Wakili Presiden Jokowi, 3 Menteri Hadiri One Planet Summit 2017 di Paris

Jakarta |
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, bersama dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, dan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, menghadiri pertemuan puncak One Planet Summit yang berlangsung tanggal 12-14 Desember 2017, di Paris, Perancis.

Kehadiran tiga menteri pada agenda yang dihadiri puluhan pemimpin dunia, mewakili Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menghadiri KTT Luar Biasa OKI yang digelar di Istambul, Turki.

Tampak sejumlah tokoh dunia yang hadir, seperti Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, dan Sekjen PBB, António Guterres. Juga hadir tokoh kunci pendukung perubahan iklim, diantaranya pendiri Microsoft Bill Gates, Artis dan mantan Gubernur California Arnold Schwarzenegger, serta Michael Bloomberg.

Dalam pertemuan One Planet Summit 2017, dibahas soal keadaan bumi yang kian kritis dan ancaman perubahan iklim yang kian nyata dihadapi oleh umat manusia di seluruh dunia.

Seluruh negara di dunia termasuk Indonesia, telah melakukan langkah bersejarah dengan melahirkan keputusan bersama perjanjian Paris, yang telah diratifikasi Indonesia dalam bentuk UU sejak dua tahun silam.

Kesadaran bersama setelah perjanjian Paris, diharapkan dapat maju ke langkah lebih konkrit. Termasuk memusatkan perhatian pada dukungan finansial negara dan swasta, agar dapat berinovasi menyesuaikan agenda perubahan iklim.

Dilansir laman menlhk.go.id, Menteri LHK Siti Nurbaya menyebutkan komitmen Indonesia pada perubahan iklim sudah sangat jelas. “Kita juga akan maksimalkan upaya penurunan emisi melalui upaya konservasi keanekaragaman hayati,” ujar Siti Nurbaya, di Paris, Selasa (12/12).

Di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, pemerintah Indonesia terus melakukan aksi nyata memenuhi target penurunan emisi dengan 23 persen bauran energi sektor energi.

“Pemerintah Indonesia juga menghimbau negara maju ikut aktif membantu Indonesia dalam upaya memperkecil efek perubahan iklim,” kata Siti Nurbaya.

Indonesia, sambung Menteri LHK, memiliki ekosistem mangrove atau hutan bakau sebesar 3,1 juta hektare atau 23 persen dari total mangrove di dunia, yang menyumbang oksigen ke dunia.

Pada April 2018 mendatang, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah forum Konferensi Tingkat Tinggi Hutan Hujan di Negara-negara Asia Pasifik (Asia-Pacific Rainforest Summit/APRS).

Kegiatan yang rencananya berlangsung di Yogyakarta tersebut diharapkan mendukung penguatan pengelolaan hutan hujan secara global, sebagai kerangka dasar kegiatan penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi di wilayah Asia Pasifik.

Ditegaskan oleh Menteri LHK Siti Nurbaya, aspek hutan sangat penting dalam pencapaian target National Determination Contribution (NDC) Indonesia. “Karena 17 persen dari target 29 persen penurunan emisi GRK berasal dari sektor kehutanan,” paparnya.

Siti Nurbaya juga menjelaskan, Indonesia menggunakan program Perhutanan Sosial sebagai salah satu aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, karena hutan merupakan tempat bergantung masyarakat sekitar hutan.

“Kami (Indonesia) membangun Perhutanan Sosial, yang bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat, dan konsep kewarganegaraan. Banyak hal yang harus dilakukan dan kami bersyukur bahwa program ini didukung oleh banyak pihak seperti komunitas, aktivis, LSM, dan sektor swasta,’ pungkas Siti Nurbaya.

Berita: Mh | Foto: Istimewa/Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.