghormatan kepada Guruh tidak semestinya berhenti pada seremoni perpisahan. Yang lebih penting adalah memastikan ruang bagi seni dan kebudayaan Indonesia tetap terbuka bagi generasi baru.
Musik, tari, film, sastra, seni rupa, busana, dan berbagai bentuk ekspresi budaya membutuhkan generasi yang berani menciptakan sesuatu yang baru tanpa kehilangan hubungan dengan akar budayanya.
Guruh telah menempuh jalannya. Kini giliran generasi berikutnya melanjutkan perjalanan tersebut dengan cara mereka sendiri.
Selamat jalan, Guruh Soekarnoputra.
Karya dan pengabdianmu telah menjadi bagian dari perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia. Semoga warisan tersebut terus dipelajari, dikembangkan, dan menemukan kehidupan baru di tangan generasi yang akan datang.
*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan dan Pemerhati Media.
Discover more from sandimerahputih.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

