Candi Sumberawan Padat Pengunjung Tiap 1 Muharram atau Syuro

Malang |
Kecamatan Singosari di Kabupaten Malang, Jawa Timur, memang banyak terdapat peninggalan sejarah. Terutama sejarah Kerajaan Singosari dari abad ke 13 sampai zaman kerajaan Majapahit di abad ke 14.

Salahsatu di antaranya adalah Candi Sumberawan, di Desa Toyomarto, sekitar 6 km dari Pasar Singosari, Kelurahan Pagentan atau sekitar 5 km dari Candi Singosari di Kelurahan Candirenggo.

Menjangkau lokasi tersebut dengan mobil amat mudah, karena sudah dibangun jalan konstruksi cor beton dan lahan parkir oleh Perhutani sejak September 2016. Apalagi bila berkendaraan sepeda motor, bisa mencapai areal hutan pinus di sekitar candi tanpa harus jalan kaki.

“Sebelumnya kita harus berjalan kaki atau naik sepeda motor meniti pinggir kali dan sawah,” ujar Hendy Eko, Ketua Komunitas Gerakan Masyarakat Peduli Singosari, di Candi Sumberawan, Rabu (21/2).

Sebelum masuk kawasan wisata Sumberawan, pengunjung beli tiket retribusi Rp 5 ribu per orang. Masuk pintu gerbang tertulis ucapan Selamat Datang. Suasananya mirip bumi perkemahan dengan pohon pohon pinus yang tinggi.

Namun disayangkan, dari sekian fasilitas berfoto selfie belum terlihat rumah pohon dan jalinan tali temali, di mana pengunjung dapat melakukan kegiatan out bond.

Dari arah timur memasuki pintu gerbang Kawasan Cagar Budaya Candi Sumberawan. Di kiri kanan terdapat patung mirip monyet yang sudah berlumut. Namun setelah jika diteliti lebih dalam, banyak yang meyebutkan wajahnya mirip tokoh wayang Togog.

Belok ke kanan di ujung utara, terdapat gardu administrasi yang merupakan kantor Juru Pelihara (Jupel) Rosidah, sekaligus tempat melayani tamu maupun pengunjung. “Luas areal Candi Sumberawan ini sekitar 150 meter x 150 meter,” terang Rosidah.

Juru Pelihara itu kemudian menunjuk candi batu andesit berbentuk bujur sangkar berukuran 6,25 x 6, 25 meter dan tinggi 5,23 meter tanpa pucuk stupa.

Djelaskan Rosidah, candi itu ditemukan reruntuhannya pada tahun 1904 dan dipugar, serta direkonstruksi oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1937. “Kalau Candi Singosari dipugar lebih dahulu, yaitu tahun 1934,” ungkapnya.

Namun selesai pemugarannya tahun 1936 hingga berbentuk sekarang ini, juga tanpa ujung stupa. Candi Sumberawan menurut naskah Negarakertagama dibangun tahun 1359 Masehi ketika kunjungan Raja Hayamwuruk dari Majapahit ke tempat tersebut.

Menurut kitab kuno itu dulu Sumberawan terkenal dengan nama Kasunggaranan. Lokasi candi ini di lereng Gunung Arjuna di ketinggian sekitar 650 meter dari permukaan air laut.

Sebagai perbandingan Kota Malang berada di 444 meter di atas permukaan laut (dpl) dan Kota Singosari sekitar 500 meter diatas permukaan laut (mdpl).

“Batu-batu itu reruntuhan stupa. Sedang batu ini rencananya akan dibuat patung namun belum jadi,” tutur Rosidah dengan fasih sambil memegang batu di sebelah utara candi. Sedangkan di sebelah barat reruntuhan stupa terdapat beberapa batu pendek seperti kursi dan meja untuk persembahan.

Bila kita mengelilingi candi Sumberawan tampak ciri khasnya tanpa ukir ukiran maupun tangga untuk naik. Ketika ditanya mengapa reruntuhan stupa itu tidak direkonstruksi di puncak candi? padahal sudah ada kajian bagaimana bentuknya dahulu. Rosidah sebagai Jupel menjawab dengan mengangkat bahu.

Sementara itu, di sebelah barat laut candi ada pohon bendo yang sudah tua, di bawahnya ada umbul atau sumber air. Terlihat di pinggir umbul itu ada batu yang diukir berwujud kura-kura. Airnya jernih kelihatan muncul dan bergerak dari dasar kolam atau umbul tersebut.

“Pada zaman Majapahit tentara yang terluka dimandikan di sini. Ada dua kemungkinan, langsung sembuh atau langsung mati,” tutur Hendy yang sudah beberapa kali ke tempat bersejarah ini.

Mengenai batu kura-kura itu, Rosidah sebagai staf Dinas Purbakala Provinsi Jawa Timur menjelaskan, ukiran itu tidak asli karena baru dibuat pada tahun 1965.

Dalam areal candi Sumberawan terdapat bermacam pohon dan tanaman hias, antara lain pohon palem, pinus, beringin, bunga gladiol, anggrek tanah dan bunga bakung.

Menurut Rosidah pejabat negara dan pemerintah yang pernah berkunjung ke candi ini antara lain, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Bupati Malang Rendra.

Pada umumnya pengunjung candi ini diperkirakan jumlahnya 2.000 orang dalam waktu sebulan. Sejak awal tahun 2018 hingga tanggal 20 Februari, tercatat sudah ada 977 orang pengunjung.

Petugas loket retribusi Warti menuturkan, Kawasan Wisata Sumberawan diresmikan dan didirikan pada tanggal 8 September 2016 oleh Perhutani dan Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Hutan.

Di depan gerbang tampak Pondok Wisata dengan tebing pada tangga masuknya dihiasi belasan keramik kuno. Sedangkan di sekitar kawasan wisata Sumberawan banyak sumber air yang berlimpah, sesuai dengan nama desanya Toyomarto yang berarti air yang memberikan kehidupan.

Menurut catatan, Sumberawan berasal dari sumber yang banyak bermunculan di rawa-rawa. Kamituwo Desa Sumberawan Abdul Mukmin mengatakan, seperti candi-candi Buddha lainnya, Sumberawan ramai dikunjungi wisatawan tiap 1 Muharram atau Syuro dan tiap peringatan Waisak.

“Seperti Candi Jago di Tumpang, dan Candi Borobudur di Jawa Tengah,” pungkasnya.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *