Pemerintah Tetapkan Target Kunjungan Wisatawan di Taman Nasional Komodo

Jakarta |
Pemerintah menetapkan target kunjungan wisatawan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo (TNK) di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Penetapan target kumjungan, merupakan langkah awal pengembangan pariwisata Labuan Bajo dan TN Komodo yang diharapkan dapat menciptakan ’10 Bali baru’ dalam rencana pembangunan pariwisata nasional.

Salah satu dampak persoalan yang harus dibenahi untuk meningkatkan citra baik dari Labuan Bajo dan TN Komodo untuk menarik wisatawan, salah satunya adalah pengelolaan sampah.

Karena salah satu indikator tujuan pariwisata yang baik adalah lingkungannya bersih dari sampah, dan menjadi salah satu kunci dari keberhasilan pengembangan daerah tujuan wisata.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (Ditjen PSLB3) berupaya mempercepat pembangunan pengelolaan sampah di Labuan Bajo dan TN Komodo.

Percepatan pembangunan meliputi perbaikan manajemen pengelolaan sampah, penyediaan sarana dan prasarana, peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dan masyarakat, gerakan aksi bersih-bersih (clean up action), serta program peningkatan kesadaran dan kepedulian publik melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi.

Ditjen PSLB3 sedang menyiapkan pembangunan pusat daur ulang (PDU) di Kota Labuan Bajo dengan kapasitas olah sampah 5 ton perhari yang dapat ditingkatkan menjadi 10 ton per hari jika diperlukan. PDU tersebut akan dibangun pada lahan aset Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat seluas 2.000 m2.

Direktur Jenderal PSLB3 Rosa Vivien Ratnawati menyatakan, KLHK sedang membangun Labuan Bajo Recycling Park (LBRP), yang merupakan pusat daur ulang yang terintegrasi meliputi unit komposting, unit bank sampah induk, unit urban farming tanaman organik, dan pusat pelatihan (training center).

“LBRP ini diharapkan dapat menyelesaikan 50-60 persen persoalan sampah di Labuan Bajo dengan memanfaatkan sampah sebagai sumberdaya yang dikenal sebagai prinsip circular economy,” kata Dirjen PSLB3 Rosa Vivien Ratnawati dilansir Biro Humas KLHK, Kamis (29/3).

Selain di Kota Labuan Bajo, sambung Rosa, persoalan sampah di Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) juga menjadi perhatian serius, khususnya sampah plastik.

Bagian terbesar Kawasan TN Komodo adalah laut, dan jika masalah sampah plastik ini tidak ditangani dengan sungguh-sungguh maka dapat mengancam keberlanjutan TNK sebagai tujuan pariwisata internasional.

Ditjen PSLB3 bersama dengan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) dan Balai TN Komodo, sedang bekerja menyiapkan pola pengelolaan sampah di Kawasan TN Komodo. Beberapa hal yang perlu untuk segera diatur adalah mengenai pelarangan penggunaan kantong plastik, pembatasan makanan dan minuman berkemasan plastik.

Tidak kalah penting adalah penyediaan kapal angkut sampah plastik yang melayani kampung dan daerah wisata di pulau-pulau di Kawasan TN Komodo untuk dibawa serta diolah di Labuan Bajo.

Saat ini, kampanye publik dan aksi bersih-bersih (clean up action) terus dilakukan di daerah perkotaan, sungai, pesisir, dan laut di Kota Labuan Bajo dan TN Komodo.

Tahun 2018 ini setidaknya ada 9 kegiatan clean up dan kampanye publik yang sudah dan akan dijalankan setiap bulan mulai dari Februari sampai dengan Oktober.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, masyarakat peduli sampah, praktisi pengelola sampah, pengusaha hotel dan restoran, pengusaha wisata diving, produsen air minuman dalam kemasan, pelajar dan pramuka, organisasi keagamaan, Polri, TNI, otoritas pelabuhan, dan unsur lainnya.

Berkaitan dengan pelaksanaan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) Annual Meeting yang akan dilaksanakan pada Oktober 2018 di Nusa Dua Bali, Pemerintah akan menawarkan paket-paket wisata kepada peserta pertemuan tersebut beserta keluarganya dengan target kunjungan 3.000 orang.

Labuan Bajo dan TN Komodo dipromosikan sebagai salah satu tujuan wisata pendukung kegiatan tersebut. Untuk itu percepatan pembangunan pengelolaan sampah di kedua destinasi tersebut menjadi sangat penting dan prioritas.

Berita: Mh | Foto: Istimewa/Ilustrasi/KSDAE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *