Komunitas Jelajah Budaya Karya Wisata ke Situs Trowulan Mojokerto

Mojokerto |
Sebanyak 32 anggota Komunitas Jelajah Budaya (KJB) yang berpusat di Jakarta, selama dua hari 13 dan 14 November 2016 berkarya wisata di situs sejarah Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Selain menikmati keindahan dan keanegaragaman bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit dari abad ke 14 dan 15.

Disamping itu mereka juga menikmati kegiatan ekskavasi atau penggalian serasa para arkeolog yang mencari benda benda bersejarah di situs yang luasnya mencapai 100 Km2.

Ketua KJB Kartum Setiawan, Senin (14/11) mengungkapkan kepada Restorasi News, mereka terdiri dari para karyawan negeri mapun swasta, dosen, maupun pelajar sangat menikmati kegiatan yang berlangsung Sabtu dan Minggu.

“Ini merupakan kegiatan kedua kalinya dari Komunitas Jelajah Budaya. Kesan kami sangat luar biasa dengan peninggalan kejayaan kerajaan Majapahit dengan lingkungan candi-candi yang sudah bagus penataannya,” kata Kartum, yang juga musiolog.

Saat menjadi ‘arkeolog dadakan’ para anggota KJB banyak menemukan benda-benda dari dalam tanah dan dilakukan identifikasi kemudian diregistrasi. “Seperti laiknya arkeolog,” kata Kartum.

Sementara penjelajahan ke situs-situs Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, maupun situs makam Islam Troloyo rombongan dipandu Ibu Ning Suryati dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur.

“Para peserta tidak saja merasakan kemegahan dan jayanya Kerajaan Majapahit, tetapi juga melihat keharmonisan kehidupan beragama di sana pada waktu itu,” kata Kartum.

Hakl itu terbukti dari terpeliharanya makam Islam dari abad 14. Keharmonisan tersebut juga tergambar dari penduduk sekitar Trowulan.

Sarjana sejarah Dra Endang Esti Utami menambahkan, pada zaman Hindu dan Budha kerajaan Singosari dan Majapahit pun sudah ada penduduk yang memeluk agama Islam.

“Mereka juga berdampingan secara damai. Namun tak terceritakan, karena yang dominan ditulis dalam sejarah adalah kerajaannya,” ujar Esti.

Respati Er seorang dosen Universitas Katholik Atmajaya mengungkapkan, tergabung dalam KJB sangat menyenangkan.

Dari kegiatan ini selain mendapatkan pengetahuan tentang kejayaan Majapahit dan melihat sendiri peninggalannya, juga dapat menjalin pertemanan. “Kita telah merasakan menjadi arkeolog bersama-sama,” ujarnya.

Sementara Aisyah dari Humas Kementerian Kominfomas mengakui, sebenarnya ia tidak berminat dengan perkembangan sejarah Nusantara pra-penjajahan. Namun karena merasa nyaman berwisata dengan KJB maka Aisyah memutuskan ikut ke Trowulan.

“Tenyata cara Mas Kartum dan Mbak Ning menjelaskan detail tentang tempat tempat yang kami kunjungi sangat mudah dan tak membuat kami bosan,” ungkap Aisyah.

Rombongan pulang ke Jakarta ada yang naik pesawat terbang, namun banyak di antaranya naik Kereta Api yang berangkat dari Surabaya.

Sesaat sebelum meninggalkan Trowulan, rombongan KJB sempat melihat liat rumah penduduk di sekitar situs sejarah yang sudah direnovasi dengan fasade dibuat mirip rumah zaman Majapahit.

Dengan demikian lingkungan permukiman tersebut mengingatkan kehidupan masa lalu. Peserta juga diberi waktu untuk mengunjungi sentra pembuatan souvenir yang banyak dijual di situs tersebut.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: