Sukses Wayang Orang Betawi, Museum Seni Gelar Wayang Kulit Bali

Jakarta |
Pergelaran Wayang Orang Betawi dengan cerita Bambang Kumara dan dalang Ki Nemit Sukarlana yang berlangsung di Museum Wayang, Kota Tua Jakarta, Minggu (4/3) yang lalu, cukup banyak diminati pengunjung museum.

Selanjutnya Unit Pengelola Museum Seni Jakarta akan menggelar pertunjukan Wayang Kulit Bali di tempat yang sama dengan dalang Ki Gede Adi Putra.

Hal itu diungkapkan Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Museum Wayang Unit Pengelola (UP) Museum Seni, Sumardi SSos di Jakarta, Selasa (6/3).

“Penontonnya mencapai 200 an orang sesuai kapasitas auditorium Museum Wayang. Dari jumlah itu yang duduk sekitar 150-an dan yang berdiri 50 an orang silih berganti,” kata Sumardi yang juga berprofesi sebagai dalang.

Dikatakannya, pengunjung Museum Wayang pada hari Minggu (4/3) itu mencapai 2.642 orang. Diantaranya wisatawan mancanegara 23 orang, yang mayoritas dari Prancis dan Jepang.

Menurut Sumardi, Nemit Sukarlana berdomisili di Bekasi, tetapi sebagai dalang dia masuk pembinaan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Jakarta Timur.

Diakuinya pula, cerita yang dibawakan berjudul “Bambang Kumara” bukan cerita pakem (baku). Namun tetap menceritakan tokoh wayang seperti Arjuna dan saudaranya Pandawa bersama Punakawan.

“Semar dan Gareng sama seperti punakawan Jawa, tetapi Petruknya menjadi Udel dan Bagong menjadi Cepot seperti Sunda,” ungkapnya.

Dalam wayang orang Betawi ada pemain yang memakai topeng ketika berdialog diwakili dalang. Sedangkan yang tidak memakai topeng dapat berbicara sendiri sesuai skenario. “Pemain Wayang Orang Betawi umumnya juga pemain Lenong,” jelasnya.

Rudy Bahawan , staf Museum Wayang yang mengikuti jalannya pertunjukan tersebut mengakui dialog pemain wayang orang Betawi mirip Lenong. “Interaksinya dengan penonton cukup berhasil,” kata Rudy yang mendapat tugas mendokumentasikan pergelaran tersebut.

Dijadwalkan dalam setahun 2018 ini ada 10 kali pergelaran wayang Betawi di Museum Wayang yang terbagi dalam bentuk pertunjukan wayang orang, wayang kulit dan wayang golek.

Pergelaran wayang kulit Betawi di luar museum dijadwalkan 2 kali. “Durasinya bisa mencapai 7 sampai 8 jam,” sebut Sumardi Dalang.

Sumardi juga menjelaskan pergelaran Wayang Orang Betawi pada Ahad yang lalu hanya berdurasi 2 jam. Yang 2 jam sisanya diisi musik dengan lagu-lagu gambang kromong.

Mengenai pergelaran Wayang Kulit Bali pada hari Minggu (11/3) mendatang, direncanakan akan mengangkat cerita tokoh Senopati Karna.

Wayang kulit Bali koleksi Museum Wayang ukurannya lebih kecil dibanding wayang kulit Jawa. Namun hampir sama dengan Wayang Kulit Sasak dari Lombok.

Abu Galih seorang pengamat pariwisata dan budaya menuturkan, beberapa kali ke Bali mengaku belum pernah disuguhi pertunjukan wayang kulit Bali. Yang sering disuguhkan tari pendet , kecak, atau sandiwara.

“Makanya bagi yang gemar wayang, itu nanti kesempatan nonton wayang kulit Bali tanpa harus terbang ke Pulau Dewata,” ujarnya.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *