Pameran Rempah-Rempah Museum Bahari Ungkap Alasan Bangsa Asing Jajah Indonesia 350 Tahun

Jakarta |
Pameran Pasar Rempah-Rempah di Museum Bahari dibuka dengan pengguntingan pita oleh Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI  Paramita Jaya Yiyok Trio Herlambang, bersama Kepala Museum Kebaharian Jakarta Husnison Nizar, Jumat (18/5) sore.

Acara pameran yang berlangsung di museum yang terletak di Jl Pasar Ikan nomor 1, Penjaringan Jakarta Utara itu, dilanjutkan dengan kegiatan buka puasa bersama dan sholat Maghrib.  

Pemandu  pameran dilakukan oleh dua orang kuratornya yang merupakan alumni Universitas Indonesia (UI), yaitu arkeolog Dian Sulistyowati dan sejarawan Noor Fatia Lastika.

Husnison Nizar menjelaskan, bahwa pameran sederhana ini bercerita dari pentingnya rempah rempah bagi kehidupan manusia. Sehingga bangsa Eropa berlayar menjelajah sampai Indonesia bagian timur yang terkenal  sebagai sumber rempah-rempah.

“Akhirnya bangsa Eropa ingin berkuasa di negeri kita sampai 350 tahun,” ujar Kepala Museum Kebaharian Jakarta itu.

Menurutnya, pameran pasar rempah-rempah ini dibuka mulai 18 Mei sampai  13 Juni 2019, dengan tajuk Aroma Masa Silam, Tradisi Wewangian, Citarasa Masa Depan.

Ditegaskan oleh Husnison, jika rempah-rempah tak mungkin lepas dari kehidupan orang Indonesia, terutama soal cita rasa kuliner. Ia mencontoh pada rumah makan Padang, rendang yang terkenal paling nikmat di seluruh dunia. Bumbunya terbuat dari 20 jenis rempah rempah,” tutur pria asal Sumatra Barat ini.

Diungkapkan olehnya, rahasia itu didapat dari rumah makan Padang Sederhana yang membentuk franchise dan memiliki 80 outlet. “Bisa dihitung berapa saja rempah rempah yang dibutuhkan seluruh rumah makan Padang,” sebut Husnison memberikan gambaran prospek rempah dalam bisnis ini.

Sementara Yiyok Trio Herlambang mengakui museum bukan institusi yang stagnan, tetapi harus dinamis  mampu menjadi pusat penghubung seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, sesuai tema Hari Museum Internasional ke  42 ini, bahwa Museum Sebagai Pusar Kebudayaan harus mampu menjadi masa depan tradisi.

“Sejarah rempah rempah ini luar biasa. Sampai ada jalur rempah rempah bangsa Eropa yaitu  Belanda, Inggeris, Portugis dan Spanyol,” kata Ketua AMI DKI Jakarta sambil mengingatkan penjajahan oleh Belanda di Nusantara selama hampir 3 setengah abad hanya penjajahan secara  ekonomi.

Budaya dan tradisi Nusantara tetap kuat bahkan melahirkan semangat satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air Indonesia.

“Kalau ada tamu dari luar negeri jangan diajak ke mall, tetapi ajaklah ke museum,” kata Yiyok yang mengkordinasikan 60 an museum dari 75 Mugalemon (Museum Galeri, dan Monumen) se DKI Jakarta itu.

Selain peringatan International Museum Day, sambung Yiyok, nanti pihaknya juga mengadakan Hari Museum Indonesia 12 Oktober mendatang di Taman Fatahillah Kota Tua.

“Museum sebagai tempat edutainment (tempat pendidikan dan entertainment) akan dinilai pengeloaannya,” tukasnya.  

Usai pengguntingan pita Yiyok Herlambang dan Husnison Nizar yang didampingi Eko Hartoyo selaku panitia dan Ahmad Surya selaku Kasatpel Museum Bahari, selanjutnya bersama para tamu dari komunitas pecinta museum berkeliling ruang pameran di lantai bawah Gedung A.

Ada 8 titik informasi visual dan grafis antara lain Rempah Linimasa Sejarah dengan 4 Jalur Rempah dari bangsa bangsa Eropa ke Maluku abad 15, Museum Bahari sebagai Gudang Rempah Masa Lalu dari Abad 17, sampai Rempah Makanan Super Masa Depan dan Rempah sebagai Seni.

Ada beberapa miniatur kapal pengangkut rempah rempah masa lalu yang mengarungi lautan demi perniagaan ‘brown gold’ tersebut, antara lain kapal model Bugis dari Sulawesi Selatan dan kapal jung Jawa.

Di lokasi pameran, panitia penyelenggara menyediakan brosur yang cantik namun informatif dengan sejarah singkat International Museum Day.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: