Kabupaten/KotaPeristiwa

Bali Fokus Recovery dan Perbaikan Infrastruktur Pascabanjir

Denpasar – Hujan deras yang mengguyur Bali pada Kamis (11/9) pagi membawa duka. Air bah datang tiba-tiba, merendam rumah-rumah, merusak pasar, hingga merenggut nyawa. Namun di tengah kepanikan, lahirlah kekuatan lain yakni kebersamaan.

Di posko-posko pengungsian, warga bahu-membahu, adat dan pemerintah berpadu, menunjukkan wajah sejati Bali yang tetap ajeg meski diterpa bencana.

Wakil Gubernur (Wagub) Bali I Nyoman Giri Prasta bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto hadir langsung di tengah warga.

Mereka tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga menegaskan bahwa pemulihan infrastruktur jalan, rumah, dan fasilitas publik akan menjadi fokus utama setelah banjir reda.

“Pemerintah hadir di sini bukan hanya untuk meninjau, tapi juga untuk memastikan setiap korban mendapat perhatian. Rumah rusak berat akan diganti, rusak sedang dan ringan juga akan dibantu. Infrastruktur yang terendam segera dipulihkan,” tegas Suharyanto.

Namun di balik penanganan formal dari pemerintah, ada kekuatan lain yang tak kalah penting: peran masyarakat adat. Sejak dahulu, pecalang satuan pengamanan adat Bali menjadi garda terdepan menjaga keamanan dan keteraturan desa.

Kali ini, mereka bukan hanya mengatur lalu lintas atau menjaga upacara, melainkan ikut mengevakuasi warga, membantu menyalurkan logistik, hingga menenangkan anak-anak yang ketakutan.

Perbekel Desa Kesiman Kertalangu Made Suwena, menceritakan bagaimana solidaritas adat bekerja.

“Warga yang rumahnya masih aman membuka pintu bagi tetangganya. Pecalang ikut berjaga di posko, memastikan semua berjalan tertib. Sementara krama desa saling bantu membersihkan lumpur dan puing-puing,” ujarnya.

Dari 52 warga yang sempat mengungsi di Banjar Tohpati, kini tersisa 26 orang. Mereka terdiri dari lansia, anak-anak, hingga bayi berusia empat bulan. Sementara itu, total korban banjir di wilayah Tohpati mencapai 124 jiwa.

Menurut analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), banjir kali ini bukan peristiwa biasa.

Curah hujan ekstrem akibat gelombang Rossby dan Kelvin membuat volume air yang biasanya turun dalam tiga bulan, tumpah hanya dalam sehari. Alam menumpahkan amarahnya, dan Bali harus bersabar.

Namun, di tanah yang dijaga adat dan tradisi, bencana bukan akhir. Dalam filosofi Bali, setiap cobaan adalah bagian dari siklus alam yang harus dihadapi dengan ‘tatwam asi’ aku adalah kamu, kamu adalah aku. Spirit inilah yang membuat warga tetap tegar.

“Bali tidak hanya butuh pembangunan fisik, tapi juga harmoni. Dengan musyawarah, dengan kebersamaan, kita akan pulih,” kata Giri Prasta, dengan nada penuh harap.

Meski duka masih menyelimuti dengan 14 korban meninggal dan dua orang belum ditemukan, Bali menunjukkan ketahanan sosialnya. Pemerintah menyiapkan skema bantuan, BNPB mengawal pemulihan, sementara desa adat memastikan warga tidak kehilangan rasa aman.

Di setiap posko, terlihat wajah-wajah letih bercampur syukur. Anak-anak bermain bersama meski beralaskan tikar tipis. Lansia berbagi cerita tentang banjir masa lalu, sementara pecalang tetap berjaga, memastikan tidak ada yang tercecer.

Bali kembali membuktikan dirinya: ketika alam menguji, budaya dan solidaritas menjadi penopang. (Gate 13/Foto: Ist.)


Discover more from sandimerahputih.com

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from sandimerahputih.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading