Museum Sejarah Jakarta Kisahkan Kepahlawanan Diponegoro, Cut Nyak Dien dan Untung Suropati

Jakarta |
Museum Sejarah Jakarta di Taman Fatahilah Nomor 1 Kota Tua Jakarta bukan hanya menyimpan sejarah kota Jakarta sejak bernama Sunda Kalapa saja, melainkan menjadi situs sejarah nasional bahkan internasional yang masih utuh.

Dahulunya gedung ini bernama Batavia Stadhuis atau Balaikota Batavia  yang dibangun tahun 1707-1710. Namun hingga berumur 309 tahun, gedung indah itu masih terawat baik dengan dikunjungi wisatawan dengan rata-rata 2.378 orang per hari, sudah termasuk wisatawan mancanegara 85 orang per hari. 

Menurut Kepala Subbag Tata Usaha Museum Kesejarahan Jakarta H Namin SSos, pengunjung Museum Sejarah Jakarta pada Minggu (8/12), mencapai 5.545 orang termasuk 113 orang wisatawan mancanegara, antara lain China, Jepang, Inggris, Taiwan, India, dan Belanda. 

Sementara Kepala Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta Dra Sri Kusumawati mengakui tingginya minat wisatawan untuk berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta. “Lokasinya strategis , karena Kota Tua ini mudah dijangkau berbagai moda angkutan umum,” kata Sri Kusumawati yang akrab disapa Bu Atiek. 

Banyaknya pengunjung tersebut membuat tenaga pemandu wisata, tenaga keamanan maupun kebersihan juga harus mencukupi. “Kami selalu mengingatkan pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan,” kata Kusumawati, Minggu (8/12). 

Gedung museum dibangun bertingkat dengan lantai atas beralaskan kayu jati. Dilantai tersebut terdapat ruang sidang pengadilan di lantai atas dengan koleksi meja hakim, kursi pesakitan dan pedang eksekusi serta dilengkapi ruang penjara bawah tanah.

Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien pernah disidangkan di situ dan ditahan di penjara wanita pada sayap barat bangunan di tahun 1902. 

Di tempat itulah pada periode sebelumnya yaitu tahun 1830 Pangeran Diponegoro bersama belasan pengikutnya ditawan selama 26 hari, sejak 8 April sampai 3 Mei 1830 sebelum diasingkan Manado kemudian ke Makassar. 

Untuk memasuki museum ini jika melalui pintu barat dapat terlihat papan petunjuk Ruang Diponegoro. Melalui pintu penjara wanita sampai ke ruang tunggu yang dilengkapi layar LED cukup lebar. Di situ ada belasan kursi tunggu sambil dapat menyimak informasi mengenai sejarah perjuangan Diponegoro sampai dijebak di Magelang dan akhirnya sampai ditahan di Batavia.

Pengunjung juga disajikan benda-benda memorabilia yang menjadi koleksi museum, dengan dilengkapi narator Peter Carey, seorang sejarawan asal Inggris yang sudah melakukan penelitian tentang sejarah Diponegoro.

Untuk menuju Ruang Diponegoro kita harus ganti alas kaki yang disediakan museum, baru kemudian naik tangga lengkung ke atas. “Tadinya ada 20 pasang sandal, kini tinggal 15 pasang,” tutur pramuwisata lelaki di ruang itu.

Penyebabnya hilangnya sandal-sandal tersebut diduga karena pengunjung lupa menukar atau mengembalikan sandal milik museum, hal itu dibuktikan dari adanya sandal dan sepatu pengunjung yang tertinggal di ruang tunggu museum.

Di ruang ini pertama, yang pengunjung dimanjakan dengan lukisan penjebakan Pangeran Diponegoro di kantor Residen Magelang karya Raden Saleh. Kepala para petinggi Belanda dibuat lebih besar yang bermakna sifat angkara yang bukan manusia sewajarnya.

Masuk ke kamar Diponegoro ada ranjang besi beralas tikar bertabur bunga melati dan berkelambu putih. Di dekatnya ada meja kursi, payung kebesaran, tombak serta kurungan burung. 

Ada juga lukisan Diponegoro bersorban dan jubah dengan keris di pinggang. Di dekatnya ada jendela terbuka dengan pemandangan bangunan Museum Wayang, Cafe Batavia dengan kanopi hijau, dan di sebelah kanannya terdapat Gedoeng Jasindo. 

