FORSIMEMA-RI Rilis Kaos Atribut Resmi, Simbol Integritas dan Kolaborasi Media di Lingkungan Peradilan
Jakarta – Semangat kebersamaan dan profesionalisme insan pers yang meliput dunia peradilan kembali ditegaskan melalui langkah baru dari Forum Silaturahmi Media Mahkamah Agung Republik Indonesia (FORSIMEMA-RI).
Organisasi tersebut secara resmi merilis kaos atribut keanggotaan yang diperuntukkan bagi seluruh anggotanya di berbagai satuan kerja peradilan di Indonesia.
Selain dilengkapi Kartu Tanda Anggota (KTA), para anggota FORSIMEMA-RI kini juga memiliki atribut berupa kaos resmi yang akan dikenakan saat menjalankan tugas jurnalistik di lingkungan peradilan, khususnya di wilayah kerja Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI).
Ketua FORSIMEMA-RI, Syamsul Bahri, menjelaskan bahwa kaos tersebut didesain dengan warna dasar putih yang dipadukan dengan logo organisasi di bagian dada serta lengan berwarna hijau tua. Desain ini dilengkapi slogan yang menggambarkan semangat keterbukaan, integritas, dan profesionalisme media.
“Kaos atribut keanggotaan yang kami rilis memadukan integritas sebagai fondasi moral dengan kolaborasi sebagai mesin penggerak. Ini merupakan rumus tepat untuk membangun kepercayaan publik, khususnya di wilayah kerja Mahkamah Agung dan peradilan,” ujar Syamsul kepada awak media, Sabtu (7/3).
Makna Slogan Integritas dan Kolaborasi
Syamsul menjelaskan, kaos tersebut menampilkan slogan “Integritas Oke, Sinergitas dan Kolaborasi Media Yess” yang sarat makna bagi profesi jurnalis.
Menurutnya, tulisan “Integritas Oke” menegaskan bahwa kejujuran, etika, serta keselarasan antara perkataan dan perbuatan merupakan prinsip utama dalam menjalankan tugas jurnalistik.
“Tanpa integritas, informasi yang disampaikan tidak akan memiliki bobot dan nilai bagi publik,” tuturnya.
Sementara itu, frasa “Sinergitas dan Kolaborasi Media Yess” menggambarkan pentingnya sikap inklusif antara media dan berbagai pihak, termasuk lembaga peradilan.
“Media bukan sekadar penyampai pesan, melainkan mitra strategis untuk menciptakan dampak yang lebih luas dan positif bagi masyarakat,” tambahnya.
Media sebagai Jembatan Informasi Publik
Syamsul menegaskan bahwa sinergi antara media dan lembaga peradilan memiliki peran penting dalam membangun komunikasi publik yang sehat.
Ia menyebut terdapat beberapa unsur penting yang menjadi dasar kolaborasi tersebut, yakni Manfaat bagi organisasi, dalam memperkuat transparansi informasi, Media: sebagai jembatan informasi, yang menyampaikan berita akurat dan edukatif kepada masyarakat, Sinergitas: untuk menghindari miskomunikasi dan memperkuat narasi positif, dan Integritas: guna memastikan kerja sama tetap objektif dan profesional.
Ia menambahkan, kehadiran kaos atribut ini juga menjadi simbol persatuan para jurnalis yang secara khusus meliput perkembangan dunia peradilan di Indonesia.
“Media sebagai sosial kontrol juga menjadi mitra penjaga marwah peradilan agar tetap berjalan dengan baik, jujur, adil, dan transparan sesuai harapan masyarakat,” tegasnya.
Tantangan Media di Era Digital
Dalam kesempatan tersebut, Syamsul juga menyoroti dinamika dunia informasi di era digital saat ini. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat siapa saja dapat menyampaikan informasi, bahkan muncul fenomena citizen journalism di berbagai platform digital.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa wartawan profesional tetap memiliki landasan hukum dan kode etik dalam menjalankan tugasnya.
“Kami wartawan bekerja di bawah undang-undang dan tetap menjadi bagian dari pilar demokrasi,” katanya.
Ia juga menilai bahwa meskipun banyak instansi pemerintah memiliki media internal untuk menyampaikan informasi, media massa eksternal tetap memiliki peran penting karena jangkauan publiknya lebih luas.
“Media internal mungkin menjangkau kalangan tertentu saja, sementara media massa dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas,” jelasnya.
Pentingnya Harmonisasi Media dan Humas
Syamsul menekankan bahwa di lingkungan peradilan, harmonisasi antara media dan bagian hubungan masyarakat (humas) sangat penting agar berbagai program lembaga dapat tersampaikan secara efektif kepada masyarakat.
Ia bahkan menyinggung berbagai program yang terus digaungkan oleh Ketua Mahkamah Agung, Sunarto.
“Harus ada harmonisasi dan komunikasi yang solid antara media dan humas. Program apa pun yang didengungkan pimpinan Mahkamah Agung akan sulit mencapai harapan publik jika tidak didukung komunikasi yang baik,” pungkasnya.
Dengan peluncuran kaos atribut ini, FORSIMEMA-RI berharap semangat integritas, sinergi, dan kolaborasi media semakin kuat dalam mendukung transparansi informasi serta menjaga kepercayaan publik terhadap dunia peradilan Indonesia. (Red/Gate 13/Foto: Ist.)

