Tour History of Jakarta, dari Batavia ke Weltevreden

Oleh Suprihardjo*

BIS pariwisata bertingkat warna biru-putih bertuliskan TransJakarta sedang parkir di halte Jalan Lada, depan Kantor BNI 46, Kota Tua Jakarta.

Mumpung lengang saya naik. Dari jok di tingkat atas bis tersebut terlihat pengunjung Kota Tua menyebar di Taman Fatahillah depan Museum Sejarah Jakarta.

Gedung museum itu merupakan gedung bertingkat berlantai kayu yang dibangun tahun 1707-1710 dahulunya merupakan Balai Kota Batavia, sekaligus sebagai tempat pengadilan yang memiliki penjara bawah tanah.

Museum ini rata-rata tiap hari dikunjungi 1000 orang wisatawan yang dapat melihat koleksi pedang eksekusi milik pengadilan pemerintah penjajahan masa lalu.

Di sebelah barat tampak Museum Wayang dengan hiasan tokoh Gatot Kaca di depan pintu masuknya.

Gedung dengan Garis Sempadan Bangunan (GSB) Nol itu sebelumnya adalah Gereja Kota Batavia Toea pada abad ke 17. Namun bangunan itu hancur karena perang, dan dibangun kembali tahun 1912-1913.

Kemudian tahun 1975 diresmikan sebagai Museum Wayang yang memiliki koleksi 6.000 wayang kulit dan wayang golek atau wayang boneka dari seluruh dunia.

Di dalam museum terdapat taman dengan prasasti berbahasa Belanda dari Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang dibuat sekitar tahun 1620.

Tepat di depan Museum Sejarah seberang Taman Fatahillah ada Gedung Jasindo. Di depannya ada meriam Portugis dari abad 17 dengan pangkal berbentuk kepalan tangan ‘porno’. Meriam yang pernah dikeramatkan ini dikenal dengan sebutan Si Jagur.

Di dekatnya ada Kantor Pos jaman Belanda dan menyeberang ke timur dari Taman Fatahillah berdiri gedung megah dengan 8 pilar besar yang di halamannya banyak pohon Palem Raja.

Itulah Gedung Dewan Kehakiman Hindia Belanda yang dibangun tahun 1866-1870 dengan arsitektur Neo Klasik, yang sejak tahun 1977 dijadikan Museum Seni Rupa dan Keramik.

Ketika menatap Stasiun Jakarta Kota bertahun 1929 dari arah utara, terasa bis mulai bergerak. Tujuannya Lapangan Banteng dan sekitarnya yang dahulu disebut Weltevreden. Lapangan Banteng sendiri awalnya dinamakan Waterloo Plein.

Bis wisata Trans Jakarta menyusuri Jalan Pintu Besar Selatan masuk daerah Glodok dengan banyak bangunan langgam Cina, terus Jalan Hayam Wuruk.

Melihat ke kiri tampak Masjid Jami’ Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk Nomor 8. Bangunan berarsitektur gaya Cina itu didirikan tahun 1786 oleh Tionghoa peranakan. Bis pun meneruskan perjalanan ke arah selatan.

Menoleh ke seberang barat kali di Jalan Gajahmada, tampak Gedung Arsip Nasional yang bertingkat dengan semua kusen pintu dan jendela berwarna merah maroon. Gedung dengan halaman luas itu dahulunya villa dan dibangun tahun 1760 oleh Reiner de Klerk, anggota Dewan Indische.

Antara tahun 1777-1780 bangunan itu menjadi tempat kediaman pimpinan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), dan sejak 1925 menjadi Gedung Arsip.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budiati, sebenarnya di Jalan Gajah Mada Jakarta Barat itu ada 3 bangunan cagar budaya yang masuk dalam SK Gubernur DKI Jakarta nomor 475 yahun 1993.

Namun yang menonjol hanya Gedung Arsip Nasional tersebut karena halamannya luas. Sementara dua bangunan cagar budaya lainnya yaitu gedung SMA Negeri 2 Jakarta dan gedung Candranaya yang berarsitektur Cina. Kedua gedung kurang terlihat karena tenggelam oleh bangunan tinggi di sekitarnya.

Menurut Tinia Budiati, ketiga bangunan itu tetap dilindungi Undang undang Cagar Budaya (UU no 11 tahun 2010) dan tidak boleh dibongkar ataupun dirombak.

Dewa yang Pernah Hilang

Di ujung jalan kembar Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada terlihat Jembatan Harmoni. Jembatan itu dibangun tahun 1905 dihiasi patung Hermes, Dewa Perniagaan pejalan kaki dalam mitos Yunani.

Dua puluhan tahun lalu patung Hermes yang asli terbuat dari perunggu hilang dan sempat menghebohkan.

Ketika ditemukan, langsung diamankan dan dibuat replikanya dan dipasang di jembatan tersebut. Sedangkan yang asli dikonservasi, kemudian dipasang di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta.

Setelah bis belok kiri ke Jalan Juanda, terlihat di kanan Istana Negara di seberang kali. Gedung menghadap ke Jalan Veteran itu dibangun dalam pemerintahan Gubernur Jenderal Thomas Stamfford Raffles tahun 1811-1816.

Di sebelah barat Istana Negara itu dulu ada Gedung Harmoni yang terpaksa diratakan dengan tanah untuk pelebaran jalan Majapahit sekitar tahun 1990 an.

Melintas Jalan Pos di seberang kali sebelah kiri kelihatan Gedung Antara berlantai 3 , eks Kantor Penerangan Domei di zaman Jepang dan eks Kantor Berita Aneta pada zaman Hindia Belanda sejak tahun 1924.

Di sebelah kanan ada Kantor Pos dan Giro Pasar Baru di Jalan Pos Nomor 1. Bangunan berarsitektur gaya klasik ini berdiri pada pertengahan abad ke 19.

Belok kanan menatap Gedung Kesenian Pasar Baru yang berarsitektur gaya Corinthian yang dibangun tahun 1821. Kemudian pada 29 Agustus 1945 dipakai tempat sidang pertama kali Komite Nasional Indonesia Pusat.

Gedung ini sempat mengalami pemugaran pada pertengahan dekade 1980 an.

Kemudian Bis wisata kita berbelok kanan lagi dan terakhir parkir di depan Masjid Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini dibangun berbarengan dengan Monumen Nasional (Monas) tahun 1961. Namun peletakan batu pertamanya sudah dilakukan 24 Agustus 1951 oleh Presiden Sukarno.

Masjid bertingkat 5 yang berkapasitas 120.000 orang jamaah itu dirancang oleh arsitek F Silaban.

Gagasan Bung Karno membangun masjid megah itu untuk membangkitkan semangat bangsa Indonesia yang sebagian besar pemeluk agama Islam untuk memaknai kemerdekaan. Maka masjid itu dinamakan “Istiqlal”, yang artinya Merdeka.

Di samping itu juga menampilkan keseimbangan dengan bangunan di sebelah timurnya, yaitu Gereja Kathedral yang cukup indah dan megah. Gereja ini berarsitektur Neo Gothic dan dibangun tahun 1889-1901.

Benar adanya yang dikatakan Kepala UPK Kota Tua, Norviadi Setio Husodo. Berwisata mengenali bangunan bangunan tua nan indah dan bersejarah di Ibu Kota begitu nyaman dengan naik bis wisata Trans Jakarta yang berangkat dari depan Masjid Istiqlal menuju Kota Tua dan sebaliknya.

*Penulis adalah Redaktur Senior Media Restorasi News 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *