Sepekan Setelah Kebakaran, Museum Bahari Kembali Dibuka

Jakarta |
Museum Bahari di Penjaringan Jakarta Utara, Selasa (23/1) dibuka kembali, setelah ditutup seminggu akibat mengalami kebakaran pada Selasa (16/1) lalu.

Pembukaan kembali dilakukan oleh Plt Deputy Gubernur DKI Jakarta Bidang Budaya dan Pariwisata Agus Suradika, dengan upacara sederhana di Gedung A yang dibangun tahun 1719.

Tampak hadir Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budiati beserta jajarannya, dan para pecinta museum. Kepala Museum Kebaharian Husnison Nizar, terlihat bergegas ke Balai Kota DKI usai acara pembukaan.

Sementara di museum Bahari, banyak anggota komunitas pecinta museum, fotografer dan wartawan masih bertahan untuk mencari informasi perkembangannya.

Saat gempa bumi terjadi, banyak karyawan dan tamu museum berhamburan ke halaman. Setelah gempa reda, museum kedatangan 8 orang pengunjung pertama untuk melihat-lihat koleksi yang terselamatkan dari kebakaran di Gedung A.

Kepala Museum Kebaharian Husnison Nizar, Rabu (24/1), ketika ditanya mengenai kapan bagian museum yang hangus dan rusak dibangun kembali, menjawab belum ada kepastian. Sebab menurutnya, itu menjadi wewenang Kepala Dinas Parbud DKI.

“Baru terbatas pembicaraan,” ujar Husnison. Dirinya mengungkapkan, hingga saat ini belum ada pertemuan resmi dengan tim ahli bangunan cagar budaya.

Beberapa jam setelah kebakaran padam, Kadisparbud DKI Tinia Budiati memerintahkan dilakukan inventarisasi data dan fakta sehubungan masa rehabilitasi.

Kepala Pusat Konservasi Cagar Budaya Dra Rucky Nellyta menyatakan siap membantu dokumen gambar bangunan museum sesuai aslinya.

Sementara itu Kasatpel Koleksi Museum Bahari Eko Hartoyo menjelaskan koleksi yang hangus dan rusak seluruhnya ada 138 buah. Sedangkan koleksi yang selamat ada 50 buah, termasuk miniatur asli KRI Dewa Ruci dan Kapal Amsterdam yang sekarang disimpan di gedung A.

Eko mengaku sempat mendampingi kepala museum mengantar tamu dari Kedubes AS ke lokasi eks kebakaran.
“Tak sedikit mereka yang menitikkan air mata,” ungkap Eko.

Mengenai pengunjung Museum Bahari, pengamat budaya dan pariwisata Abu Galih memprediksi tahun 2018 akan meningkat lagi.

Selama tahun 2017 pengunjungnya mencapai 35.640 orang, termasuk 4.454 wisatawan mancanegara (wisman). Tercatat Januari 2017 sebanyak 2.949 orang termasuk 239 wisman. Paling banyak bulan Desember 4.478 orang.

Selama Januari 2018 ini sampai Senin (22/1) pengunjungnya 1.746 orang. Saat kebakaran terjadi, ada 21 pengunjung. Sedangkan pada 17 sampai dengan 21 Januari ditutup.

Diharapkan setelah dibuka kembali pengunjung Museum Bahari akan meningkat tajam. Dijelaskan Abu Galih, bagi para pecinta wisata museum untuk menjangkau Museum Bahari tidaklah sulit.

“Bagi pengunjung Taman Fatahilah, Museum Wayang dan Museum Sejarah Jakarta, tinggal naik mikrolet M15, Minibus U-02, atau naik ojek tak sampai 10 menit sampai ke Museum Bahari,” pungkasnya.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.