4 Museum Kesejarahan Dikunjungi 856 Ribu Orang, 96 Persen ke MSJ Kota Tua

Jakarta |
Pengunjung 4 Museum Kesejarahan Jakarta selama tahun 2017 mencapai 856.000 lebih, tepatnya 856.202 orang termasuk wisatawan mancanegara 17.537 orang.

Keempat museum kesejarahan itu masing masing Museum Sejarah Jakarta (MSJ) di Taman Fatahillah, Kota Tua, Museum Taman Prasasti di Tanah Abang 1, Museum Joang 45 di Jl Menteng Raya 31 dan Museum Mohamnad Husni Thamrin di Jalan Kenari II , Jakarta Pusat.

Paling banyak dikunjungi adalah Museum Sejarah Jakarta, yang jumlahnya mencapai 824.043 orang termasuk wisatawan mancanegara (wisman) 17.106 orang.

“Dari keseluruhan jumlah pengunjung, 96 persen datang ke Museum Sejarah Jakarta,” ungkap Kepala Museum Kesejarahan Jakarta Dra Sri Kusumawati, di Jakarta, Minggu (14/1).

Dibanding tahun 2016 yang lalu, lanjut Sri, pengunjung 4 museum kesejarahan tersebut tahun 2017 meningkat 14 persen  lebih.

Menurutnya, dengan adanya Test Event Asian Games mulai 10 Februari 2018 yang disusul Asian Games XVIII dimulai 18 Agustus mendatang diprediksi pengunjung keempat museum akan meningkat lagi, karena sebagai destinasi wisata budaya dan pendidikan.

Diakui Sri Kusumawati, jumlah koleksi Museum Sejarah Jakarta memang paling banyak dan ada yang menjadi koleksi unggulan. “Diantaranya mimbar masjid Kampung Baru Pekojan dari abad ke 17 yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran unik, meriam koak dari Kesultanan Cirebon dari abad 16 dan maket gereja tua Batavia dari abad 17,” jelas Sri.

Disamping itu ada juga lukisan berukuran 10 meter dikali 3 meter karya pelukis S Sudjojono tahun 1974. Lukisan itu menggambarkan pertempuran tentara Mataram dipimpin Sultan Agung Hanyokrokusumo melawan tentara VOC Belanda pimpinan Jan Pietersoon Coen tahun 1628.

Dikatakan oleh Sri Kusumawati, untuk memudahkan wisatawan di MSJ, bulan Januari ini segera dibuka pintu masuk sebelah barat, yang sudah dipersiapkan sejak medio 2017.

“Sementara mengenai acara acara Test Event berkaitan dengan Asian Games XVIII di museum ini, sedang disusun jadwalnya,” jelas Kepala Museum Kesejarahan Jakarta itu.

Pengamat pariwisata dan budaya Jakarta H Abu Galih mengingatkan untuk dapat menikmati dan menyerap informasi berbagai koleksi museum terutama MSJ, sebaiknya jangan pada hari Ahad (Minggu) ataupun hari libur.

Sebab menurutnya, jumlah pengunjungnya akan luar biasa banyak dan bisa mencapai 5.000 sampai 7.000 sehari. “Selama tahun 2017 saja rata rata penunjung MSJ mencapai 2.641 orang perhari,” katanya.

Abu Galih menyarankan, menikmati museum sebaiknya waktu lengang yang relatif sepi. “Jadi kita dapat merasakan suasana kekunoannya,” tuturnya.

Hal itu diakui sendiri oleh Maya, seorang petugas MSJ. Apalagi gedung MSJ yang dibangun tahun 1707 yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, bentuknya masih asli.

Mimbar Masjid dan Maket Gereja

Mengenai mimbar masjid dari kayu jati penuh ukiran itu, Sri Kusumawati menjelaskan tadinya benda itu bagian dari masjid di Kampung Baru, Pekojan, dekat Bandengan Selatan yang dibangun sekitar tahun 1633-1648.

Oleh pengurus masjid tahun 1939, mimbar itu dijual kepada Yayasan Bangsa Belanda Pecinta Budaya yang mendirikan Museum Nasional di Merdeka Barat Jakarta Pusat. “Uangnya untuk merenovasi masjid itu sendiri, yang hingga kini bentuknya masih dipertahankan,” tambah Sri.

Ditambahkan juga oleh Khasirun dari Seksi Koleksi MSJ, menurutnya ukiran mimbar masjid kuno itu campuran gaya Eropa, Arab, Cina dan Melayu. “Jadi unik,” ujarnya.

Masih di ruang yang sama pada sisi barat, ada miniatur gereja kuno yang usianya satu jaman dengan mimbar Masjid Pekojan. Maket yang terbuat dari kayu jati itu tidak disebutkan skalanya, namun bentuk gerejanya berkubah susun dua.

Diketahui maket itu dibuat untuk pembangunan de Oude Hollandse Kerk atau Gereja Belanda Tua tahun 1640, yang lokasinya di Jl Pintu Besar Utara nomor 27, sekarang menjadi Museum Wayang.

Dijelaskan Khasirun, gereja itu sempat mengalami perbaikan tahun 1732, kemudian namanya diganti menjadi de Nieuwe Hollandse Kerk, Gereja Belanda Baru.

Satu lagi koleksi unik MSJ, yaitu meriam koak dari Kesultanan Cirebon dari abad ke 16. “Jadi sebelum jaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC),” jelas Khosirun.

Meriam dari besi ini ukirannya juga unik, moncongnya berbentuk kepala naga namun mirip paruh garuda setengah belalai gajah dilengkapi tatakannya kereta kayu ukiran yang rumit. “Makanya meriam dan keretanya ini disebut Paksi Naga Liman,” tutur Khosirun.

Khasirun juga mengungkapkan, ada 2 meriam serupa di Istana Kasepuhan Cirebon. “Tapi lebih bagus yang ini,” ujarnya berpromosi.

Selain koleksi-koleksi tadi, di MSJ masih banyak koleksi lain yang masih disimpan di storage atau gudang untuk menunggu giliran dipajang di ruang pamer tahun ini. “Di antaranya piring piring perak dari abad ke 17 dan 18,” ungkapnya lagi.

Saat ini beberapa siswa SMK jurusan kepariwisataan sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Museum Sejarah Jakarta.

Mereka dari SMKN 13, SMKN 27 dan SMK Angkasa Jakarta Timur serta mahasiswa UIN Ciputat dibimbing guide MSJ Suparto, belajar menjadi pemandu wisata dengan menghafal sejarah tiap tiap koleksi yang dipajang.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.