Ingat Pasar Kenari, Jangan Lupa Museum Husni Thamrin

Jakarta |
Seorang sopir taksi on line mengeluh, sulit menemukan Museum Mohammad Husni Thamrin.

Namun Abu Galih, pengamat budaya dan pariwisata Jakarta, Sabtu (10/2) menjawab dengan santai. “Asal ingat Pasar Kenari yang terkenal sebagai pusat penjualan peralatan listrik dan pompa air, Museum MH Thamrin ada di belakangnya,” ujarnya.

Tepatnya, museum itu ada di Jalan Kenari II nomor 15. Tidak jauh, hanya sekitar 200 an meter dari Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Masuk Jalan Kenari II, kesan pertama adalah kesibukan kios kios penjual peralatan listrik dan pompa air. Tak lama terlihat di sebelah kanan ada bangunan kuno dengan halaman luas dengan pos penjagaan.

Di halaman itu berdiri patung sosok M Husni Thamrin. Di pintu gedung museum ada sepasang ondel ondel penanda budaya Betawi.

Masuk museum kami disambut petugas yang belakangan diketahui bernama Ayudita dengan keramahan. “Silakan lewat sini dulu jalurnya,” ucap Ayu dengan senyum manis.

Patung dada MH Thamrin tampak ada sebelah kiri. Terlihat sebelah kanan ada sepeda onthel, kendaraan memorabilia M Husni Thamrin.

Ada lagi benda memorabilia lainnya di ruang tersebut yaitu blangkon gaya Solo. Tutup kepala itu pernah dikenakan Husni Thamrin waktu menghadiri Kongres Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia di Surakarta.

Di sampingnya terdapat sederetan foto besar tokoh nasional maupun daerah yang berasal dari budaya Betawi. Di antaranya Ismail Marzuki komponis kelahiran Kwitang, Kecamatan Senen, 14 Mei 1914 yang karyanya cukup abadi, terutama lagu lagu zaman perjuangan.

Ada lagi foto Haji Darip tokoh pejuang daerah Klender yang nama aslinya H Mohammad Arif dan Dr Abdulrahman Saleh kelahiran 1 Juli 1909 dan wafat 29 Juli 1947.

Di bagian tengah ada ruang tamu bergaya budaya Betawi dengan meubelair meja kursi dan almari yang serasi.
Di dekat storage atau gudang terdapat ruang kesenian yang dipenuhi peralatan musik gambang kromong dan tanjidor.

Di luar ruang ini ada diorama yang menggambarkan penggeledahan kamar tidur M Husni Thamrin oleh aparat keamanan kolonial Belanda. Peristiwa itu terjadi beberapa hari sebelum wafatnya M Husni Thamrin 11 Januari 1941.

Dari tempat ini ke arah keluar kita menyaksikan delman dan terakhir kereta jenazah bagi orang orang yang punya kedudukan zaman M Husni Thamrin 1894 – 1941. Sedang delman tersebut merupakan alat transportasi zaman kolonial Belanda dengan rute Pasar Ampiun (Cikini) sampai Gang Kenari.

Masih banyak benda cagar budaya berkaitan dengan kehidupan pribadi anggota Dewan Kota Praja Batavia dan yang kemudian menjadi anggota Volkraad, antara lain pesawat radio kuno, dipan pembaringan dan kursi tamu.

Gedung Bersejarah

Kepala Museum Kesejarahan Jakarta Dra Sri Kusumawati, Senin (12/2) menjelaskan Museum Mohammad Husni Thamrin merupakan museum yang termuda milik Pemprov DKI Jakarta yang diresmikan Gubernur R Suprapto pada 11 Januari 1986.

Sementara museum-museum lainnya sudah diresmikan tahun 1975 sampai 1977.

Bangunan Museum M Husni Thamrin juga merupakan gedung bersejarah. Dibangun awal abad ke 20 dengan arsitektur bergaya Indische gedung itu semula digunakan sebagai gudang buah buahan.

Namun tahun 1929 dibeli oleh Mohammad Husni Thamrin dan digunakan sebagai tempat pendidikan politik pergerakan bangsa bagi para pemuda dan disebut Gedung Permufakatan Indonesia.

Untuk kedua kalinya lagu Indonesia Raya karya komponis Wage Rudolf Supratman diperdengarkan melalui penampilan sebuah orkestra tanpa vokal.

Pertama kali lagu mars kebangsaan Indonesia itu diperdengarkan dengn biola oleh sang komponis 28 Oktober 1928 di Gedung Sumpah Pemuda di Jl Kramat Raya 106, sekitar 500 meter dari Gedung MH Thamrin tersebut.

Tahun 1935 digunakan sebagai tempat Kongres Rakyat Indonesia I. Hadir pimpinan pemuda se Indonesia dan M Husni Thamrin hadir sebagai Ketua Bidang Politik Parindra atau Partai Indonesia Raya.

Diakui Sri Kusumawati Museum M Husni Thamrin di antara 4 museum di bawah pengelolaan UP Museum Kesejarahan Jakarta termasuk paling sedikit pengunjungnya.

Namun tiap tahun meningkat. Tercatat dalam setahun 2015 hanya dikunjungi 937 orang, tahun 2016 menjadi 1.292 orang dan tahun 1.370 orang.

Museum ini mempunyai tugas pokok menampilkan kepahlawanan M Husni Thamrin sebagai Pahlawan Nasional asal Betawi.

Upaya untuk lebih memperkenalkan Museum MH Thamrin dilakukan dengan cara menjemput bola
ke sekolah sekolah, terutama yang letaknya dekat dengan museum tersebut. Juga dilakukan promosi lewat media sosial bekerja sama dengan berbagai komunitas.

Untuk menjangkau Museum Mohammad Husni Thamrin dengan transportasi umum, bila naik KRL dari Jakarta Kota, Bekasi atau Bogor paling praktis turun stasiun Cikini.

Naik taksi on line hanya Rp 15 ribu ongkosnya. Bila naik bus TransJakarta turun di halte UI Salemba. Naik Bajaj BBG ongkosnya paling mahal Rp 15 ribu.

Kalau ke Pasar Kenari jangan lupa ke Museum MH Thamrin. Di sana kita bisa santai sambil merenung belajar sejarah kepahlawanan dan nasionalisme pendahulu kita dengan nuansa Betawi.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *