Pengrajin di FIJI Dapat Pelatihan Pelatihan Ukir Kayu Khas Bali

Jakarta |
Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan pelatihan keterampilan ukir kayu (wood carving training programme) khas Bali untuk para pengrajin ukir kayu di negara Fiji.

Bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan Fiji, pelatihan ini dilaksanakan dalam rangka penguatan kerjasama Selatan-Selatan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Hilman Nugroho, menyampaikan bahwa, program ini merupakan milestone penting, setelah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bidang Kehutanan, antara Menteri LHK Siti Nurbaya, dan Menteri Kehutanan Fiji Naiqamu, pada Bilateral Meeting Indonesia-Fiji, di sela-sela pelaksanaan Third Asia Pasific Rainforest Summit (APRS-3) pada April 2018 silam.

“Kerjasama ini diharapkan dapat memperat persahabatan kedua negara, serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat masing-masing negara,” tutur Hilman mewakili Menteri LHK, saat memberikan sambutan pada pembukaan acara di Nadi, Fiji, Kamis (4/10).

Bagi Indonesia, sambung Hilman, Fiji bukan sekedar seorang sahabat di forum Internasional, namun sudah merupakan saudaraSebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua minggu ini.

Sebagai narasumber, Indonesia menghadirkan 2 ahli ukir dari Bali, yaitu Nyoman Budi Darmawan dan Nyoman Daging, dari gallery ternama di Bali yaitu I Made Ada Gallery di Gianyar.

Dalam pelatihan, para pengukir kayu dapat berbagi pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan mengukir, tanpa meninggalkan identitas budaya masing-masing.

Sementara itu, Permanent Secretary of Forests Kementerian Kehutanan Fiji yang diwakili oleh Semi Dranibaka, Direktur Penelitian dan Pengembangan menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia atas pelaksanaan pelatihan ini, serta keberhasilan penyelenggaraan APRS 3 di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

“Kemitraan Indonesia-Fiji berarti membangun kedekatan yang lebih kuat, dan percaya akan membuka pintu baru, serta menciptakan kesempatan baru dalam sektor kehutanan kedua negara,” ujar Semi Dranibaka.

Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya bermanfaat bagi sektor kehutanan, namun sektor lainnya seperti sektor wisata, kesejahteraan masyarakat yang bergantung kepada hutan, serta meningkatkan skala bisnis dari usaha kecil dan menengah, melalui pemanfaatan hutan secara lestari.

“Di Fiji, kontribusi dari sektor informal kerajinan kayu terhadap pendapatan dari eksport nasional adalah sebesar 10 persen,” jelasnya.

Di akhir sambutannya, Dranibaka berharap agar kemitraan ini terus berlanjut di masa mendatang, dan membuka jalan untuk kerjasama ekonomi, serta pembangunan kapasitas yang lebih kokoh di antara kedua negara.

Berita: Sigit | Foto: Istimewa/Humas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.