Pentingnya Memastikan Bantuan Kemanusiaan Tepat Sasaran dan Keselamatan Penyelenggara

Jakarta |
Mengamankan akses melalui negosiasi kemanusiaan merupakan salah satu hal yang terpenting dalam upaya bersama mengurangi penderitaan masyarakat terdampak krisis kemanusiaan.

Hal itu diutarakan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi, dalam Konferensi Regional Akses dan Negosiasi Kemanusiaan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (8/3).

Ditegaskan oleh Menlu Retno, pentingnya perlindungan terhadap perempuan dalam situasi krisis, sejalan dengan momentum Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret.

“Krisis kemanusiaan seringkali memberikan dampak paling besar bagi perempuan, untuk itu perlindungan perempuan dalam krisis, terutama konflik, harus menjadi salah satu prioritas upaya penyelenggaraan bantuan kemanusiaan,” ujar Menlu Retno.

Selain itu, sambungnya, perlu dikedepankan aspek pemberdayaan perempuan dalam mendukung upaya penanganan dan pencarian solusi terhadap krisis kemanusiaan.

Menlu Retno menilai, pentingnya forum mengangkat isu perlindungan keamanan aktor-aktor kemanusiaan di wilayah terdampak krisis untuk memastikan terselenggaranya bantuan kemanusiaan yang tepat sasaran.

Disamping itu juga untuk memastikan keselamatan aktor penyelenggara bantuan kemanusiaan yang seringkali menghadapi ancaman.

Menlu Retno juga memaparkan, ada 5 hal yang harus dikedepankan dalam menyampaikan bantuan kemanusiaan, pertama adalah kecepatan pembukaan akses bagi penyaluran bantuan kemanusiaan.

Kedua, fleksibilitas aktor kemanusiaan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. Sedangkan yang ketiga, penghormatan dan implementasi prinsip-prinsip kemanusiaan.

Selanjutnya, penghormatan terhadap kedaulatan negara dan masyarakat terkena dampak. Terakhir, pelibatan elemen masyarakat baik di tingkat internasional maupun masyarakat terkena dampak dalam upaya penyelenggaraan bantuan kemanusiaan.

Sementara itu Boris Michel Direktur Operasi Komite Internasional Palang Merah (IRC) dalam sambutannya menyampaikan, bahwa akses bagi penyaluran bantuan kemanusiaan seringkali menghadapi tantangan.

“Baik akibat kondisi di lingkungan krisis ataupun aktor-aktor berkepentingan di lingkungan krisis, terutama dalam situasi konflik,” ujar Boris dilansir laman kemlu.go.id.

Menurut Boris, peran aktor kemanusiaan untuk melaksanakan negosiasi menjadi elemen penting dalam mendukung dan melindungi penyelenggaraan bantuan kemanusiaan dan perlindungan.

Regional Conference on Humanitarian Access and Negotiation in Asia merupakan konferensi multi-stakeholders yang diselenggarakan Perwakilan Komite Internasional Palang Merah di Indonesia, bekerja sama dengan Humanitarian Forum Indonesia (HFI), Centre of Competence on Humanitarian Negotiation, dan Universitas Paramadina.

Konferensi digelar dengan tujuan sebagai sarana dialog bagi aktor-aktor kemanusiaan dalam membahas tantangan dan pengalaman terbaik (best practices) terkait akses bagi bantuan kemanusiaan.

Pertemuan dilaksanakan dengan menghadirkan lebih dari seratus perwakilan pemerintah, aparatur negara, dan praktisi serta penggiat kemanusiaan di negara-negara di kawasan Asia.

Berita: Mh | Foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *