Menjelajah Blitar, Kota Patria dengan 1000 Candi

Jakarta |
Blitar  sebuah tua di Jawa Timur, bukan hanya tempat Bung Karno Proklamator Kemerdekaaan RI menghabiskan masa remaja dan dimakamkan ketika wafat pada Juni 1970.

Namun kota ini juga memiliki kelebihan lai, yaitu posisinya yang dikelilingi 12 situs percandian Hindu-Buddha dari abad ke 12-14, yang tersebar di beberapa kecamatan.  Maka tak mengherankan bila Blitar dijuluki Kota Patria, sekaligus juga Kota Seribu Candi.

Dengan predikat seperti itu Blitar menarik perhatian Komunitas Jelajah Budaya yang berkedudukan di Jakarta untuk mengunjunginya. Meskipun Februari 2017 ini curah hujannya masih tinggi, tetapi ada saatnya mendung menyibak membuat penduduknya dan para wisatawan  dapat menikmati terangnya hari.

“Kami rombongan Komunitas Jelajah Budaya dari Jakarta bejumlah 28 orang naik KA Gajayana ke Blitar. Di kota ini selama dua hari tanggal 11-12 Februari dengan jadwal yang padat,” ujar Ketua Komunitas Jelajah Budaya (KJB), Kartum Setiawan di Jakarta Jumat (24/2) lalu.

Rombongan menginap di Hotel Tugu di Jl Merdeka hanya 150 meter dari Alun-alun Kota Blitar. Nama terdpat  terdapat lengkapnya Hotel Tugu Lestari yang memiliki kamar khusus yang pernah diinapi Bung Karno dengan keluarga. Kamar lux itu disebut Kamar Putra Sang Fajar, nama lain Sukarno kecil.

Menurut MBah Gudel (72) yang nama aslinya Bambang In Mardiono, warga Gebang Blitar, hotel itu sejak zaman Belanda sudah ada dengan nama Hotel Centrum.

Setelah merdeka ganti nama menjadi Hotel Sri Lestari. Belakangan dibeli pengusaha dari Malang, maka diganti nama lagi menjadi Hotel Tugu Lestari.  

Halamannya dipasang lempengan batu berbentuk bujur sangkar seperti ubin. Di taman depannya ditanam dua pasang pohon pisang manila yang daunnya berderet seperti kipas.

“Presiden Gus Dur, Presiden Megawati maupun Presiden SBY saat berkunjung ke Blitar menginap di Hotel Tugu ini,” tutur Kartum Setiawan yang senang akan sejarah dan budaya itu.

Candi dengan Kompleks Terluas

Setelah mandi dan makan sarapan, rombongan KJB berangkat ke Candi Penataran dengan terlebih dulu singgah di Museum Penataran yang lokasinya di sebelah utara kompleks candi tersebut.

“Kompleks candi Penataran ini merupakan kompleks candi paling luas di Jawa Timur,” ujar Kartum. Bila Candi Singosari di Kabupaten Malang luas arealnya hanya 1.000 m2, maka luas kompleks candi Penataran ini sekitar 5 kali lebih luas.

Keistimewaan situs Penataran ini selain ada bebeberapa candi batu andesit, juga terdapat sisa sisa fondasi candi terbuat dari batu bata merah berukuran besar. Ada bangunan candi yang utuh, namun ada juga candi yang terpancung tanpa ‘mustaka’. Relief di badan candi menuturkan rangkaian cerita tersendiri secara runtut.

Puas menikmati Candi Penataran, rombongan bergerak ke selatan untuk makan siang dilanjutkan ke Museum Bung Karno. Di museum itu pengunjung dapat menyaksikan benda benda koleksi Bung Karno seperti lukisan, keris dan foto-foto bersejarah.

Benda-benda koleksi tersebut menceritakan ketika Bung Karno masih menjadi pelajar di Surabaya dan menjadi mahasiswa di Bandung sampai di pengasingan, hingga jaman revolusi serta zaman kemerdekaan.

Sedangkan di sebelah museum terdapat perpustakaan dengan ribuan buku di antaranya buku buah pikiran Bung Karno.

Yang menonjol adalah patung Bung Karno cukup tinggi dengan posisi sedang duduk bersilang kaki sambil membaca buku. Dari halaman tengah di antara museum dan perpustakaan, ada jalan menuju Makam Bung Karno.

Di sisi kiri ada kolam dan di sebelah kanan terdapat dinding berrelief sejarah bangsa Indonesia periode presiden pertama ini.

Meliwati tangga mendaki dan gerbang berbentuk candi bentar, masuklah kita ke kompleks makam Bung Karno. Terlihat puluhan peziarah bersimpuh memanjatkan doa kepada Allah di depan makam Sang Proklamator tersebut dengan nisan batu besar berjonjot mengkilap. Bila difoto dari arah tertentu maka tampak hasil pantulan batu itu seperti macan.

Keluar dari kompleks makam pengunjung termasuk rombongan KJB diarahkan melalui jalan sempit sampai pertokoan cinderamata dan tempat parkir mobil. Kendaraan mengarah ke Jalan Sultan Agung, dan parkir di halaman Istana Gebang di kavling nomor 59.

Tampak dari kejauhan, patung Ir Sukarno berdiri melambaikan tangan kanannya. Di pedestral patung tersebut bertuliskan kata-kata dalam ejaan Suwandi. “Bung Karno lebih mentjintai rakjatnja daripada dirinja.”

Istana Gebang dan Putra Bung Karno

Di rumah keluarga Bung Karno yang sudah dibeli pemerintah ini banyak koleksi barang fungsional maupun foto yang berkaitan dengan presiden pertama RI tersebut. Antara lain sepeda kuno, mobil sedan, dan foto keluarga. Di kamar tidur tengah tampak foto keluarga Bung Karno.

Bambang In Mardiono atau  Mbah Gudel sebagai pramuwisata senior dan penjaga Istana Gebang menjelaskan, kamar itu biasa digunakan Presiden Soekarno dan keluarga menginap bila sedang berada di Blitar.

Di  ruang keluarga terdapat foto Bung Karno sedang sungkem kepada Ibundanya, serta foto saat upacara kenegaraan pada pemakaman Bung Karno di Blitar tahun 1970. Ada lukisan Presiden Soekarno diapit foto kedua orang tuanya.

Menurut Mbah Gudel, pada 20 November 2016 yang lalu, Totok Suryawan (50), putra Bung Karno dengan ibu Kartini Manopo mengunjungi Istana Gebang dan foto di depan lukisan tersebut. “Mas Totok ini kedatangannya untuk mendeklrasikan bedirinya Yayasan Soekarno Putra Nusantara,” kata mBah Gudel.  

Dari Istana Gebang rombongan KJB pergi ke Candi Sawentar di Kecamatan Kanigoro sebelah selatan Blitar. Di dalam Kitab Negarakertagama, Candi Sawentar disebut juga Lwa Wentar. Diduga candi ini didirikan pada awal berdirinya Kerajaan Majapahit akhir abad ke 13. 

Candi  terbuat dari batu andesit ini berukuran panjang 9,53 m, lebar 6,86 m dan tingginya 10,65 m. Pintu masuk menuju bilik berada di sebelah barat. Di dalam ruangan bilik ada  arca  burung garuda, yang dikenal sebagai kendaraan Dewa Wisnu.

Di sekitar candi ada bekas fondasi bangunan yang terbuat dari batu bata  merah. Ini merupakan cirri peninggalan Majapahit. Pengunjung kemudian dipandu berkeliling sambil menuruni bagian tanah yang legok.

Hari kedua giliran Candi Simping  menjadi obyek perhatian rombongan KJB. Candi ini berada di desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Blitar. Karena itu bangunan kuno tersebut juga dinamai Candi Sumberjati yang kondisinya berupa reruntuhan yang cukup sulit untuk direkostruksi.

Menurut naskah Negarakertagama candi Simping ini tempat persemayaman abu jenazah Raden Wijaya pendiri kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1293 -1309 Masehi.

Sebenarnya masih ada 9 candi lagi di seputar Kota Blitar, namun cukup tiga itu yang perlu dikunjungi saat ini. Perlu diketahui dari 36 lokasi percandian di Jawa Timur, 12 candi di antaranya berada di Blitar.

Dari Candi Simping rombongan KJB menjelajah Kampung Coklat yang dilanjut ke stasiun Blitar untuk kembali ke Jakarta dengan KA Gajayana sekitar ba’da Ashar.

Stasiun ini termasuk kuno juga karena belum ada elevasi peronnya. Tertulis di papan nama Blitar +167 M yang berarti ketinggian stasiun ini berada pada 167 meter di atas permukaan laut (DPL).

“Trip ke Blitar ini sangat menyenangkan. Sebab telah membuka wawasan kami lebih luas tentang sejarah dan budaya. Termasuk tahu rumah Bung Karno waktu kecil sampai tempat makam beliau,” ungkap Liza Angelina selaku anggota KJB dari  Jakarta.

Ia sempat berbelanja oleh-oleh berbagai macam coklat. Liza begitu terkesan berwisata di kebun kakao dan menyaksikan sendiri pengolahan biji coklat sampai menjadi makanan dan minuman.

“Candi candinya sangat indah dan eksotik. Begitu pula dengan hotel tempat kami menginap sangat indah, mengingatkan masa silam saat kami berada di sana,” tambah Liza.

Tak boleh dilupakan, perjalanan dari Jakarta ke Blitar dengan kereta api menurut dia merupakan tamasya indah yang nyaman dengan gerbong KA yang masih baru dengan fasilitas AC yang dingin dan toilet yang bersih.  

“KJB memang OK. Betul-betul rame dan seru habis,” ujar gadis ini sambil mengacungkan jempol. 

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *