Generasi Tumbuh Unggul di Dunia Digital
Oleh Cok Istri Sri Ramaswati, S.H.,M.M*
Dunia digital hari ini bukan lagi sekadar ruang pelengkap kehidupan, melainkan telah menjadi bagian dari denyut nadi peradaban manusia. Dari bangun tidur hingga kembali terlelap, generasi muda kita bersentuhan dengan teknologi digital: media sosial, gim daring, kecerdasan buatan, hingga transaksi digital.
Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, muncul pertanyaan besar: apakah generasi muda kita hanya akan menjadi penonton, atau justru tumbuh unggul sebagai penggerak perubahan?
Fondasi Literasi Digital
Untuk menjadi generasi unggul di dunia digital, kemampuan teknis saja tidak cukup. Literasi digital harus dipahami sebagai kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, memahami etika, serta bertanggung jawab di ruang maya.
Survei nasional tentang literasi digital menunjukkan masih banyak pengguna muda yang mudah terjebak dalam arus hoaks, ujaran kebencian, dan kecanduan media sosial. Ini pertanda bahwa kita perlu menanamkan kemampuan literasi digital secara menyeluruh bukan sekadar tahu cara menggunakan gawai, tetapi juga tahu cara menggunakan akal dan hati di dunia maya.
Karakter dan Etika di Era Siber
Teknologi hanya akan membawa kemajuan jika disertai karakter dan etika. Dunia maya sering kali menggoda ego dan emosi; maka pengendalian diri, empati, dan integritas menjadi nilai penting. Generasi unggul digital adalah mereka yang mampu tetap beretika meski berada di ruang tanpa batas.
Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab kolektif membentuk digital citizenship warga digital yang cerdas dan beradab. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti di ruang kelas; ia harus hidup dalam setiap klik, unggahan, dan komentar.
Kreativitas dan Daya Saing
Era digital membuka ruang tanpa batas bagi kreativitas. Generasi muda kini bisa menciptakan karya, membangun usaha, bahkan berkontribusi untuk bangsa hanya bermodalkan ide dan koneksi internet. Namun, kreativitas perlu diarahkan agar tidak sekadar mengikuti tren, melainkan melahirkan inovasi yang memberi nilai tambah.
Pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta perlu bersinergi memperkuat kapasitas digital generasi muda melalui pelatihan, inkubasi wirausaha digital, dan kebijakan yang mendorong inovasi. Dengan begitu, teknologi menjadi sarana pemberdayaan, bukan sekadar hiburan.
Menjadi Penggerak Peradaban Digital
Generasi unggul digital bukan hanya pengguna teknologi, melainkan pencipta makna di balik teknologi itu sendiri. Mereka memahami bahwa kemajuan digital harus berjalan seiring dengan kemanusiaan dan moralitas.
Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi unggul digital generasi yang cakap teknologi, berpikir kritis, namun tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan. Mereka bukan sekadar melek digital, tetapi juga berbudi digital: memanfaatkan teknologi untuk membangun, bukan merusak; untuk menyebarkan kebaikan, bukan kebencian.
Di era ketika batas antara dunia nyata dan maya semakin tipis, keunggulan tidak lagi diukur dari siapa yang paling cepat memiliki gawai, tetapi siapa yang paling bijak menggunakannya. Maka, mari kita tumbuhkan generasi muda yang bukan hanya siap menghadapi masa depan digital, tetapi juga siap memimpin dan memanusiakan dunia digital itu sendiri.
*Penulis adalah Ketua Yayasan Mahasaraswati.
Discover more from sandimerahputih.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

