Wonderful Indonesia Go Digital Penuhi Tuntutan Jaman di Sektor Pariwisata

Jakarta |
Seiring dengan perubahan konsumen yang makin digital dan hyper-connected, kini muncul tren sharing economy di sektor pariwisata.

Model bisnis berbagi ini merupakan cara baru yang dilakukan oleh generasi baru milenial untuk melakukan bisnis dengan cara yang lebih efisien yaitu saling berbagi dalam memanfaatkan aset atau resources.

Hal itu diutarakan oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memaparkan program Wonderful Indonesia Go Digital dalam diskusi bertajuk ‘Perkembangan Teknologi Digital di Indonesia’ yang berlangsung di Kantor Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jakarta, Senin (12/3).

Menurut Arief, dahulu dalam pendekatan owning economy harus menguasai, membeli aset, memerlukan capital expenditure, dan banyak idle capacity.

“Sekarang ini dengan sharing economy tanpa harus melakukan hal tersebut akan lebih banyak memanfaatkan semaksimal mungkin idle capacity atau lebih super-efisien,” katanya.

Dengan menerapkan sharing economy, sambung Arief, kini bermunculan perusahaan-perusahaan digital yang mampu secara revolusioner mengubah lanskap industri pariwisata.

“Misalnya, perusahaan AirBnB yang sama sekali tidak memiliki hotel kini bisa menjadi perusahaan pemesanan kamar terbesar di dunia. Demikian halnya perusahaan Uber yang tidak memiliki armada taksi bisa menjadi perusahaan pemesanan taksi terbesar di dunia,” sebut Menpar Arief.

Melihat adanya tren dunia tersebut, Menteri Arief menegaskan bahwa industri pariwisata nasional harus mengambil peluang dari munculnya sharing economy untuk menyatukan dan mengkolaborasikan seluruh elemen Pentaheliks (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media) dalam payung Indonesia Incorporated.

Maka dari itu, ungkap Arief, pihaknya sejak tahun lalu berinisiatif mengembangkan Indonesia Travel Exchange (ITX) sebagai platform online travel agent (OTA) B to B.

Arief merinci, ITX dapat digunakan oleh setiap pelaku industri atau komunitas untuk menempatkan inventori yang dimiliki dan kemudian dapat digunakan untuk menawarkan paket-paket wisata kepada para travellers di seluruh dunia.

“Dalam platform sharing atau platform market place tersebut pelaku industri pariwisata atau komunitas sebagai pemasok dapat menginformasikan apa yang dimiliki dan dapat digunakan, dan traveller dapat melakukan look-book-pay secara mudah, murah, dan cepat,” papar Arief Yahya.

Diiskusi hari itu dipimpin oleh Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih. Tampak hadir Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng, dan Anggota Wantimpres Suharso Monoarfa.

Berita: Sigit | Foto: Istimewa/Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *