Gunung Agung Menuju Keseimbangan Alam

Oleh Dr. I Ketut S. Lanang P. Perbawa, SH.MHum

GUNUNG Agung merupakan sebuah gunung vulkanik tipe monoconic strato yang tingginya mencapai sekitar 3.142 meter di atas permukaan laut.

Gunung tertinggi di Bali ini termasuk muda dan terakhir meletus pada tahun 1963 setelah mengalami tidur panjang selama 54 tahun.

Sejarah aktivitas Gunung berapi Agung memang tidak terlalu banyak diketahui. Namun sejarah mencatat letusan gunung ini mulai muncul pada tahun 1808. Ketika itu letusan disertai dengan uap dan abu vulkanik terjadi.

Aktivitas gunung ini berlanjut pada tahun 1821, namun tidak ada catatan mengenai hal tersebut. Pada tahun 1843, Gunung Agung kembali meletus yang didahului dengan sejumlah gempa bumi. Letusan ini juga menghasilkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.

Sejak 120 tahun tersebut, baru pada tahun 1963 Gunung Agung meletus kembali dan menghasilkan akibat yang sangat merusak.

Berdasarkan buku yang dikarang Kusumadinata pada tahun 1979 gempa bumi sebelum letusan gunung berapi yang saat ini masih aktif tersebut terjadi pada 16-18 Februari 1963. Gempa tersebut dirasakan dan didengar oleh masyarakat yang hidup di sekitar Gunung Agung.

Letusan Gunung Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800. Diantaranya pada tahun 1808, dalam tahun ini dilontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa.

Kemudian tahun 1821 terjadi letusan normal, selanjutnya tidak ada keterangan. Disusul tahun 1843, letusan didahului oleh gempa bumi. Material yang dimuntahkan yaitu abu, pasir, dan batu apung.

Selanjutnya dalam tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola.

Pada tanggal 18 Pebruari 1963 GUnung Agung kembali memulai letusannya, dan berakhir pada tanggal 27 Januari 1964.Letusan pada tahun tersebut bersifat magnatis. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Pola dan sebaran hasil letusan lampau sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, diantaranya adalah bersifat eksplosif (letusan, dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava.

Aktivitas vulkanik Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, pada Jumat (22/9) pukul 20.30 WITA dinaikkan ke level IV (awas). Kini, warga yang tinggal di dekat gunung tersebut berbondong-bondong untuk mengungsi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, data sementara yang dihimpun Pusdalops BPBD Bali hingga minggu tercatat 15.142 jiwa pengungsi yang tersebar di 125 titik pengungsian.

Menurut Sutopo, sejauh ini pendataan masih dilakukan oleh BPBD dan diperkirakan jumlah pengungsi masih terus bertambah.

Pengungsi yang tersebar di Badung ada 35 jiwa, di Bangli sebanyak 465 jiwa, di Buleleng sebesar 2.423 jiwa di Denpasar ada 343 jiwa dan di Gianyar sebanyak 182 jiwa. Sementara di Karangasem sebesar 7.852 jiwa, Klungkung menerima 3.590 jiwa dan Tabanan memiliki 252 jiwa pengungsi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.