Pemerintah DKI Jakarta Tingkatkan Pergelaran Wayang

Jakarta |
Frekuensi pergelaran wayang akan ditingkatkan tahun 2018 mendatang, baik pergelaran di Museum Wayang maupun di tengah masyarakat di 5 wilayah kota administrasi Jakarta.

Demikian diungkapkan Sumardi SSos, Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang, Museum Seni, Jakarta, Minggu (29/10), saat membuka pergelaran wayang orang di Museum Wayang.

Pergelaran tersebut oleh Sanggar Pangruwatan yang dipimpin Sri Sulansih dengan cerita Ngreni, dari Babad Jenggolo-Doho atau Singosari-Kediri. Bertindak sebagai Sutradara, Teguh Aprianto alias Kenthus Barata.

Di depan sekitar 150 an pengunjung museum, yang berlokasi di Kota Tua itu lebih lanjut Sumardi mengatakan tahun 2017 ini dipogramkan 40 kali pergelaran wayang di Museum Wayang dan 6 kali di tengah masyarakat.

“Untuk tahun 2018 diprogramkan meningkat menjadi 50 kali pergelaran di museum dan 10 kali di permukiman warga masyarakat,” ujarnya.

Guna mengihdupkan suasana keakraban, Sumardi yang sering dipanggil Sumardi Dalang membuat kuis. Ada 3 orang yang maju dan menjawab dengan benar yang diberi cinderamata payung dan baju kaos bercap Museum Seni.

Dua pengunjung diantaranya wisatawan dari Kebumen bernama Syaikun dan dari Tangerang bernama Deny. Syaikun (40 an) di kampungnya memang penggemar wayang. “Bapak saya seniman, nayaga seperti mereka,” tutur Syaikun sambil menunjuk para penabuh gamelan.

Banyak juga wisatawan mancanegara yang berkulit putih antusias menonton wayang wong dengan cerita Panji tersebut. Antara lain wisatawan bule dari Ubud, Bali, bersama isterinya yang pribumi dan seorang anaknya usia lima tahunan.

Seorang wisatawan dari Polandia bernama Bogus Zmuda (59) mengungkapkan dia mengerti cerita wayang itu. Namun sayang jam menunjukkan pukul 11.25 Wib, mengharuskan dia siap ke Bandara Soekarno Hatta agar tak terlambat boarding ke pesawat. “Saya mau ke Tanah Toraja. Kemarin dari Bali dan Yogya,” tuturnya dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Mengapa sefasih itu padahal tak pernah tinggal di Indonesia sebelumnya? “Saya sejak umur 8 tahun sudah bilang Mama, saya mau ke negeri ini,” tutur Bogus sambil memperagakan peta dunia menunjuk Indonesia. Sejak itu ia mulai belajar mengetahui segala sesuatu tentang Indonesia, tentu saja termasuk bahasanya Bahasa Indonesia.

Saat yang dinanti tiba tahun ini ia bersama dua temannya keliling Indonesia selama 23 hari. “Dari Makasar nanti kami mau ke Papua,” tambahnya bangga.

Di Polandia ia tinggal di Lubun, kota sekitar 165 km sebelah tenggara ibukota negaranya, Warsawa. Bendera Polandia sama dengan Indonesia, tapi dibalik yang atas putih dan yang merah di bawah.

Adegan Punakawan bercanda ria yang mengundang tawa sudah lewat. Namun masih banyak penonton yang mengikuti adegan demi adegan cerita tersebut.

Adegan Singobrojonoto berhadap dengan dua lawannya Singolodro dan Singobarong berlanjut dengan endingnya bertemunya Dian Anggaini dengan Panji Asmorobangun.

Menurut Sumardi peningkatan frekuensi pergelaran wayang selain untuk apresiasi masyarakat dan pelestarian serta pengembangan seni pewayangan tersebut, juga untuk hiburan mayarakat.

Wayang Indonesia sudah diakui sebagai seni budaya warisan dunia oleh UNESCO pada 7 November 2003. Untuk itu Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) mengusulkan agar tanggal 7 November ditetapkan sebagai Hari Wayang Nasional.

Karena itu kini digalakkan dukungan untuk itu dengan berbagai upaya, termasuk peningkatsn frekuensi dan mutu pergelaran wayang. Baik itu wayang kulit, wayang beber, waysng golek, ataupun wayang orang.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Keterangan Foto:
1. Pengunjung Museum Wayang sedang menontong pagelaran wayang orang (kiri atas). Bogus Zmuda, wisatawan dan penulis berasal dari Polandia, berpose bersama Redaktur Restorasi News (kanan bawah).
2. Suasana pentas wayang orang berjudul “Ngreni” oleh Sanggar Pangruwatan (kiri bawah). Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang Sumardi bersama salah seorang pengunjung (kanan atas).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: