Cegah LGBT, Perlu Guru atau Model Pria di PAUD atau TK

Jakarta |
Forum Remaja Muslim Malaka Jaya dan Rumah Keluarga Indonesia, Minggu (4/2), menggelar acara ceramah pencegahan tumbuhnya kecenderungan anak laki-laki gemulai yang mengarah ke LGBT (Lesbian, Gay, Bisex dan Transgender) di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK).

Agung Sugiarto SPd, Ketua Yayasan Peduli Sahabat yang lebih dikenal dengan nama pena Kak Sinyo menjadi pengisi ceramah yang dihadiri lebih 100 orang remaja, guru dan orang tua di Masjid  Darul Arqam, Kampung Kembar RW 03 Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Lebih lanjut Sinyo yang sudah sejak 2008 melakukan parenting masalah ini menegaskan, pembelokan sehingga terjadi same sexual attraction (SSA) atau ketertarikan seks sesama jenis terjadi sejak masa balita (bawah usia lima tahun).

Menurutnya, ini terjadi antara lain karena salah mengambil panutan. “Seperti anak balita laki-laki sejak kecil bersama ibunya, pembantunya di rumah dan di TK juga diajar menari oleh guru perempuan yang gemulai. Jadilah si anak itu juga gemulai,” kata Sinyo.

Namun hal itu, sambung Sinyo Egie, dapat ditangkal bila ada ayah atau lelaki ikut membimbing anak tersebut. Makanya di TK atau PAUD perlu secara teratur menghadirkan sosok lelaki yang dijadikan model. “Misalnya tentara atau polisi mengajarkan tari poco-poco yang gagah dan macho untuk anak laki laki,” ujarnya lagi.

Disebutkan oleh Sinyo Egie, ciri-ciri SSA ini dapat dilihat sejak Balita sampai umur 10 tahun. “Menjelang umur 11 tahun mereka akan pandai menutupi atau mengkamlufase diri dari orang lain,” tuturnya.

Beberapa indikasi SSA atau same sexual attraction antara lain gestur tubuh, gaya bicara dan tingkah lakunya berlawanan dengan jenis kelaminnya. “Namun indikasi fisik ini hanya 50 persen, karena ada pula anak yang biseksual, transgender, metroseksual bagi orang dewasa maupun karena kultur setempat,” paparnya.

Dari ratusan kliennya sejak 2008 hingga 2018 ini, lanjut Sinyo Egie, sudah ratusan yang akhirnya kembali ke jalan yang benar sesuai fitrahnya.

Dikisahkan Sinyo, melayani ratusan klien sampai 2015 awalnya dilakukan sendiri secara on line. Namun mulai 2016 hingga sekarang, 20 relawan ikut membantu memberikan edukasi dan bimbingan kepada masyarakat.

“Mereka dengan niatnya yang kuat akhirnya banyak yang kembali kepada fitrahnya menjadi orang yang sesungguhnya laki-laki ataupun perempuan dengan kewajibannya masing masing,” tutur Sinyo lelaki asal Magelang yang juga merupakan pendiri Yayasan Peduli Sahabat.

Selain Sinyo, ada narasumber Herry yang mengkaitkan LGBT dengan kehidupan umat Nabi Luth yang akhirnya dilaknat Allah mati berlimpangan dengan bencana.

Hadir Ketua Remaja Muslim Malaka Jaya Kurniawan dan pengurus Masjid Darul Arqam.

Pembina Remaja Masjid Darul Arqam Mahmud Ansori menjelaskan, atas permintaan masyarakat direncanakan dengan narasumber yang sama akan diselenggarakan lagi kegiatan serupa dengan materi seputar bahaya LGBT.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.