Patung Bung Karno Meriahkan Museum Sejarah Jakarta

Jakarta, (Restorasi News)
Sepuluh sosok mirip mumi berdiri di teras Museum Sejarah Jakarta (MSJ) sejak 1 November 2017, telah nenarik perhatian pengunjung Kota Tua, khususnya Taman Fatahillah.

Setelah bungkusnya dibuka Sabtu (4/11) malam, ternyata 10 benda tersebut adalah sosok patung Bung Karno dalam berbagai ekspresi dan gaya, karya Dolorosa Sinaga.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Sejarah Jakarta Dra Sri Kusumawati, Kamis (9/11) mengatakan, tiap hari pengunjung museum ini cukup banyak, 1.000 sampai 3.000 orang pada hari biasa, dan pada hari Minggu atau hari libur mencapai 5.000 orang.

“Bahkan sehari setelah lebaran Idul Fitri tahun 2016 mencapai 13.000 orang sehari,” tambah Khasirun seorang staf Koleksi dan Pemeliharaan MSJ yang mendampingi Sri Kusumawati.

Dengan kehadiran patung-patung yang dipajang itu, menambah ketertarikan pengunjung museum untuk lebih lama bercengkerama dan berfoto bersama sosok patung Sang Proklamator.

Karya seni itu dipajang dalam rangka Jakarta Biennale 2017 yang berlangsung sampai 10 Desember 2017 dengan direktur artistik Melati Suryodarmo yang bertajuk “Jiwa”.

Annissa Gultom, salah seorang kurator menjelaskan, pameran serupa juga dibuka di Museum Seni Rupa dan Keramik tak jauh dari Museum Sejarah Jakarta dan di Gudang Sarinah Jalan Pancoran Timur II nomor 4 Jakarta Selatan. Pada waktu bersamaan, menyuguhkan 51 karya seniman dari berbagai negara.

Terlihat dari 10 patung Bung Karno yang paling favorit diamati oleh pengunjung Kota Tua adalah patung yang di tengah sebelah kanan bila kita menghadap ke museum. Profil wajah dan gesturenya sangat mirip Bung Karno, dengan tangan kanan menepuk dada dan tangan kirinya memegang tongkat komando.

Banyak orang tua dan anak muda berfoto dengan sosok Bung Karno yang satu ini. Tidak ketinggalan wisatawan dari Istanbul, Turki bernama Hasan bersama isterinya Buygu dan anak serta kerabatnya, Selasa (7/11) lalu, menyempatkan foto di depan patung Bung Karno yang menepuk dada tersebut.

Namun beberapa pengunjung berpendapat, satu patung yang di belakang sebelah timur, tidak mengesankan wajah presiden pertama RI yang memerintah selama 21 tahun. Begitu pula patung yang mengekspresikan Bung Karno dengan posisi menunduk terasa kurang pas, terutama bagian kepala dan peci belakang.

Mengenai pengunjung MSJ, menurut Sri Kusumawati memang tahun ini terlihat meningkat. Hal itu karena gedung MSJ yang berdiri sejak tahun 1707 itu baru selesai diperbaiki, termasuk tata letak ruang pamernya. Tercatat pengunjung MSJ tahun 2016 berjumlah 726.885 orang atau rata-rata 60.572 orang per bulan.

Tahun 2017 sampai Oktober mencapai 656.278 orang atau rata-rata 65.627 orang per bulan. Jadi tahun ini pengunjung MSJ meningkat lebih dari 5.000 orang per bulan. Hal itu dibenarkan Kepala TU MSJ, H Namin sambil menunjukkan data pengunjung yang di print out.

Mengenai koleksi MSJ memang cukup banyak, benda benda cagar budaya bukti sejarah Jakarta maupun Indonesia. Baik berupa besi, perunggu, batu, gerabah, keramik maupun prasasti dan mebel kayu jati. Namun dari 3.000 an koleksi MSJ, hanya 500 koleksi saja yang ditampilkan di ruang pameran.

Koleksi unggulan MSJ selain 2 pedang eksekusi sepanjang 1,15 meter dari abad 17, juga sketsel kayu jati gaya Barock dari abad ke 18, serta lukisan kain kanvas berukuran 3 dikali 10 meter karya pelukis S Sudjoyono tahun 1974. Karya itu menggambarkan penyerbuan tentara Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram ke Batavia tahun 1628 dan 1629.

Selain pedang dan lukisan tadi, Patung Dewa Hermes buatan Jerman tahun 1920 yang dipajang di halaman dalam MSJ juga menjadi koleksi favorit bagi pengunjung. Patung Dewa Perniagaan dalam mitos Yunani itu tadinya bertengger di Jembatan Harmoni.

Sekitar pertengahan tahun 1990 an hilang jatuh ke kali dan diamankan DPU Air DKI. Setelah dikonservasi dan dibuat replikanya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, yang asli menjadi koleksi MSJ. Sedang replikanya dipasang di Jembatan Harmoni hingga kini.

Salah satu koleksi meriam bernama “Si Jagur” sejak 2003 menjadi koleksi MSJ dan dipajang di halaman dalam. Namun sejak 2013 meriam buatan Portugis dari abad ke 17 itu dipasang di Taman Fatahilah menghadap ke utara. Menurut sejarah, Meriam dengan pangkal unik ini pernah dikeramatkan olehh masyarakat Jakarta tempo dulu.

Meriam itu tadinya menjaga kota Malaka, dan tahun 1641 direbut VOC Belanda dibawa ke Batavia. Dari ukurannya, meriam ini jauh lebih besar dibanding meriam Belanda kebanyakan pada jamannya.

Teras MSJ tempat patung patung Bung Karno dengan berbagai ekspresi itu, di bawahnya terdapat bunker perlindungan di bawah tanah. Ukurannya panjang 30 meter dan lebar 2,5 meter. Didalamnya juga terdapat pintu masuk di sebelah timur dan barat, namun sekarang ditutup demi menjaga keamanan dan kebersihan lingkungan museum.

Sementara itu, Arkeolog Candrian Attahiyat menyarankan pada jam-jam tertentu lebih baik bunker perlindungan itu dibuka. Dengan demikian pengunjung dapat merasakan bagaimana suasana di dalam ruang bawah tanah ketika perang berkecamuk.

Menurut Candrian, bunker itu dibuat pemerintah penjajah Belanda menjelang Perang Dunia II mulai berkobar di Asia Tenggara sebelum tahun 1942.

Tepat Hari Pahlawan 10 November, kehadiran patung Proklamator Kemerdekaan RI itu terasa pas sekali untuk menggelorakan kembali semangat rela berkorban untuk kejayaan dan kesejahteraan nusa dan bangsa Indonesia.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *