Museum Surakarta, Kereta Jenazahnya Dibungkus Kain Kuning

Surakarta |
Pemandangan menarik tatkala masuk Kotamadya Surakarta adalah para tukang parkirnya yang berbaju lurik. Di mall, petokoan, lebih lebih di halaman parkir pasar tradisional, semua juru parkir baik lelaki maupun perempuan pasti berbaju lurik.

Ketika mobil kami dari Sragen sampai di depan Museum Kraton Surakarta pun disambut juru parkir lurik. Namun ketika memasuki museum, para pemandu wisata semua berbaju batik, dengan mengenakan blangkon. “Monggo kulo aturi miyos mriki,” ucapnya penuh santun. Artinya, mari silakan lewat di sini.

Mulailah kami memasuki ruang demi ruang yang memajang benda benda cagar budaya bukti sejarah masa Kasunanan Surakarta. Pemandu wisata bernama Sawiyono di luar kepala menjelaskan setiap benda dan diorama yang ada. Juga foto foto raja Surakarta dari Paku Buwono (PB) V sampai PB XII. “Waktu PB I sampai IV belum ada fotonya,” ujar Sawi. Namun di ruangan lain juga banyak terdapat lukisan wajah.

Gedung Sidikara

Menurut sejarah, gedung yang digunakan museum itu dahulunya adalah bangunan kadipaten. Paling depan gedung tersebut pada fasadnya tertulis huruf latin PB X dengan angka tahun 1841-1911. Di bawahnya ada tulisan huruf Jawa yang berbunyi Sidikara. “Jadi gedung itu dulunya untuk tempat penyidikan perkara,” tutur Sawi.

Di gedung sayap kanan, ruang I selain dipajang foto dan lukisan raja, juga ada kursi singgasana Raja. Juga beberapa kursi ukiran zaman PB IV (1788-1820), dan kursi ukir dari Gianyar Bali, serta 2 lemari ukir peninggalan era PB X.

Ruang II berisi beberapa arca perunggu Buddha dan arca batu zaman purbakala dari tokoh Dewa Kuvera dan Dewa Ciwa Mahaguru serta Dewi Durga dan Tara. Sedangkan di Ruang III kita melihat ujud kuda dari kayu lengkap dengan pakaian sebagai tunggangan pengantin lelaki kerajaan.

Ruang berikutnya menggambarkan sepasang pengantin Jawa. Di pintu masuk ada hiasan tebu dan pisang raja dua tandan. “Tebu maksudnya anteping kalbu. Mantapnya hati. Sedang pisang raja maksudnya agar pengantin hidup sejahtera seperti raja,” tutur pemandu wisata.

Yoyok Trihandoko warga Jl Demak, kota Surabaya mengakui bila tanpa penjelasan pemandu wisata, pengunjung museum seperti dirinya tak kan mengerti kandungan yang tersirat dari apa yang dilihat.

Demikian pula Utomo (71) dan cucunya, Candra Noviani siswa klas 2 SMA N 1 Sragen, mengakui pentingnya didampingi pemandu wisata yang tahu sejarah koleksi museum itu.

Di ruang V dan VI berisi adegan maupun perlengkapan kesenian rakyat. Seperti wayang kulit, wayang golek, klenengan dan gamelan serta bermacam topeng untuk penari.
Topeng-topeng itu menggambarkan wajah tokoh cerita panji. Di antaranya Panji Inukertapati, Galuh Candrakirana dan Klana.

Kereta Dibungkus Kain

Keluar dari gedung sayap kanan kita dihadapkan pada dua benda besar yang dibungkus kain kuning. Ternyata ketika disingkap isinya kereta kuno. “Itu kereta jenazah atau kereta lelayon Sinuhun PB X. Beliau wafat tahun 1939,” tutur Sawi. Kereta jenazah tesebut diketahui dibuat di Den Haag, negeri Belanda. Sedangkan kereta satunya lagi kereta jenazah Ratu Hemas, putri HB VII, yang juga permaisuri PB X.

Tampak antara gedung sayap kanan dan kiri ada taman yang terdapat pohon.beringin, blimbing buluh, tanaman andong dan hiasan.taman berbagai arca dan lingga yoni lambang kesuburan agama Hindu.

Ruang Sayap Kiri

Di gedung sayap kiri kita masuk dari belakang. Tampak dua kereta keraton dari abad ke 18. Yang satu dinamakan Kyai Grudo buatan VOC tahun 1726. Ini kendaraan PB II yang bertahta 1745-1749 M yang digelari Sunan Kombul.

Kereta satunya lagi bernama Kyai Morosebo tahun 1770 yang dahulu biasa dikendarai PB III bergelar Sunan Suwarga. Dia memerintah cukup lama dari 1749-1788 M.

Di seberang Kyai Morosebo dipajang berbagai senjata yang digunakan dalam Perang Diponegoro melawan pemerintah Hindia Belanda 1825-1830.

Terdapat pistol, gendewa atau busur panah dan anak anak panah dengan sayap dari bulu angsa dan mata panah dari besi beracun. “Mata anak panah itu dinamakan bedhor dalam bahasa Jawa dan terbuat dari tosan aji seperti keris” tutur Sawiyono.

Banyak lagi senjata baik pusaka maupun yang digunakan operasional para prajurit keraton. Diantaranya pedang, keris luk 13, dan tameng bundar milik Paku Buwono X yang dinamai Kyai Santri.

Di ujung ruang sayap kiri ini ada dandang besar replika dandang milik Joko Tarub dan Dewi Nawangwulan. Dandang itu milik keraton Surakarta yang hanya digunakan sewindu (8 tahun) sekali perayaan kebesaran Kasunanan Surakarta.

Selesai menjelajahi museum, pada pintu keluar terdapat souvenir shop yang menjual berbagai cinderamata yang fungsional maupun hiasan ruangan.

Nuansa Jawa kental sekali semua koleksi museum ini. Di taman museum terdapat pohon beringin. Kata pemandu wisata tahun 2005 pernah untuk lokasi uji nyali. “Tetapi sekarang sudah ramai, jadi auranya jauh berkurang,” pungkasnya.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *