Indonesia Siap Kendalikan Sampah Plastik

Jakarta |
Indonesia siap memimpin pengembangan komitmen dan rencana aksi pengendalian sampah laut dan mikroplastik di kawasan Asia Tenggara. Kesiapan ini telah diatur dengan baik secara kebijakan dan teknis , serta kolaborasi dan koordinasi di tingkat regional dan internasional.

Hal itu disampaikan Delegasi Republik Indonesia (DELRI), Sabtu (2/6) saat mengikuti Pertemuan Ad-HocOpen-Ended Expert Groupon Marine Litter and Microplastics, di kantor sekretariat United Nations Environment Programme (UNEP) di Nairobi, Kenya.

Selaku Ketua DELRI, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan, bahwa Indonesia telah melakukan program proritas memperbaiki pengelolaan sampah di beberapa lokasi wisata, termasuk taman nasional laut untuk mencegah dan mengumpulkan sampah plastik di laut untuk didaur ulang, serta mengatasi isu dampak sampah plastik dan mikroplastik.

“Pada tahun 2017 telah dilakukan monitoring dan survey sampah plastik di laut, menggunakan pedoman UNEP dan NOAA di 18 wilayah pesisir di 18 kota/kabupaten, dari 25 kota/kabupaten prioritas, dan akan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya. ” terang Vivien.

Vivien menambahkan, sebagaimana target pengelolaan sampah sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 tahun 2017, yaitu mengurangi sampah dari sumbernya sebesar 30 persen, dan penanganan sampah sebesar 70 persen di tahun 2025, bahwa Indonesia menyesuaikan komitmen di tingkat internasional, dengan target pengurangan sampah laut sebesar 70 persen di tahun 2025.

“Indonesia telah mengembangkan kerangka hukum dan teknis untuk pelaksanaan extended producer responsibility (EPR), dan saat ini sedang disusun rencana aksi nasional yang dikoordinasikan oleh Kemenko Maritim,” lanjutnya.

Dukungan juga disampaikan Indonesia kepada 193 negara anggota UNEP, untuk melakukan penyusunan pedoman yang komprehensif, dalam pengukuran dan penilaian dampak sampah laut dan mikroplastik di semua aspek.

Sementara Direktur Eksekutif UN Environment, Erik Solheim, mengimbau agar semua pihak mengurangi pemakaian plastik, dan menggantinya dengan bahan yang terurai secara alami, serta merancang kemasan plastik daur ulang, sehingga dapat mengurangi pencemaran sampah plastik.

“Sampah plastik yang berada di laut dan gunung-gunung, terutama mikroplastik, sudah mulai mengganggu mekanisme pencernaan biota laut dan burung-burung. Oleh karena itu UN Environment mendorong kampanye pengurangan sampah plastik kepada setiap lapisan masyarakat”, tegasnya.

Terkait hal tersebut, Erik juga menyampaikan bahwa puncak kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018 akan dilaksanakan di India, dengan tema “Beat Plastic Pollution” atau Kendalikan Sampah Plastik.

Pertemuan Ad Hoc Open-Ended Expert Group on Marine Litter and Microplastics, yang berlangsung selama 29-31 Mei 2018, merupakan pertemuan kedua setelah bulan Desember 2017. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Dubes Indonesia di Nairobi, perwakilan Uni Eropa, lembaga internasional, LSM, sektor swasta dan beberapa aliansi masyarakat serta para pakar.

Mewakili KLHK, Direktorat Pengelolaan Sampah, Ditjen PSLB3 beserta Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut, Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan.

Berita: Mh | Foto: Istimewa/Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.