Kawasan Wisata Kalibesar Diharapkan Mampu Sedot 30 Persen Pengunjung Kota Tua

Jakarta |
Kawasan wisata Kalibesar dan cagar budaya Jembatan Kota Intan di Jakarta Barat sudah dibuka untuk umum sejak akhir November 2019.

Sementara Museum Magic Art 3D yang terletak di Jalan Kalibesar Timur, Jakarta Barat sudah memasuki usianya yang setahun pada 7 Desember 2019 lalu.

Karena itu diharapkan kawasan wisata di sebelah barat Taman Fatahillah itu mampu menyedot 30 persen pengunjung Kota Tua yang selama ini terkonsentrasi di sekitar Taman Fatahillah dan museum yang ada.

“Sejak akhir November lalu, kawasan wisata Kalibesar telah dibuat Berita Acara Serah Terima. Cuma dari BPAD belum mengeluarkan SK Pemanfaatan dan pengelolaannya instansi mana yang menanganinya,” kata Norviadi Setio Husodo kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, Minggu (15/12).

Menurut Norviadi, terdapat 2 lorong jalan yang dapat mengakses ke kawasan wisata Kalibesar dari lingkungan Taman Fatahillah, yang juga telah dibuka.

Kedua akses tersebut masing masing adalah Jalan Kalibesar Timur 4 atau Lorong Jayakarta dan Jalan Kalibesar Timur 5, atau Lorong Pekojan tadinya ditutup pagar namun sekarang pagarnya telah dibongkar.

Dengan demikian pengunjung Kota Tua dari Taman Fatahillah akan mudah menjangkau Kawasan Wisata Kalibesar yang relatif tertata dan indah dengan beautifikasi yang telah dilakukan. Bahkan sampai Jembatan Kota Intan, para wisatawan dapat berjalan santai.

Dari pantauan di lapangan, Minggu (15/12) banyak wisatawan yang duduk-duduk menikmati suasana atau dengan bersepeda onthel sewaan di Taman Fatahillah.

Sebagian lagi berjalan ke Kalibesar melalui Lorong Jayakarta dan Lorong Pekojan yang di ujung baratnya banyak pedagang kaki lima (PKL) menjajakan dagangannya.

Sedangkan lainnya dari Lorong Seni  di Jalan Pintu Besar Utara melintasi Gedung Kerta Niaga tembus ke Jalan Kalibesar Timur dan akhirnya tertarik pada Museum Magic Art 3D yang gerbang utamanya berada di Jalan Kalibesar Timur nomor 9 Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat.

Di ruang depan museum kontempoter ini terdapat kursi antik seperti replika singgasana Ratu  Cleopatra dari Mesir kuno. Ornament  tembok depan museum ini juga bergaya Mesir kuno dengan huruf-huruf hieroglif.

“Sekarang ini sudah masuk high season karena musim liburan sekolah yang berlangsung mulai 14 Desember 2019 sampai 5 Januari 2020 mendatang,” kata Ernida Rere Aryani, General Manager (GM) Museum Magic Art 3D.

Saat diwawancara, Ernida sedang menerima tamunya dr Faridar Munaf dari Batu, Malang, Jawa Timur. Keduanya sedang membahas persiapan menjelang reuni Alumni FK Universitas YARSI Jakarta.

Dokter ini mencoba keunikan berfoto dengan beberapa lukisan 3 dimensi koleksi museum ini. Di antaranya dengan sepasang harimau, kerang mutiara raksasa, dan lukisan lukisan ajaib lainnya.

Namun sayangnya tak mencoba berfoto di lantai atas, karena di sana terdapat lukisan tertentu  yang membuat kepala kita terkesan sedang direbus oleh suku bangsa di Afrika dan siap dihidangkan untuk keluarganya. “Maaf di bawah saja,” keluh Faridar yang tampak kelelahan sambil memegangi dua lututnya.

Dari museum milenial ini, pengunjung jika menyusuri pinggir Kalibesar dan menyeberang ke sisi barat  dapat berfoto di depan Toko Merah bangunan peninggalan Gubernur Jendral  Gustaaf Willem Baron van Imhoff di tahun 1740an. Gedung ini pada akhir 1743 sampai 1755 menjadi markas dan asrama Academie de Marine Batavia.

Berjalan santai di tepi Kalibesar berlanjut ke utara dan sampai ke Jembatan Kota Intan. Jembatan jungkat jungkit dari kayu dan besi ini baru saja dikonservasi dengan rehabilitasi bagian yang rusak sejak Agustus yang lalu dengan biaya APBD DKI 2019 senilai Rp 1,8 miliar.

Jembatan ini pertama dibangun VOC tahun 1628. Setelah rusak oleh gempuran tentara Sultan Agung  Mataram dan tentara Kesultanan Banten, tahun 1629 dibangun lagi. Sejarah jembatan unik ini dapat dibaca pada papan informasi di sisi barat bangunan cagar budaya tersebut.

Menurut Norviadi Setio Husodo arkeolog alumnus Universitas Udayana, jembatan ikon Kota Tua Jakarta  ini memiliki kembaran di Amsterdam yaitu Amsteltin Brug.

Sementara Komarudin yang bertugas penjaga fasilitas tersebut mengatakan, tidak banyak warga yang kesitu. “Yang sering datang  hanya para turis dari Kota Tua (Taman Fatahillah-Red) yang datang berkelompok dengan sepeda onthel atau naik sado,” katanya, yang dibenarkan Agus dan Bambang sesama petugas di area tersebut.

Ika Budi seorang pengunjung dari Tebet Jakarta Selatan mengaku datang ke Jembatan Kota Intan karena sejarahnya menarik. “Saya mengantar Latif kemenakan dari Payakumbuh sekalian mau ke Sunda Kelapa,” ungkap Ika.

Memandang perairan Kalibesar dari tengah Jembatan Kota Intan sangat menawan. Airnya bersih,  di kiri kanan terlihat gedung-gedung antik, indah dan sebagian megah dari abad 18 dan 19 sampai awal abad 20. Terlihat angka tahun 1912 di fasad gedung Kerta Niaga.

Penghijauannya berhasil dengan pohon ketapang, kelapa gading, pucuk merah, dan flamboyan ditambah tanaman bunga seperti sokka, kembang sepatu, tapak dara dan andong merah marun.

Ada semacam aksioma jumlah yaitu pengunjung Kota Tua sama dengan 3 kali jumlah pengunjung Museum Sejarah Jakarta. Hari Minggu 15 Desember 2019 lalu tercatat pengunjung museum tersebut 7.300 orang, artinya jumlah pengunjung Kota Tua mencapai 21.900 orang.

Dari jumlah itu diharapkan 30 persen bergeser ke Kawasan Wisata Kalibesar yang  menawarkan lebih banyak keunggulan water  view yang menenangkan pikiran. Tinggal lagi bagaimana pengelolaannya terutama  peran seluruh pemangku kepentingan pada aspek keamanan, kebersihan, dan ketertiban.

Berita: Pri | Foto-Foto: Dok. Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: