Peristiwa

Perampokan Bank hingga Intrik Aparat: Potret Kejahatan Batavia Awal Abad ke-20

Jakarta – Memasuki awal abad ke-20, Batavia sebagai ibu kota Hindia Belanda menghadapi lonjakan kejahatan, khususnya aksi perampokan yang semakin sering dan terorganisasi. Situasi keamanan yang memburuk bahkan menjadi sorotan media pada masa itu.

Dilansir portal Dandapala.com, Kamis (16/4), salah satu kasus paling menggemparkan adalah perampokan di De Javasche Bank yang berada di pusat kota Batavia. Dalam aksi nekat tersebut, pelaku berhasil menggondol uang sebesar 110 ribu Gulden, jumlah yang sangat besar pada zamannya.

Pelaku perampokan ternyata bukan orang sembarangan. Mereka adalah kakak beradik asal Belanda, Herman Gentis dan Cornelis Gentis. Aksi dilakukan pada siang hari dengan modus penyamaran menggunakan jenggot palsu dan rambut tiruan.

Keduanya menodong petugas bank dengan pistol sebelum melarikan diri menggunakan delman menuju arah Bogor. Dalam pelariannya, mereka sempat mengganti kendaraan di kawasan Kramat untuk mengelabui pengejaran.

Namun pelarian itu tidak berlangsung lama. Keduanya berhasil ditangkap dan diadili di Raad van Justitie Batavia. Herman dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, sementara Cornelis dihukum 10 tahun penjara.

Sebagai informasi, De Javasche Bank didirikan pada 24 Januari 1828 dan memiliki kewenangan mencetak mata uang Gulden yang beredar di Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka, lembaga ini dinasionalisasi dan bertransformasi menjadi Bank Indonesia.

Di tengah meningkatnya kriminalitas, pemerintah kolonial kemudian menggagas pembentukan sistem kepolisian modern. Namun upaya tersebut tidak serta-merta berhasil. Justru muncul konflik internal antar lembaga penegak hukum, yakni antara marsose (tentara pribumi), kepolisian, dan pemerintah sipil.

Ketegangan ini dipicu oleh perbedaan kepentingan, bahkan diwarnai praktik korupsi. Pada 1915, CJ Boon diangkat sebagai Kepala Komisaris Kepolisian dengan mandat memberantas korupsi dan kejahatan.

“Batavia kota terkorup di seluruh Hindia. Tidak hanya mencakup kepolisian saja, tetapi juga bidang lain,” ujar CJ Boon, sebagaimana dikutip dari buku Batavia Kala Malam karya Margreet E van Till.

Namun langkah reformasi Boon tidak berjalan mulus. Ia menghadapi hambatan dari pejabat pemerintah, termasuk Asisten Residen yang justru menyebarkan isu bahwa meningkatnya kejahatan disebabkan oleh ketidakpastian dalam penyidikan kepolisian.

Di sisi lain, Residen Batavia, JD Hunger, mengkritik keras kinerja kepolisian. Ia menilai aparat tidak profesional dan terlalu lunak terhadap pemimpin lokal, sehingga memperburuk situasi keamanan.

Menurut kajian Margreet E van Till, konflik antar lembaga ini berakar pada ketidakjelasan struktur kekuasaan antara militer, kepolisian, dan pemerintah sipil. Kondisi tersebut menciptakan rivalitas yang justru melemahkan upaya pemberantasan kejahatan.

Lebih jauh, ia mengutip pandangan Greg Bankoff yang menyebut bahwa elite pemerintahan kolonial cenderung mempertahankan keseimbangan kekuasaan antar lembaga untuk menghindari dominasi satu pihak.

“Dalam praktiknya, pemberantasan kejahatan dijalankan dengan prinsip membagi dan menguasai,” tulisnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan keamanan di Batavia pada masa itu bukan semata soal kriminalitas, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika politik dan kelembagaan yang kompleks di tubuh pemerintahan kolonial. (Red/Foto: Ist./Dandapala)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.