Dilihat dari sketsa kuno karya Jan Bit yang dipajang di situ, ternyata view tersebut masih tampak sama persis sewaktu Pangeran Diponegoro ditahan di kamar tersebut. Namun saat  itu 2 bangunan di sebelah kiri belum dijadikan museum.

Natalia wisatawan dari Pulau Lembata, Flores mencoba menghayati dan mengomentari pemandangan fenomenal tersebut. “Wow asyik,” ujarnya singkat.

Lain lagi dengan Jiji Riyandi wisatawan dari Bali yang lebih mengamati gambar kapal yang digunakan Pemerintah Kolonial Belanda mengangkut Diponegoro dan pengikutnya dari pelabuhan Semarang ke Batavia. Ia juga mengamati kapal yang mengangkut Diponegoro dari Batavia ke arah Surabaya , Maluku, dan Manado hingga akhirnya sampai Makasar. 

Akhirnya Pangeran Diponegoro wafat dalam pengasingan Belanda di Benteng Fort Rotterdam Makasar pada 8 Januari 1855 di usianya yang ke 70 tahun. 

Presiden Soekarno bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Yamin dan Menteri Penerangan FL Tobing pada 8 Januari 1955 pernah menggelar peringatan 100 tahun wafatnya pahlawan nasional itu di Istana Negara. 

Di ruang tengah Museum Sejarah Jakarta lantai bawah terdapat lukisan cat minyak karya S Sudjojono tahun 1974. Dengan ukuran horisontal 10 meter dikali vertikal 3 meter, lukisan tersebut menggambarkan penyerangan tentara Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram ke Batavia yang sedang dikuasai tentara Gubernur Jendral Jan Pietersoon Coen tahun 1628 dan 1629.

Oleh karena itu, di tahun 2000 an museum ini beberapa kali mengadakan pertunjukan-pertunjukan teatrikal rekonstruksi sejarah. Di antaranya November 1628 penyerangan tentara Mataram, Untung Surapati, dan Sarah Speckx yang bernafaskan ‘cinta terlarang’. 

Koleksi yang menarik Museum Sejarah Jakarta antara lain patung Dewa Hermes asli yang pernah  hilang dari Jembatan Harmoni akhir tahun 1990 an, arca Ganesha setinggi sekitar 55 cm yang ditemukan di Warung Buncit Mampang Prapatan Jakarta Selatan tahun 1991, serta sketsel (rana) kayu jati ukiran gaya Barrock dari abad 17 yang pernah dipinjam untuk pameran di London belasan tahun silam.

Ada lagi mimbar masjid dari daerah Bandengan Jakarta Barat terbuat dari kayu jati berukir gaya campuran beberapa suku bangsa yang ada di Batavia pada abad 18. 

Ada juga yang membuat bulu kuduk berdiri, yaitu prasasti Pecah Kulit yang menceritakan seorang keturunan Jerman bernama Pieter Eberveld bersama bangsawan pribumi yang hendak melawan Belanda pada abad 18.

Eberveld dihukum pecah kulit, yaitu dengan cara tangan dan kakinya diikat, kemudian tubuhnya ditarik paksa dengan kuda ke arah yang berlawanan, sehingga mengakibatkan korban tewas dengan mengenaskan.

Saat ini Museum Sejarah Jakarta terus memperbaiki pelayanan dan fasilitas yang dibutuhkan. Seperti aksesibilitas bagi kaum difabel telah disediakan oleh pengelola di tiap tangga pintu-pintu masuk maupun keluar.

“Fasilitas di Ruang Diponegoro juga akan dibikin lebih baik lagi,” tutur Hendra Handoyo, Kepala Satlak Sarana dan Prasarana Museum Kesejarahan Jakarta, akhir pekan lalu. 

Saat memasuki pekan kedua bulan Desember, musim liburan sekolah sedang dimulai. Baik Sri Kusumawati maupun H Namin memprediksi jumlah pengunjung akan meningkat tajam. Bila bulan November lalu mencapai 58.700 lebih termasuk hampir 2.200 wisatawan mancanegara, maka  diperkirakan bulan Desember bisa mencapai 2 kali lebih.

Hal itu didasarkan jumlah pengunjung liburan sekolah Juni 2019 yang mencapai 127.600 orang wisatawan lebih, termasuk 2.400 lebih wisatawan mancanegara.

Berita: Pri | Foto-foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: