Catatan Perjalanan di Kaki Gunung Batukaru
Oleh Ngurah Sigit*
Perjalanan menuju Gunung Batukaru selalu terasa seperti pulang ke pelukan lama yang hangat. Jalan menanjak perlahan, diapit hamparan sawah bertingkat yang hijau mengilau, seakan menyapa setiap langkah dengan kesabaran yang telah berusia ratusan tahun.
Udara di sini tidak hanya sejuk, ia membawa aroma hutan, tanah basah, dan kabut tipis yang bergelayut rendah, menyentuh pucuk pohon.
Di kaki gunung, saya menemukan pohon pule yang kokoh, berdiri seperti penjaga waktu. Akar-akarnya yang besar mencengkeram bumi, seakan mengikat segala cerita yang pernah berlabuh di tempat ini.
Di bawah naungannya, sore itu, saya duduk bersama angin yang bergerak pelan, menyusup di sela rambut, membawa serta bisikan kenangan yang entah dari mana datangnya.
Langit mulai berubah warna dari biru yang jernih menjadi jingga yang teduh. Di kejauhan, suara burung-burung terakhir hari itu terdengar berpamitan. Sementara dari arah desa, samar terdengar nada sebuah lagu lama:
“Rembulan, bawa kami pulang…”
Pulang ke mana?
Ke rumah yang nyata, atau ke masa lalu yang hanya hidup di ingatan?
Ke wajah-wajah yang pernah ada, atau hanya ke rasa damai yang jarang kita temukan di kota?
Mungkin semua jawabannya benar. Mungkin di sinilah letak “pulang” yang sebenarnya bukan alamat, tapi perasaan.
Hutan di sekitar Batukaru seakan mengerti. Ranting dan daun bergoyang lembut, seperti memberi tanda bahwa tak ada yang perlu tergesa-gesa. Senja di sini punya caranya sendiri untuk membuat waktu melambat, membuat hati ingin menetap lebih lama, meski hanya untuk duduk dan mendengar suara alam bernapas.
Saya menutup buku catatan di pangkuan. Beberapa kata sudah tertulis, tapi jauh lebih banyak yang saya simpan di hati. Sore itu, di kaki Gunung Batukaru, saya belajar bahwa perjalanan terbaik bukanlah yang membawa kita jauh, melainkan yang membawa kita pulang entah ke mana, tapi selalu ke tempat di mana jiwa ini merasa damai.
*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan dan Pemerhati Media.

