KLHK Dukung Pengelolaan Sampah dan RHL di Borobudur

Jakarta |
Pemerintah memprioritaskan pembangunan empat destinasi wisata secara lintas sektor dan terintegrasi. Destinasi pariwisata tersebut meliputi Danau Toba, Candi Borobudur, Labuan Bajo, dan Mandalika.

Kemudian 4 destinasi tersebut dijadikan destinasi wisata super prioritas, dengan melakukan percepatan pembangunan infrastruktur salah satunya di Borobudur yang akan dilaksanakan lintas sektor Kementerian/Lembaga.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya pada Kamis sore (29/8), mengunjungi Kawasan Candi Borobudur untuk melihat infrastruktur, utamanya dalam hal pengelolaan sampah.   

Disamping soal pengelolaan sampah, KLHK juga terlibat dalam dukungan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) berupa pembuatan taman hutan di sekitar kawasan Borobudur.

Seluruh upaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dilakukan di Borobudur, juga akan dilakukan di destinasi wisata super prioritas lainnya.

Dalam hal pengelolaan sampah, KLHK akan membantu Pemerintah Kabupaten Magelang untuk membangun fasilitas penyediaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem control landfill atau sanitary landfill.

Selain TPA, KLHK juga akan menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan sampah seperti alat berat, angkutan, dan sarana pemilahan sampah untuk mencapai penanganan atau pelayanan 100 persen.

Sedangkan di kawasan Borobudur sendiri, KLHK akan membantu untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah kawasan secara mandiri seperti sistem pengumpulan dan daur ulang.

Selain itu, di desa-desa penyangga akan dibantu melakukan pengelolaan sampah. Pengurangan sampah akan terus dikampanyekan melalui pelarangan penggunaan plastik sekali pakai.

Kaitannya dengan RHL, Pembangunan taman hutan akan dilaksanakan penanaman pohon pada lahan seluas 1 hektare (ha) yang berada di sebelah barat Kompleks Candi Borobudur.

Tujuan pembangunan taman hutan tersebut untuk meningkatkan kelestarian situs dan kawasan cagar budaya, dengan mengurangi fluktuasi suhu, kelembaban dan gas berbahaya yang akan mempercepat pelapukan batu struktur candi.

Penataan vegetasi dilakukan dengan pendekatan arkeologis untuk merekonstruksi jenis vegetasi pada masa lalu seperti yang tertera pada panel relief dinding candi.

KLHK telah menyiapkan rancangan teknis penanaman di Kompleks Candi Borobudur yang sudah dikoordinasikan dengan Balai Konservasi Borobudur.

Pohon yang akan ditanam di Taman Hutan ini, meliputi Pohon Bodhi (Ficus religiosa), Nangka (Artocarpus heterophyllus), Sukun (Artocarpus altilis), Pulai (Alstonia scholaris), Tanjung (Mimusops elengi), Mangga (Mangifera spp.), Manggis (Garcinia mangostana), Kepel (Stelechocarpus burahon), dan Nagasari (Mesua ferra).

Saat ini secara bertahap telah ditanam 200 batang meliputi jenis Kepel, Tanjung, Pulai dan Nagasari dari 400 batang yang direncanakan, dengan menggunakan media taman aquasorb atau butiran gel yang berfungsi untuk mengikat dan menyimpan air.

Kawasan konservasi di sekitar Borobudur juga akan dioptimalkan untuk mendukung Borobudur sebagai destinasi pariwisata prioritas. Di Sekitar Borobudur, terdapat kawasan konservasi antara lain Taman Nasional (TN) Gunung Merapi dan TN Gunung Merbabu, serta Taman Wisata Alam (TWA) Telogo Warno Telogo Pengilon di Dieng, dan TWA Guci di Kabupaten Tegal.

Berita: Mh | Foto: Istimewa/Humas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.