Warga Antusias Saksikan Gerhana Matahari, PKJ TIM Sediakan 10 Teleskop dan 5800 Kacamata Khusus

Jakarta |
Sebanyak lebih dari 5.000 orang memakai kacamata khusus untuk menyaksikan gerhana matahari di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jalan Cikini Raya Nomor 73, Jakarta Pusat, Kamis (26/12).

Sementara ribuan lainnya antre dan bergantian menggunakan 10  teleskop atau teropong yang juga disediakan oleh pihak PKJ. Dari 5.800 kacamata gerhana berlogo Enjoy Jakarta yang disediakan PKJ-TIM, tinggal tersisa 750 buah.

Demikian dikatakan Kepala Satuan Pelaksana (Kasatlak)  Teknik Pertunjukan dan Publikasi Unit Pengelola PKJ-TIM Eko Wahyu Wibowo, di kantornya, Jumat (27/12). 

“Sisa 750 kacamata gerhana itu nanti akan dibagikan ke 50 sekolah dalam kegiatan penyuluhan astronomi tahun 2020,” jelasnya. Tentunya, sambung Eko, 50 sekolah itu mempunyai kriteria tertentu yang  tersebar di wilayah DKI Jakarta.

Mengenai teleskop yang disediakan untuk meneropong gerhana matahari Kamis 26 Desember kemarin,  Eko menjelaskan ada 10 buah  dengan disiapkan 3 teleskop cadangan.

“Jenisnya dari yang panjang fokusnya 100 sampai 600. Begitu pula  typenya dari type reflaktor, type reflektor dan sistim proyeksinya,” ungkap Eko Wahyu Wibowo.

Warga Duren  Sawit bernama Widosayekti menuturkan, ia bersama kakak kakaknya dari Gelumbang Muara Enim dan Parung Panjang Bogor beserta keluarga sejak Kamis pagi sudah berangkat dari rumah.

“Sejak jam setengah delapan peminat gerhana yang sudah mendaftar secara online antre  untuk mendapat kacamata gerhana  di Gedung Graha Bhakti Budaya TIM,” katanya.

Hal itu dibenarkan Ais Kayisyah Hana siswa SMP Homeschooling Generasi Juara Depok. Sementara antrian peminat  on the spot atau  langsung datang ke TIM  hanya  pendek saja di depan Teater Besar maupun Teater Kecil.

Gerhana mulai pukul 10.42 sampai puncak gerhana pukul 12.36 WIB, saat matahari berbentuk sabit terlihat juga antrian atau kerumunan di tiap teleskop besar yang tersedia.

“Matahari dari Jakarta sini seperti bulan sabit. Ya kita sebut matahari sabit,” kata Widosayekti yang dibenarkan keponakannya Asa Doa Uyi. Kebetulan pamannya bersama keluarga dari Palembang sedang menginap di hotel  Kramat Raya. Ketika ditelpon tak seberapa lama datang di TIM bersama menyaksikan gerhana matahari.

Ketika adzan Dzuhur banyak mereka turun ke basement yang digunakan untuk masjid. Usai solat dzuhur berjamaah dilanjutkan solat gerhana dan ceramah oleh khotib.

Sekitar pukul 13.30 TIM berangsur sepi ditinggalkan pengunjungnya. Sore harinya tentu ramai kembali dengan agenda pertunjukan lainnya. Seperti halnya simulasi gerhana matahari yang disuguhkan di Planetarium siang harinya.

Berita: Pri | Foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: