Buka ITMW 2026, Gubernur Koster Koster Usulkan Dukungan APBN untuk Infrastruktur Pariwisata Bali
Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster mendorong pemerintah pusat memberikan dukungan pembiayaan pembangunan infrastruktur yang lebih proporsional bagi Bali.
Usulan tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan besarnya kontribusi sektor pariwisata Pulau Dewata terhadap perekonomian nasional serta meningkatnya kebutuhan infrastruktur dan pelayanan publik.
Hal itu disampaikan Koster saat membuka The 2nd Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) 2026 di Ballroom Wantilan, Prama Sanur Beach Bali, Sanur, Denpasar, Sabtu (17/10/2026).
Dalam forum tersebut, Koster menegaskan bahwa pengembangan pariwisata berkualitas membutuhkan dukungan infrastruktur, transportasi, pengelolaan lingkungan, serta kebijakan pembiayaan yang mempertimbangkan karakteristik masing-masing daerah.
Menurutnya, Bali memiliki kebutuhan pembangunan yang berbeda karena infrastruktur dan layanan publik tidak hanya digunakan oleh masyarakat setempat, tetapi juga menunjang aktivitas jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahun.
Koster menilai pendekatan alokasi dana transfer ke daerah perlu memperhatikan kondisi khusus tersebut agar daerah dengan kontribusi ekonomi besar memiliki kemampuan memadai untuk membangun dan memelihara infrastruktur pendukung.
“Setahu saya sejak duduk di DPR, kita belum pernah membuat kebijakan yang memperhatikan kondisi spesifik daerah. Transfer dana pembangunan untuk infrastruktur dipolakan dengan treatment yang hampir seragam untuk setiap daerah. Akibatnya kita tak memandang wilayah seperti Bali yang memberi kontribusi cukup besar bagi negara,” ujarnya.
Pariwisata Bali Disebut Sumbang Rp176 Triliun Devisa
Dalam pemaparannya, Koster menyebutkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Bali sepanjang 2025 mencapai 16,3 juta kunjungan.
Berdasarkan data yang disampaikannya, sektor pariwisata Bali menghasilkan devisa sebesar Rp176 triliun atau sekitar 55 persen dari total devisa pariwisata nasional yang disebut mencapai Rp319,9 triliun.
Koster juga menyampaikan bahwa pariwisata memiliki peranan dominan dalam struktur perekonomian Bali.
“Kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Bali juga sangat tinggi, yaitu 66 persen,” sebutnya.
Menurut Koster, perkembangan sektor pariwisata turut memberikan dampak terhadap berbagai indikator makroekonomi daerah, termasuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB), penurunan tingkat kemiskinan, serta peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Ia menjelaskan bahwa pariwisata memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor sehingga pertumbuhannya dapat mendorong aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Pandangan tersebut, menurutnya, telah dipelajari sejak menjabat sebagai anggota DPR RI, baik melalui pendekatan teknokratis maupun pemahaman mengenai filosofi ekonomi.
Dengan merujuk pada Teori Hierarki Kebutuhan Maslow, Koster menjelaskan bahwa pada tingkatan kebutuhan tertentu, kegiatan berwisata menjadi salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan manusia.
“Karena itu, pariwisata adalah dunia yang paling nyata. Kalau kita mampu mendorong pertumbuhan sektor ini, maka akan berdampak pada sektor yang lain. Karena itu, harus dibangun dengan sangat detail,” katanya.
Meski menunjukkan perkembangan positif, Koster mengingatkan bahwa pertumbuhan pariwisata Bali juga diikuti sejumlah tantangan yang memerlukan penanganan serius.
Persoalan tersebut meliputi alih fungsi lahan sawah, pengelolaan sampah, kemacetan lalu lintas, keterbatasan transportasi publik, kebutuhan infrastruktur, hingga meningkatnya kasus penodaan tempat suci.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan potensi alam dan budaya Bali, tetapi membutuhkan pembenahan yang terencana serta dukungan pembiayaan berkelanjutan.
“Kalau budaya, itu memang sudah anugerah. Tapi untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas, itu saja tak cukup. Transportasi dan infrastruktur harus bagus, sampah teratasi, air tersedia dan lain-lain,” ungkapnya.
Koster menekankan bahwa kualitas pariwisata sangat bergantung pada kesiapan ekosistem pendukung, mulai dari konektivitas transportasi, ketersediaan air bersih, kebersihan lingkungan, hingga kenyamanan wisatawan dan masyarakat.
Karena itu, pembangunan infrastruktur harus dilakukan secara terintegrasi agar mampu meningkatkan daya saing destinasi sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat Bali.
Usulkan Dukungan Pembiayaan Setara Lima Persen Devisa
Untuk mempercepat pembangunan, Koster mengusulkan agar pemerintah pusat memberikan dukungan pembiayaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan nilai setara sedikitnya lima persen dari kontribusi devisa pariwisata Bali yang disebut mencapai Rp176 triliun.
Jika dihitung berdasarkan angka tersebut, usulan lima persen setara dengan sekitar Rp8,8 triliun.
Dukungan pembiayaan itu diharapkan dapat digunakan untuk memperkuat infrastruktur antarwilayah, meningkatkan konektivitas, serta membenahi berbagai fasilitas pendukung pariwisata.
Koster menilai peningkatan kualitas infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak karena persaingan pariwisata tidak lagi hanya berlangsung antardaerah di Indonesia, tetapi juga melibatkan destinasi internasional.
Ia menyebut Singapura, Malaysia, dan Thailand sebagai negara pembanding dalam pengembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas pelayanan pariwisata.
“Negara-negara itu yang kami jadikan role model untuk ditiru. Sebab kalau tidak, daya saing Bali akan turun,” tambahnya.
Menurut Koster, dukungan pembiayaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan daerah akan membantu Bali mempertahankan daya saing sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Ia berharap penguatan infrastruktur Bali juga dapat membuka peluang kerja sama dan konektivitas pariwisata dengan berbagai destinasi lain di Indonesia.
“Ini juga akan mengangkat ekonomi nasional karena devisa makin tumbuh. Setelah itu, baru kita mulai bicara bagaimana mengkoneksikan pariwisata Bali dengan daerah lain, sebagaimana yang menjadi tujuan dari pelaksanaan Forum ITMW ini,” pungkasnya.
ITMW 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi Pariwisata
The 2nd Indonesia Tourism Marketing Week 2026 merupakan forum tahunan yang digagas MarkPlus Tourism (MCorp) untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem pariwisata nasional.
Kegiatan yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di sejumlah lokasi di Bali tersebut mengusung tema “Reimagining Tourism: In a Fragmented World!”
Forum ini melibatkan unsur pemerintah, pengelola destinasi, pelaku industri, akademisi, serta praktisi pemasaran untuk membahas inovasi dan strategi penguatan daya saing pariwisata Indonesia di tengah dinamika global.
Founder and Chair MCorp, Hermawan Kartajaya, menyampaikan bahwa ITMW 2026 diarahkan untuk memperkuat pengembangan pariwisata melalui integrasi promosi digital, pemberdayaan komunitas lokal, serta penerapan prinsip keberlanjutan.
Ia menilai pengalaman Bali dalam pengelolaan pariwisata dapat menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain.
“Saya pikir, semua harus belajar dari Bali, juaranya di Indonesia,” ujar Hermawan.
Rangkaian ITMW 2026 juga diisi berbagai kegiatan, antara lain kompetisi meracik kopi, aksi konservasi lingkungan dan pelepasan tukik, pembahasan digitalisasi serta pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), hingga konferensi yang menghadirkan sejumlah pembicara nasional.
Melalui penyelenggaraan forum tersebut, para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi, mengembangkan inovasi, serta merumuskan strategi pariwisata yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Bagi Pemerintah Provinsi Bali, penguatan daya saing pariwisata melalui pembenahan infrastruktur dan peningkatan kualitas layanan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sektor yang memiliki peranan penting bagi perekonomian daerah.
(Red/Gate 13/Foto: Ist.)
Discover more from sandimerahputih.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

