Gempa Bumi 7 SR di Lombok, Berdampak Hingga ke Bali

Denpasar |
Gempa bumi dengan berkekuatan 7 skala Richter yang terpusat di Lombok Timur, NTB, Minggu (5/8), berdampak kerusakan terhadap sejumlah gedung dan bangunan di beberapa wilayah di Bali.

Sejumlah bangunan diantaranya Matahari Duta Plaza di Jalan Sudirman Denpasar mengalami kerusakan pada bagian atap.

Beberapa kendaraan diantaranya mobil dan sepeda motor yang terparkir di pusat perbelanjaan tersebut tertimpa genteng yang berjatuhan.

Kerusakan juga terjadi dibeberapa wilayah, diantaranya Kabupaten Badung, Buleleng dan Bangli.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali saat ini tengah mendata apabila ada korban termasuk kerusakan bangunan lebih lanjut.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bali menyebutkan hingga saat ini sejumlah rumah warga termasuk tempat ibadah mengalami kerusakan di antaranya di Kecamatan Klungkung, Dawan, Nusa Penida dan Banjarangkan di Kabupaten Klungkung.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan bahwa petugas BPBD sedang melakukan evakuasi, penyisiran dan pendataan bangunan serta korban jiwa yang terdampak.

“Gempa susulan masih berlangsung namun dengan intensitas lebih kecil,” ujar Dutopo dalam keterangannya, Minggu (6/8).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa berkekuatan 7 SR berpusat di darat pada kedalaman 15 km, sekitar 18 km barat laut Lombok Timur NTB dengan magnitudo 7 skala Richter dan gempa susulan 5,6 skala Richter.

Sementara itu Pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, menyebutkan operasional di bandara setempat berjalan normal pascagempa.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Arie Ahsanurrohim menyebutkan, landasan pacu, taxiway dan apron pesawat tidak mengalami kerusakan.

Menurut Arie, pihaknya sudah dilakukan pengecekan selama di kawasan udara untuk memastikan kehandalan fasilitas penerbangan tersebut dan dipastikan aman untuk penerbangan.

Disebutkan oleh Arie, petugas operasional di lapangan juga melakukan pemeriksaan struktur bangunan terminal secara keseluruhan. Namun ada beberapa kerusakan minor seperti beberapa plafon di gedung terminal yang runtuh karena guncangan yang terasa kuat.

“Kami akan melakukan perbaikan secepatnya kurang dari 24 jam karena tidak terkait struktur bangunan,” ujarnya di Denpasar, Minggu (5/8).

Kepala Bidang Humas itu menrinci, tidak ada korban jiwa atau luka yang ditimbulkan akibat lepasnya beberapa plafon di beberapa sudut gedung terminal bandara.

Sebelumnya BMKG Wilayah III Denpasar mengingatkan masyarakat terkait dengan potensi gelombang tinggi hingga 5 meter di sejumlah destinasi wisata pantai di Bali.

Kepala BMKG Wilayah III Denpasar Taufik Gunawan mengatakan, pihaknya sudah keluarkan peringatan dini gelombang tinggi di wilayah perairan Bali sampai NTB hingga 8 Agustus 2018.

Dirinci oleh BMKG, gelombang laut dengan ketinggian diperkirakan 0,5 hingga dua meter berpotensi di Laut Bali, termasuk Pantai Lovina, salah satu objek wisata terkenal di Kabupaten Buleleng.

Selain itu, ketinggian gelombang hingga dua meter juga berpotensi terjadi di Selat Bali bagian utara, tepatnya di penyeberangan Gilimanuk-Ketapang.

Ketinggian gelombang 1-4 meter berpotensi terjadi di Selat Bali bagian selatan, termasuk Tanah Lot, Kabupaten Tabanan, Kuta, dan Jimbaran di Kabupaten Badung.

Gelombang dengan ketinggian hingga empat meter tersebut juga berpotensi terjadi di Selat Badung, tepatnya Sanur dan Tanjung Benoa yang terkenal dengan wisata bahari, di antaranya menyelam, snorkling, dan wisata air lainnya.

Diprediksi sebelumnya, gelombang laut dengan ketinggian 2,5 hingga lima meter berpotensi terjadi di Samudera Hindia selatan Bali hingga NTB, termasuk objek wisata Pantai Uluwatu, Pecatu, dan Nusa Dua.

Disamping mengingatkan gelombang tinggi kepada pelaku pariwisata air, BMKG juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha perairan lainnya untuk memperhatikan risiko tinggi keselamatan pelayaran.

Khusus perahu nelayan atau masyarakat yang ingin melaut, BMKG mengimbau untuk mewaspadai angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan ketinggian gelombang di atas 1,25 meter.

Sedangkan ntuk kapal tongkang BMKG mengimbau mewaspadai angin dengan kecepatan lebih dari 16 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 1,5 meter.

Kapal feri diimbau untuk mewaspadai kecepatan angin lebih dari 21 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 2,5 meter, sedangkan kapal ukuran besar, seperti kapal kargo atau kapal pesiar, untuk mewaspadai kecepatan angin lebih dari 27 knot serta ketinggian gelombang lebih dari empat meter.

Berita: Sigit | Foto: Istimewa/Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: