Kisah Perahu Lamalera, Jukung Barito dan Kapal Tuban di Museum Bahari

Jakarta |
Laut yang merupakan 70 persen wilayah Republik Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau pulau bukanlah pemisah, sebaliknya justru menjadi pemersatu suku-suku bangsa di seluruh nusantara.

Apa sarananya? adalah perahu berbagai jenis dan fungsi yang hadir sesuai dengan kebutuhan, tingkat pemikiran, teknologi dan filosofi masing-masing suku bangsa yang terus berinteraksi dari jaman ke jaman.

Itulah yang tersaji pada Pameran Perahu Tradisional di Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan Nomor 1 Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara, yang dibuka oleh Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Alberto Ali, Sabtu (23/11), dengan memulai pembuatan Jukung Keruk Suku Asmat, Papua.

Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Husnison Nizar, Minggu (24/11), menegaskan bahwa pameran di buka untuk umum setiap hari hingga 22 Desember 2019, kecuali hari Senin tutup. Tercatat tiap hari lebih 160 orang pengunjung menikmati sajian pameran tersebut.

Berbagai jenis perahu dan kapal tradisional dengan kisahnya tersaji dengan narasi yang jelas sehingga menambah wawasan bagi pengunjung Museum Bahari yang menyimaknya.

Kartum Setiawan, musiolog yang juga Ketua Jelajah Budaya sebagai penyaji pameran ini, Selasa (26/11), menjelaskan perahu dalam masyarakat Lamarela di Pulau Lembata dan Flores serta Nusa Tenggara Timur pada umumnya disebut Peledang.

Masyarakat Lamarela di Pulau Lembata memiliki kisah tersendiri dengan peledang atau perahunya, lengkap dengan harpoon untuk menombak ikan besar dan juru tikam yang disebut Lamaja.

“Perburuan ikan paus dan ikan besar lainnya itu biasanya dilakukan antara bulan Juni sampai Oktober tiap tahun. Sampai saat ini tradisi itu masih dilakukan,” tambah Kartum Setiawan.

Tradisi ini, sambungnya, untuk menjaga keseimbangan ekosistem setempat. Sedang ikan besar yang diburu bisa ikan paus, ikan hiu, dan ikan pari.

“Uniknya sebelum perburuan dilakukan upacara di pantai yang sejak tahun 1886 diisi dengan ritual Katolik hingga menjadi adat masyarakat Lamarela sampai sekarang,” pungkas Ketua Jelajah Budaya itu.

Dirman Surachmat, seorang Arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) yang pada tahun 2014 sampai dengan 2015 pernah meneliti kehidupan nelayan Pangandaran pantai selatan Jawa Barat berbatasan dengan Jawa Tengah.

Dijelaskan oleh Dirman, bahwa pacara sedekah laut yang diadakan para nelayan juga diisi ritual bernafaskan Islam.

“Kepala kerbau yang disembelih dibawa ke laut bukan lagi untuk persembahan melainkan diniatkan untuk umpan ikan,” kata pejabat Kantor Agama Kabupaten Ciamis, yang saat itu masih meliputi Pangandaran.

Ditambahkan oleh Dirman yang pernah menjadi Kepala Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta tahun 1990 an tersebut, bahwa penelitian yang dilakukannya untuk khasanah Museum Bahari Jakarta.

Lain lagi dengan di Maluku, perahu disana disebut Kora-Kora, di Sulawesi Selatan ada kapal Pinisi, Patoran, Pangdewa, Lambo dan Sampan.

Sedangkan masyarakat Mandar Sulawesi Barat nama perahu berubah menjadi Sandeq, Pakur, Lepa-lepa, Jung dan Nade dengan cirinya masing masing.

Bambang Budi Utomo selaku kurator pameran ini menjelaskan keistimewaan Indonesia sampai sekarang masih ada suku laut yang hidupnya tidak penah di darat.

“Orang Suku Laut ini hanya ketika meninggal dunia saja dibawa ke darat untuk dikuburkan,” kata Budi Utomo yang lebih akrab dipanggil Mas Tomy.

Menurutnya, suku laut ini juga disebut Suku Bajo yang terdapat di perairan Kepulauan Riau dan perairan bagian tengah Indonesia. Mereka ini sebagian masih berkepercayaan Animisme dan sebagian lagi Muslim. Sedangkan yang berada di perairan Pulau Bintan sebagian Suku Laut memeluk agama Kristen.

Pada masa Kesultanan Demak kapal kapal buatan Tuban digunakan mengusir armada Portugis dari laut Jawa dan Selat Malaka pada tahun 1511.

Kapal Tuban pembuatannya menggunakan teknologi Madura. Sedangkan di Madura sendiri ada teknologi pembuatan perahu atau kapal dengan menggunakan batang kayu yang bercabang sebagai Cocor.

Nama perahu Madura bermacam macam, ada yang disebut Janggola, Tengkongan, Parao Galate dan Les ales.

Sekitar tahun 1978-1980, di Madura ada 37 sentra pembuatan perahu dan kapal. Namun kini hanya kurang dari 10 sentra pembuatan perahu, yang tersisa diantaranya ada di Sumenep.

Menurut Budi Utomo peneliti dari Arkeologi Nasional itu, pertama peneletian perahu tradisional dilakukan pada perahu Sriwijaya tahun 2004. “Perahu Sriwijaya hampir sama dengan perahu Mataram,” katanya.

Bentuk perahu tradisional Nusantara dapat dilihat pada relief Candi Borobudur di Jawa Tengah pada abad ke 8. Ada 11 bentuk perahu yang umumnya memakai Cadik, sebagai pertanda digunakan mengarungi lautan luas.

Bagaimana dengan perahu lainnya? di perairan Sungai Barito yang mengular dari hulunya di Kalimantan Tengah sampai muaranya di Kalimantan Selatan, perahu di sana disebut Jukung Barito.

Sistem pembuatannya satu batang pohon dikeruk bagian tengahnya. Lalu setelah itu dipanggang bagian bawahnya hingga mengembang.

Terlihat dalam ruang pamer temporer Museum Bahari ada Jukung Barito dari Kayu Ulin, namun lebarnya hanya sekitar 25 cm. “Tapi ini perlu dipanggang, nanti lebarnya bisa dua kali lipat,” kata Maruri, pemandu wisata Museum Bahari kepada pengunjung.

Tidak hanya di perairan Sungai Barito, Jukung Keruk ternyata juga dibuat oleh Suku Asmat di Papua. Menurut Alex dan Nombi (45) dua orang Asmat yang sedang demo membuat Jukung di halaman bekas gudang rempah VOC abad ke 17-18 itu, Jukung dibuat dari Kayu Susu.

Pada umumnya jukung tersebut diukir mirip buaya muara yang banyak terdapat di perairan Papua.

Masih banyak materi pameran yang bercerita mengenai semangat kemaritiman bangsa Indonesia dari jaman ke jaman. Ada minitatur kapal Lancang Kuning dari Kepulauan Riau, kapal Cirebon dan berbagai peralatan galangan kapal masa lalu.

Selain itu juga ada foto dokumentasi Menara Syabandar dengan perahu nelayan, foto Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ketika secara terpisah meninjau daerah Maluku dan Riau dengan naik perahu tradisional tahun 1950 an.

Husnison Nizar menjelaskan Pameran Perahu Tradisional Nusantara ini merupakan pameran temporer yang keempat dan terakhir kalinya selama tahun 2019 ini. “Perahu merupakan kebutuhan utama budaya maritim Indonesia yang sangat kaya ini,” ujar Husnison.

Pengunjung Museum Bahari jumlahnya fluktuatif. Dalam bulan Juli mencapai 3.239 orang. Bulan Agustus turun menjadi 2.619 orang, September 2.488 orang dan Oktober meningkat drastis menjadi 5.558 orang.

Pada Sabtu (23/11) pengunjung museum ini 168 orang termasuk tamu resmi 60 orang. Hari Minggu (24/11) meningkat menjadi 179 orang. “Itu sudah termasuk wisatawan mancanegara 10 orang,” kata Dian, staf Museum Bahari yang saat itu bertugas di hari Minggu.

Diharapkan pameran ini dapat menarik pengunjung untuk menambah wawasan terutama wawasan kebaharian dan potensinya sebagai negara kepulauan yang cukup besar di dunia.

Berita: Pri | Foto-Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: