Museum Wayang Direstorasi, Pengunjungnya Tak Menyusut

Jakarta |
Meskipun sedang direstorasi gedungnya dan diperbaiki tata pamernya, Museum Wayang di Kota Tua Jakarta tak menyusut pengunjungnya. Bahkan minat generasi muda terhadap seni wayang dan pedalangan terlihat makin meningkat.

Hal ini diungkapkan Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang Sumardi SSos, Minggu (12/11), dan Kepala Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) DKI Jakarta H Darudjimat di tempat terpisah, Senin (13/11).

Perbaikan atau restorasi Museum Wayang berlangsung sejak 20 Oktober, nyatanya pengunjungnya tetap rata-rata mencapai 600 orang per hari. “Bahkan kalau hari Minggu atau hari libur Nasional bisa mencapai 2500 sampai 5000 orang,” ujar Sumardi di museumnya, Minggu (12/11).

Tampak hari itu ada pergelaran wayang kulit oleh dalang cilik Pradana Dewantara siswa SMPN 168 Cakung dari PEPADI Jakarta Timur dengan lakon Lahirnya Gatotkaca, diteruskan wayang kulit gaya Yogyakarta oleh Ki Agus Sugiharto dari PEPADI Jakarta Utara dengan lakon Petruk Jadi Raja.

“Lihat saja ruang pergelarannya penuh,” kata Sumardi. Benar saja, pantauan langsung Restorasi News, ruang berkapasitas lebih 100 orang itu tampak dipenuh penonton dari berbagai kalangan.

Dua orang siswi SMPN 168 masing-masing Adel dan Imel yang ikut menonton wayang itu menjelaskan, sekolahnya memiliki grup kesenian wayang. Sedang Pradana yang duduk di kelas 3 sebagai dalangnya. Saat itu ada juga pembina Pramuka dari Tangerang yang membawa rombongan Penggalang.

Diungkapkan Sumardi, pada 5 sampai 11 November 2017 yang lalu diselenggarakan Yogyakarta International Heritage Festival dan Pameran Wayang Internasional di Gedung Sono Budoyo, Yogyakarta. Pada kesempatan itu Museum Seni Disparbud DKI Jakarta, termasuk Museum Wayang ikut menjadi peserta.

“Kami mengadakan workshop pembuatan wayang dari karton. Ada lagi yang membuat wayang dari lidi atau sodo. Pesertanya banyak dari anak anak sekokah,” kata Sumardi.

Dalam kegiatan yang dibuka Sekda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ir Gatot Saptadi itu Kepala TU Museum Seni Jakarta Lili Suhaidi memberikan cinderamata kepada Kepala Dinas Kebudayaan DIY.

Mengenai minat anak anak dan remaja terhadap wayang, Darudjimat selaku Ketua PEPADI DKI mengungkapkan Jakarta Timur dan Jakarta Selatan telah memiliki dalang cilik maupun dalang remaja yang dibina oleh Pepadi setempat.

Di Museum Wayang tiap Minggu rutin digelar pertunjukan wayang secara bergantian dari berbagai daerah. Pada 5 November yang lalu tampil dalang Ki Ayang Gotri menggelar wayang kulit Betawi dengan cerita carangan Bambang Permana yang cukup menarik pengunjung museum untuk menonton.

Jadwalnya untuk Minggu 19 dan 26 November mendatang akan menggelar wayang kulit gaya Solo dan Banyumas.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Keterangan foto:
1. Dalang remaja Pradana bertandem dengan dalang senior Ki Agus Suhiharto (kiri atas), dan Penonton wayang kulit gaya yogya (kanan atas).
2. Kasubag TU Museum Seni mewakili DKI memberikan cinderamata kepada Kadis Kebudayaan DIY (kiri bawah), dan Sumardi dari Museum Wayang mengajar membuat wayang karton di Yogya (kanan bawah).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: