Koleksi Mumi Berbagai Gaya Hiasi Museum Jakarta

Jakarta |
Sejak Rabu (1/11) yang lalu, ada koleksi baru di Museum Sejarah Jakarta, Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta. Koleksi tersebut dipajang di hakaman depan museum di atas bunker atau ruang perlindungan bawah tanah.

Koleksi itu bukan benda cagar budaya, tetapi karya seni instalasi berbentuk sosok manusia yang berbalut kain putih seperti mumi yang berdiri dengan berbagai gaya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Sejarah Jakarta Dra Atik Kusumawati, Jumat (3/11), mengatakan karya itu dipamerkan dalam rangka Jakarta Binnale 2017 yang dibuka tanggal 4 November sampai 10 November 2017.

Menurut panitia penyelenggara, acara itu juga diselengarakan di Museun Keramik dan Seni Rupa juga di Mota Tua, selain di Gudang Sarinah Ekosistem, Pancoran, Jakarta Selatan selepas Maghrib.

Dari pengamatan di lapangan, mumi-mumi tersebut menarik perhatian pengunjung museum maupun Kota Tua yang kebetulan berada di lokasi tersebut.

Diantaranya ada yang bergaya mengayunkan pedang, ada yang bertangan buntung sebelah, bahkan tanpa kepala. Kesemua karya itu diberi judul “Jiwa” oleh si empunya karsa.

Melati Suryodarmo sebagai direktur artistik mengangkat konsep “Jiwa” sebagai gagasan artistiknya dan bersama Annissa Gultom, Hendro Wiyanto, Philippe Pirotte, dan Vít Havránek sebagai kurator. Mereka akan menampilkan karya-karya dari 51 seniman dari berbagai negara.

Mengenai Museum Sejarah Jakarta, Atik Kusumawati sebagai pimpinan menjelaskan banyak yang baru pada museum itu. “Hari biasa pengunjungnya tiap hari antara 1.000 sampai 3.000 orang wisatawan. Tetapi bila hari libur atau Minggu sehari mencapai 5.000 bahkan lebih,” ujar Atik yang sarjana Sinologi itu.

Koleksi Museum Sejarah Jakarta antara lain prasasti Batu Tulis dari Bogor, benda purbakala dari pinggiran Ciliwung di wilayah Kalibata Jakarta Selatan, pedang eksekusi abad 18, patung Dewa Hermes, dan becak Jakarta yang sudah dinyatakan terlarang sebagai alat angkut manusia sejak tahun 1990.

Menurut catatan sejarah pada tahun 1830-1831, gedung itu pernah menjadi tempat transit Pahlawan Nasioal Pangeran Diponegoro ketika diasingkan oleh pemerintah penjajahan Belanda ke Makasar.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *