Museum Sejarah Jakarta Gelar Pameran Seni Kontempoter Australia, Indonesia, Jepang dan Jerman

Jakarta |
Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua Jakarta, Selasa (7/5) menggelar pameran seni kontemporer karya seniman asal Australia, Indonesia, Jepang dan Jerman.

Pameran ini menghadirkan ragam bentuk karya kontemporer dalam rupa video, instalasi, model, essay, fotografi, hingga teater dan lektur performatif.

Uniknya karya-karya seni tersebut ditampilkan di ruang penjara wanita, yang posisinya berada di bawah penjara itu sendiri.

Selain itu, karya seni juga dipamerkan di penjara bawah tanah dan di ruang pengadilan lantai atas Museum Sejarah Jakarta, yang dahulunya Balai Kota dan gedung pengadilan Batavia pada abad 18-19.

Kepala Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta Dra Sri Kusumawati pada pembukaan tersebut mengatakan, pada kesempatan itu dihadirkan 15 karya seniman dari 4 negara yaitu Australia, Indonesia, Jepang, dan Jerman.

Mereka itu antara lain Irwan Ahmett , Tita Salina, Jorgen Doyle, Adi Priyatna, Jun Kitazawa, Alex Head dilengkapi kehadiran 10 orang jurnalis cilik, Hildan siswa kelas 6 SDN Cilincing 09 dan kawan kawan.

“Kami MSJ menyambut baik keinginan Rujak Center for Urban Studies yang untuk yang kedua kalinya menyelenggarakan pameran di museum-museum yang dikelola Museum Kesejarahan Jakarta,” kata Sri Kusumawati.

Museum yang dimaksudkan selain MSJ juga Museum Taman Prasasti di Tanah Abang I, Museum Joang 45 di Jl Menteng Raya dan Museum MH Thamrin di Jl Kenari II, Jakarta Pusat.

Pameran kali ini akan berlangsung sampai 16 Juni 2019. “Ini dalam rangka memperingati Hari Museum Internasional,” tambah Kusumawati.

Pameran ini berjudul  -2m  Suara-Suara dari (Bawah) Laut

Karya karya yang dipamerkan tersebut dihasilkan dari penelitian yang  dilakukan secara fokus di pesisir Jakarta.

Ketua Rujak Center for Urban Studies Elisa Sutanudjaja mengakui, para seniman sebelum memunculkan karyanya telah meneliti kehidupan di pesisir Teluk Jakarta dengan berjalan kaki selama 11 hari.

“Yaitu dari Kampung Dadap di sisi barat Teluk Jakarta sampai pantai Marunda di Cilincing sebelah timur,” jelasnya.

Hadir pada pembukaan itu pejabat Direktorat PCBM Kemdikbud Dedeh R Sri Handari, Kasi Pengembangan Museum Safei, Kepala UPK Kota Tua Norviadi Setio Husodo dan Sam Nowak, serta mahasiswa S3 Universitas California di Los Angeles, Amerika Serikat.

Selain itu juga tampak hadir Puji Surono dari Bidang Nilai Sejarah dan Permuseuman Disparbud DKI Jakarta yang mewakili Kabidnya, Gumilar Ekalaya.

Pada kesempatan yang sama, juga ditampilkan potret kehidupan masyarakat pesisir Jakarta oleh Teater Jagad. Mulai dari main judi, membuat perahu, pertunjukan wayang kancil, mengangkut cangkang kerang hijau dan rongsokan becak yang sudah dirumponkan, ojek sepeda di gang sempit, juga anak-anak bermain kreatif dari kayu kayu sendok es krim.

Semantara seni instalasi terlihat di ruang penjara wanita dan di ruang bawahnya yang dipasangkan cermin, serta penjara bawah tanah dengan puluhan bola-bola besi bandul narapidana.

Usai pembukaan Sri Kusumawati berkenan bertukar pikiran dengan para aktivis komunitas pecinta museum dan sejarah, Kartum Setiawan dan Asep Khambali.

Museum Sejarah Jakarta yang dibangun tahun 1707-1710 merupakan saksi sejarah Indonesia. Tercatat Pangeran Diponegoro pernah ditahan pada 8 April hingga 3 Mei di tahun 1830, yang kemudian saat ini ruang bagian bawah ruang tahanananya dipakai untuk pameran seni kontemporer.

Selain Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional lainnya yang pernah ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda di gedung itu adalah Kyai Maja, Cut Nyak Dien, dan Untung Surapati.

Berita: Pri | Foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.