Sambut Natal dan Tahun Baru, Museum Wayang Suguhkan Pergelaran Wayang Wahyu

Jakarta |
Setelah sukses menyuguhkan Wayang Sadad untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada Ahad (3/12), kali ini Museum Wayang di Kota Tua Jakarta mennggelar pertunjukan Wayang Wahyu, Minggu (17/12).

Dalam pergelaran Wayang Wahyu hari itu, Ki Dalang Wahyu Dunung Raharjo membawakan cerita Lahirnya Nabi Isa Almasih.

Tercatat, pengunjung Museum Wayang hari itu sebanyak 3.848 orang, termasuk 25 orang wisatawan mancanegara (wisman) dari India, Cina, Kanada dan Singapura.

Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang Sumardi SSos, mengatakan, para penonton juga memenuhi ruang auditorium yang berkapasitas lebih dari 100 an pengunjung.

Dari tiga ribuan pengunjung, kata Sumardi, ada dua wisatawan Singapura yang sedang belajar gamelan sempat berdialog dengannya.

“Mereka baru dari Bogor kemari ingin tahu. Sempat saya tes menabuh gamelan. Ternyata okey juga,” kata Sumardi yang lulusan SMK Kesenian di Solo itu.

Begitu pula waktu pergelaran Wayang Sadat atau Syahadat, Ahad (3/12), pengunjung Museum Wayang mencapai 2.263 orang, termasuk 46 wisman. Sebagian besar waisman berasal dari Kanada, Jepang, Jerman dan Norwegia.

Wayang Sadad, kata Sumardi, merupakan wayang pada zaman Sunan Kalijaga dan para Wali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 16. Wayang Sadad disebut juga Wayang Santri.

Sementara Wayang Wahyu yang digelar hari Minggu itu, merupakan wayang kreasi Broeder TM Soebroto tahun 1960 dengan cerita para nabi dari Injil. “Museum Wayang punya koleksi Wayang Wahyu 128 wayang kulit dari tahun 1975,” ujarnya.

Hadir pula pada pergelaran Wayang Wahyu itu Ketua I PEPADI DKI Jakarta H Darudjimat dan Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 124, Jakarta Selatan.

“Sebelum pergelaran wayang memang ditampilkan grup karawitan siswa siswa SMP Negeri 124, dari Kemang, Jakarta Selatan,” tutur Sumardi.

Sekitar 30 siswa SMP itu ikut di dalamnya, termasuk yang menjadi nayaga atau penabuh gamelan dan wiraswara atau pesinden.

Melonjaknya pengunjung tersebut diperkirakan akibat Museum Sejarah Jakarta di depannya tutup karena sedang ada perbaikan ruang tata pamer koleksi. “Namun mengunjungi museum tentu memiliki niat dan minat,” ujar pria yang juga biasa disapa Sumardi Dalang.

Buktinya, sambung Sumardi, di luar Museum Wayang ribuan pengunjung Kota Tua bersantai di Taman Fatahillah. “Ada yang ngobrol, berfoto selfie atau bergantian dan ada juga yang bermain dalam ruang berjeruji besi bagaikan penjara,” pungkasnya.

Ruang jeruji besi yang menarik perhatian pengunjung itu, merupakan tempat bembentuk huruf huruf yang berbunyi MORALITY, dan letaknya berada di sebelah timur laut Taman Fatahillah.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *